photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Feel The Nature Through Al Qur’an

#SalamLestari!

Hallo bre,... selamat datang dan kembali nongol lagi di blog gue, kali ini gue mau cuap-cuap capciscus mengenai kegiatan mountaineering yang diadakan oleh para komunitas One Day One Juz atau yang biasa disebut ODOJ. Melanjutkan kegiatan adventure sebelumnya yaitu pendakian Gunung Semeru, kali ini ODOJ Adventure kembali melakukan pendakian Gunung Papandayan.
Kegiatan yang diadakan oleh ODOJ Adventure Bekasi ini mempunyai visi dan misi yang sama seperti pendakian sebelumnya yang digagas oleh ODOJ Area Jawa Timur yaitu tilawah Al Qur’an di puncak gunung.


‘Papandayan’ ya inilah adeventure  pertama mereka ODOJ Bekasi. Kegiatan bertajuk khataman Al Qu’ran di puncak Papandayan ini digagas oleh dewan pengurus area ODOJ Bekasi dengan tema Feel The Nature Through Al Qur’an, dengan peserta yang melibatkan kurang lebih sekitar 90 orang. Sebelumnya awal mula dari acara ini adalah untuk silaturrahmi untuk mempererat para ODOJers di berbagai daerah, yang sebelumnya hanya berkomunikasi via social media. Dengan memiliki hobi yang sama yaitu adventure maka tercetuslah ide sang ketua panitia yaitu Pak Kuntartono untuk membuat acara pendakian -padahal basic beliau sendiri adalah touring- dengan misi membumikan Al Qur’an dimanapun berada.


Pada rangkaian kegiatan ini antara lain mengkhatamkan Al Qur’an secara bersama-sama di puncak Papandayan tepatnya di Tegal Alun, Qiyamullail berjamaah, Games, dan beberapa kegiatan lainnya di Pondok Saladah. 
yang paling gila menurut gue disini adalah ketika pada sesi ta'ruf pada malam api unggun, dimana setiap kelompok menampilkan aksi 'gila' nya, aksi yang gak jelas, haha dari yel-yel nyanyi fals, sampai orasi yang berapi-api namun gak jelas apa yang dibicarakan di orasinya, haha sebut dia saja akh Santo (bukan nama sebenarnya), eh zid itu nama aslinya keleus.*Dzigh!
Okey skip, dari survey yang tanpa data valid para peserta sangat terkesan dengan kegiatan ini, termasuk gue juga, dimana keakraban & kehangatan sangat jelas terjalin disini, walaupun pada sebelumnya tidak pernah bertemu sama sekali, namun karena satu visi & misi semua pecah dalam kekeluargaan. *Tsah!


To be continued....!

Cuapan Bayongbong Cikuray

Ini adalah perjalan ngelayap bin kabur buat gue untuk yang kedua kalinya menuju 'kota diatas awan', begitudah kalo kata orang-orang nyebutnya mah, padahal sih sama aja, yang namanya diatas gunung ya ada awan, it's ok itu gak penting kita bahas, yang pening intinya gue mau cuap-cuap untuk trek gue ke Cikuray via Bayongbong.




Seperti biasa para tukang ngeluyur kayak gue weekend ke gunung adalah menjadi pilihan utama, ya walaupun sebenernya 'tugas kantor' msih bejibun, (anggap aja udah selesai lah..hehe)

22:00 WIB
Kurang lebih jam segituan lah kami beranjak dari terminal Kampung Rambutan, menuju terminal Guntur-Garut, kami memutuskan untuk masuk kedalam terminal mencari bus ketimbang menunggu di pintu keluar yang penumpangnya udeh kek pasar induk, bus yang kamu tumpangi dibanderol Rp. 52.000 ya sedikit lebih mahal sih dibanding hari biasa, tapi tak apalah yang penting bisa naik.

04:36 WIB
Pokoknya jelang subuh kita sudah sampai tujuan kami yaitu Garut, dari situ kami menyewa angkot sampai ke Masjid Al Ikhlas Bayongbong untuk melaksanakan sholat Subuh sembari menunggu agak siang untuk sarapan pagi dan melengkapi logistik, dan dari juga sini sudah bisa terlihat puncak Cikuray dengan gagahnya bercokol dibalik masjid.

Terminal Guntur - Garut,
Ngeksis, biarin muka kucel masih bau iler
05:20 WIB
Usai melaksanakan Sholat Subuh kami mencari sarapan sembari melengkapi logistik, dan rupanya menu sarapan pagi ini kurang bersahabat, sepanjang jalan dari masjid sampai pertigaan simpang jalan menuju papandayan kami tidak menemukan warung yang manjual nasi rames, ahhh sudahlah lontong dan gorengan menjadi alternative-nya.

Halaman Masjid Al Ikhlas,
Menikmati hangat mentari, biar kayak orang bule
08:00 WIB
Okeh setelah semua logistik dan perut sudah terpenuhi, kami berangkat melanjutkan perjalanna menuju desa dimana manjadi pintu masuk jalur Bayongbong (gue lupa nama desanya cuy..hehe ^_^ ), sepanjang perjalanan dari alun-alun Masjid Bayongbong menuju desa jalur pintu masuk Cikuray ternyata sudah disuguhi trek yang lumayan gila menurut gue, jalur yang sepanjang perjalanan nanjak terus dengan jalan yang terjal masih berupa bebatuan, pantas saja mobil angkot yang kami sewa tidak berani mengantarkan menuju desa tujuan kami, sayangnya gak ambil gambar, next dah gue upload videonya.

08:40 WIB
Kami tiba disebuah pabrik pemerahan susu kambing & sapi, dimana tempat inilah tujuan terakhir angkot yang kami sewa untuk mengantarkan menuju pintu masuk jalur pendakian. Mempersiapkan kembali sebelum pendakian, danadan lah, pake sepatu, gaiter, kacamata item, trekking pole, dan jangan lupa pake 'hembodi' biar cakepan dikit, hehe.

POS Awal Menuju Jalur,
Dandan dulu bisa kali sebelum naik  
Perjalan dimulai dari persawahan, yang masih bersahabat lah untuk treking-nya, menikmati aroma alam yang khas dengan pegunungan, perkebunan kol, tomat, cabai, kentang, sepertinya desa ini makmur. Sekitar 20 menitan berjalan jalur bebatuan yang menanjak -pun mulai terlihat, ahhh mungkin ini awal trek kami, dan memang benar, inilah awal menuju pos 1 untuk melakukan registrasi SIMAKSI, sambil mengurus registrasi kami istirahat sejenak menikmati hamparan kebun sayuran hijau khas alami.
Pos 1,
Pendaki Bijak Pasti Lapor SIMAKSI
Trek yang dilalui menuju perjalan POS 2, empuk-empuk gimana gitu dah kalo udah jalan disini, apalagi dengan kondisi tanah agak basah dengan siraman sedikit air, Glek!


Trek Menuju POS 2,
Pemanasan yang sudah panas
Sebenernya gak jauh dari POS 1 menuju POS 2 sekitar 10 menitan berjalan sudah mulai terlihat menuju jalur POS 2, namun sepanjang perjalanan akan sering berjalan dengan trek tanjakan dari POS 1, dan artinya akan lebih sering ngadem juga pastnya.   
Trek Menuju POS 2,
Ngadem sejenak 'Salad Savana'
 
12:00 WIB
Tepat jam 12-an tiba di Pos 2, beristirahat sejenak, melaksanakan Sholat Dzuhur sambil menunggu hujan reda, karena hujan yang lumayan deras membuat kami tertahan lebih lama di pos 2, setelah agak reda sebagian dari kami ada yang melanjutkan perjalanan dengan rain coat-nya karena menyusul yang sudah lebih dahulu berangkat, sementara yang sebagian lagi menunggu sampai hujan reda.

Pos 2,
Awal 'Pendakian Sebenarnya'
Mengawali dari pos 2 inilah kami disuguhi tanjakan yang kece badai untuk jadikan rujukan next ngelayap, jalur yang licin karena siraman air hujan, belasan tanjakan yang sering dijumpai hingga 50°, dari sinilah webbing kami jadi sering digunakan pada trek ini.

Trek via Bayongbong,
Kalian Pasti Akan Kangen Jalurnya
Kalo gue perhatiin sih, ini jalur gak ada bedanya dengan tanjakan seruni & bapa tere-nya gunung Ciremai, 11-12 lah bahkan kayaknya malah lebih sering dan lebih banyak di jalur Bayongbong, yang jelas pokoknnya kayak gitu dah.


Trek via Bayongbong,
Akan Terbiasa Memakai Webbing

Trek via Bayongbong,
Lupakan Jaur Sejenak
Dan perjuangan selama hampir 12 jam perjalanan itu terbayar, semilir angin pagi membangunkan gue, sorot sang fajar agak kemerah-merahan yang gemulai menyapa kami para tukang ngeluyur yang belum sadar bahwa dirumah dengan selimut tebalnya sebenernya lebih enak ketimbang naik gunung, haha.

Puncak Cikuray,
Masih sedikit malu kala sang fajar terbit
Dan dari sinilah harusnya kalian akan merasakan bahwa keangkuhan kalian semakin tak bisa kalian luapkan dan tak bisa kalian tandingi tatkala meihat besarnya bangunan ini menancap kokoh kebumi, dan kau  berdiri diatasnya dengan ungkapan syukur 
Puncak Cikuray,
Dan inilah pancaran sang surya itu
 

11:20 WIB
Menjelang Dzuhur kami beranjak dari puncak Cikuray untuk turun melewati jalur pemancar yang terbilang cukup mudah dibandingkan ketika berangkat melewati jalur Bayongbong yang 'super extrem'. Dan rupanya kami sedikit beruntung karena cuaca juga mendukung, siang yang cerah.


Puncak Cikuray,
Pose Sejenak Sebelum Perjalanan Pulang
Ahhhh rasanya perjalanan ini terlalu cepat buat gue, mendapatkan dengan instant saudara baru, semoga saja tetap terjalin, tanpa memikirkan akan perginya dengan instant. :)


Puncak Cikuray,
Modusnya sih naik gunung
Terimakasih banyak Garut, terimakasih banyak Cikuray, hatur nuhun Bayongbong, kalian banyak mengajarkan kami tentang jalur pendakianmu.

Beberapa Solusi Ketika Tesesat Menjelajah Alam

Menjelajah alam adalah suatu kegiatan yang sangat seru dan penuh manfaat.Berjalan melintasi lebatnya hutan belantara, menyusuri sungai, mendaki gunung, dan memanjat tebing adalah sebuah petualangan yang penuh tantangan dan memicu adrenalin. Memang sangat melelahkan untuk dikerjakan, namun apa yang kita dapatkan pada akhirnya akan sepadan dengan perjuangan yang kita lakukan. Di ujung petualangan nanti, kita akan mendapatkan kenikmatan tak ternilai berupa segarnya udara, asrinya pemandangan, dan suasana menakjubkan yang langka. Rasa puas dan bangga pun akan membuat hati terasa penuh.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan petualangan dalam sebuah penjelajahan alam.Berbagai persiapan dan trik perlu kita upayakan semaksimal mungkin demi kelancaran penjelajahan kita. Alam yang akan kita pilih untuk dijelajah pun tidak bisa sembarangan. Tiap obyek memiliki tantangan dan tingkat kesulitannya masing-masing.Di sini, kita harus bisa memilih obyek mana yang sesuai dengan kemampuan kita agar kita terhindar dari berbagai resiko dan masalah.

Namun kadangkala, masalah tetap datang walaupun kita sudah berusaha menghindarinya. Salah satu masalah yang biasa muncul pada kegiatan penjelajahan alam antara lain adalah tersesat. Wajar saja jika seorang petualang bisa tersesat di dalam hutan atau gunung karena di sana tidak ada papan penunjuk arah seperti di jalan raya di perkotaan. Belum lagi bentuk lingkungan yang cenderung monoton dan tak beraturan berupa pepohonan memang bisa sangat membingungkan.


Walaupun cenderung umum, tersesat adalah masalah yang cukup serius. Berbagai macam resiko seperti kedinginan, kehausan, kelaparan, dan trauma akan siap menyerang kita jika kita tidak segera kembali. Agar terhindar dari berbagai resiko mengerikan tersebut, ada baiknya kita mempelajari langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan jika kita tersesat nantinya. Mari kita simak penjelasan di bawah ini:

S.T.O.P
Ada sebuah panduan yang sudah berlaku secara internasional untuk orang-orang yang tersesat saat hiking, camping, atau trekking.Panduan tersebut dikenal dengan istilah S.T.O.P. yang merupakan singkatan dari Stay Calm, Think, Observe, dan Plan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin:

1. Stay Calm (Tetap Tenang)

Stay Calm berarti Tetap Tenang. Inilah hal pertama yang harus dilakukan saat kita menyadari bahwa kita sudah tersesat. Umumnya orang akan langsung panik jika menyadari bahwa ia telah tersesat. Kepanikan ini akan membuatnya semakin sulit untuk mencari jalan keluar. Jika terus dibiarkan, kepanikan bisa membuat kita mengambil sikap yang salah dan justru merugikan diri sendiri. Sebagai contoh, kepanikan akan membuat kita berjalan semakin tak tentu arah yang berakibat membuat kita tersesat semakin jauh atau menciptakan masalah lain yang lebih buruk lagi. Panik juga bisa membuat kita mudah ketakutan dan putus asa sehingga semangat kita untuk berusaha bertahan hisup akan menurun drastis. Maka dari itu, sebaiknya jangan membuat keputusan atau mengambil tindakanapapun sebelum kita berhasil menguasai emosi kita saat tersesat.


Segera hentikan langkah begitu menyadari bahwa kita telah tersesat.Letakkan semua barang bawaan agar badan terasa ringan.Carilah sebuah pohon yang rindang dan duduklah di bawah agar badan terasa rileks. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan. Lakukan berulang kali dalam tempo yang pelan sampai kita merasa tenang.Jika otak sudah terasa tenang, kita bisa memulai langkah selanjutnya.Jika badan dan pikiran sudah cukup tenang, mencari solusi akan terasa lebih mudah.

2. Think (Berpikir)
 
Langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan saat tersesat setelah kita berhasil menguasai diri adalah Think alias Berpikir.Coba ingat kembali rute mana saja yang sudah kita lewati dan bagaimana caranya kita bisa mencapai titik kita berada saat ini.Pikirkan dimana kita mulai salah langkah tadi.Ingat-ingat kembali apakah ada hal yang cukup unik untuk kita ingat yang bisa dijadikan patokan, misalnya pohon besar yang pernah kita lewati atau danau kecil tempat kita mampir minum tadi.
 
Jika kamu menjelajah alam secara berkelompok dan hanya kamu yang tersesat seorang diri, ingat-ingat kapan terakhir kali kamu berada bersama mereka.Apakah sudah cukup jauh atau belum.Pikirkan berapa lama kira-kira waktu yang mereka perlukan untuk menyadari bahwa kamu sudah tidak ada di tengah-tengah mereka lagi.Selain mengingat-ingat, kita juga perlu memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi mulai saat ini sampai selanjutnya. Adakah orang yang akan segera mencari kita di tengah belantara ini?
 

Pikirkan segala kemungkinan yang ada, dari yang terburuk sampai yang terbaik. Pastikan kita tetap tenang agar pikiran tetap jernih, walaupun saat kita sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jangan langsung menarik kesimpulan dan mengambil sikap sebelum kita berpikir cukup banyak dalam kondisi tenang.

3. Observe (Amati)

Observe atau Amati adalah langkah yang akan kita ambil setelah selesai mengingat dan berpikir. Amati yang dimaksud di sini adalah kita mengamati lingkungan sekitar kita.Sekilas pandang, yang kita lihat tentu hanyalah hamparan pepohonan lebat yang tidak beraturan. Sepintas, semuanya akan tampak sama saja. Tetapi, jika kita bisa bersikap tenang dan mengamati dengan lebih seksama, kita akan menyadari bahwa setiap satu pohon pasti berbeda dengan pohon lainnya.

Dari pengamatan tersebut, mungkin kita bisa mengingat kembali arah mana saja yang baru saja kita lewati. Perhatikan juga keadaan langit, apakah mendung atau cerah. Apakah hujan akan segera turun? Apakah ada binatang buas yang tinggal di sekitar tempat kita berada saat ini?Perhatikan sebanyak mungkin detail yang ada di sekitar kita, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kita jadikan petunjuk.


Selain keadaan lingkungan, amati juga keadaan diri kita sendiri. Misalnya, seberapa lelahnya kah badan kita?Seberapa banyak bekal makanan dan minuman yang masih tersisa? Kemudian amati lagi keadaan di sekitar kita, dapatkan kita mencari sumber makanan dan minuman yang cukup aman dikonsumsi? Adakah tempat yang cukup nyaman dan aman untuk kita beristirahat sementara?
 
4. Plan (Rancana)
 
Setelah cukup banyak berpikir dan mengamati, mungkin kita akan mendapat petunjuk tentang arah mana yang harus kita tuju untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Selanjutnya, kita hanya perlu melakukan Plan atau Rencana. Rencana yang perlu kita buat saat tersesat antara lain jalan dan arah mana yang akan kita tuju, berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan untuk sampai ke pos atau sampai bertemu kembali dengan rekan sekelompok.
 
Selain rute, kita juga perlu memastikan bekal makanan dan minuman kita cukup. Jika tidak cukup, kita harus mempunyai rencana dimana kita akan mendapatkan makanan dan minuman darurat jika kita terlanjur kehabisan sebelum sampai di pos. Tenaga juga harus dipastikan cukup kuat untuk berjalan sejauh itu. Jika sekiranya tidak kuat, rencanakan dimana kita akan berisitirahat nantinya.


Ketika menyusun rencana, pastikan pikiran kita berada dalam kondisi yang benar-benar tenang. Jangan terburu-buru untuk segera melaksanakan rencana tersebut.Ambillah cukup waktu untuk mereview rencana kita secara perlahan, siapa tahu ada hal yang terlewatkan. Bayangkan kendala apa saja yang mungkin timbul saat kita menjalankan rencana tersebut. Sempurnakanlah rencana kita dengan sebaik-baiknya agar masalah yang ada tidak bertambah parah.
 
Dari empat langkah yang ada dalam panduan S.T.O.P, yang paling sulit untuk dikerjakan adalah langkah terakhir ini (Plan/Rencanakan). Dengan informasi, perbekalan, dan keadaan yang sangat terbatas, seringkali kita ragu atas apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Salah langkah akan membuat kita semakin sulit untuk mendapatkan jalan keluar. Solusinya, adalah dengan Stay Put atau Tetap di Tempat.
 
STAY PUT ( Tetap di Tempat)
Stay Put atau Tetap di Tempat adalah langkah yang paling aman dan bijak untuk dilakukan saat tersesat ketika kita tidak merasa yakin dengan rencana kita. Stay Put bukan berarti pasrah dengan keadaan, tetapi kita hanya menunggu orang lain datang untuk menemukan kita. Ketika memutuskan untuk Tetap di Tempat pun, ada hal-hal yang harus kita waspadai baik-baik, antara lain:
 
1. Tempat
 
Sembari menunggu bantuan datang, diamlah di tempat yang sekiranya cukup mudah bagi kita untuk ditemukan, misalnya di tempat kita berada saat ini, di tepi sungai atau danau, atau di tempat terakhir kali kita masih bersama kelompok. Namun, pastikan bahwa tempat itu cukup aman dan nyaman untuk kita beristirahat sementara.Jika tempatnya kurang memadai, segeralah cari tempat lain yang lebih baik. Usahakan agar tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kita berada saat ini agar kita tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Tempat yang kita gunakan untuk beristirahat hendaknya berada cukup dekat dari sumber air seperti sungai atau danau. Tempat tersebut juga harus memiliki suhu udara yang nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga kita bisa bertahan cukup lama di sana tanpa menderita. Pastikan juga bahwa tempat tersebut cukup aman dari serangan binatang buas.
 
2. Dehidrasi dan Air Minum
 
Dehidrasi adalah ancaman yang cukup serius bagi orang yang tersesat di tengah hutan atau gunung.Maka jika kita sampai tersesat saat sedang asyik menjelajah alam, segera periksa seberapa banyak bekal minuman yang kita miliki.Perhitungkan kira-kira berapa lama kita sanggup bertahan hidup dengan sisa air yang ada tersebut.
 
Tanpa air minum, manusia hanya bertahan hidup selama 3 hari bahkan mungkin kurang. Jika beberapa jam tidak minum saja, tubuh akan beresiko terserang dehidrasi. Jika aktivitas kita cukup tinggi, maka kebutuhan air minum akan semakin bertambah. Dapat dikatakan juga, semakin banyak kita beraktivitas, kemungkinan dehidrasi akan semakin tinggi. Maka dari itu wajar jika kita tersesat dengan bekal air minum yang sangat terbatas, kita perlu segera mencari sumber air untuk membantu kita bertahan hidup.



Jika air bersih cukup sulit untuk ditemukan, maka air yang agak keruh pun bisa kita jadikan sebagai air minum darurat. Mungkin air ini akan membuat kita sakit perut. Tetapi, itu masih tetap lebih baik daripada tidak minum sama sekali. Agar resiko penyakitnya dapat dikurangi, kita bisa membuat api unggun dan merebus air tersebut terlebih dahulu. Atau jika bisa, buatlah peralatan suling air sederhana.
 
3. Kelaparan
 
Ancaman lain setelah dehidrasi bagi para petualang alam yang tersesat adalah kelaparan. Tanpa makanan, manusia maksimal dapat tetap hidup selama 3 minggu.Durasi ini memang jauh lebih panjang daripada jika tanpa minum.Namun, bukan berarti hal ini bisa kita sepelekan.Jika fisik badan tidak cukup kuat, bisa jadi kita hanya bertahan beberapa hari saja tanpa makan apa-apa.
Jika bekal makanan yang ada di ransel tidak cukup banyak, kita harus mengatur strategi agar terhindar dari kelaparan.Makanlah sedikit demi sedikit dengan tempo yang pelan agar perut lebih terasa kenyang walaupun belum banyak makan.Hindari makan lagi sebelum kita benar-benar merasa lapar.Minum air putih sebanyak mungkin untuk mengganjal perut sehingga makanan bisa lebih dihemat.


Demi bertahan hidup, kita juga perlu mencari bahan makanan lain yang ada di alam di sekitar kita sebagai jaga-jaga seandainya bekal makanan sudah terlanjur habis namun bantuan masih belum datang. Perhatikan tumbuhan dan pohon di sekeliling, apakah ada buah atau dedaunan yang sekiranya cukup aman untuk dikonsumsi.Jika ada sungai atau danau, mungkin kita bisa memancing beberapa ekor ikan setiap kali merasa lapar.Namun, berhati-hatilah dengan jenis ikan yang bisa beracun jika dimakan.
 
4. Usir Kesepian dengan Kesibukan
 
Sangatlah wajar jika berada seorang diri di tengah belantara alam liar akan membuat kita merasa kesepian. Semakin lama kita tersesat, rasa kesepian biasanya akan semakin meningkat.Kesepian akan membuat kita lebih mudah merasa lelah dan putus asa. Kesepian juga dapat menumbuhkan rasa takut dan paranoid. Akibatnya, kita akan semakin kekurangan semangat untuk terus berusaha bertahan hidup.
 
Jangan pasrah terhadap keadaan dengan memelihara rasa kesepian tersebut. Sebaliknya, kita justru harus berusaha keras menjauhkan diri dari perasaan tersebut. Cara paling efektif untuk mengusir kesepian adalah dengan menyibukkan diri.Jika kita sibuk, pikiran kita tidak akan melantur kemana-mana sehingga berbagai pikiran buruk akan jauh.


 
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyibukkan diri sembari menunggu bantuan datang. Antara lain, kita bisa berburu makanan, menjerang air, membuat api unggun, olahraga ringan, atau menyusun tempat yang nyaman untuk tidur. Jika merasa lelah dengan kesibukan, kita bisa tidur.Tidak masalah jika kita menghabiskan banyak waktu untuk tidur siang karena itu masih lebih baik daripada duduk diam sembari melamun atau memaksakan diri untuk terus beraktivitas.
  
Tersesat di tengah alam belantara adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Berbagai upaya tentu akan kita lakukan agar terhindar dari ancaman yang satu ini. Akan tetapi, sebagai seorang petualang, kita harus menyadari bahwa kemungkinan kita tersesat akan tetap ada sehingga kita juga harus mempersiapkan diri sejak sebelum mulai menjelajah alam. Persiapan tersebut bukan saja dari perbekalan, namun juga berupa persiapan mental yang kuat.Dengan mempelajari strategi di atas, mungkin ilmu ini bisa kita jadikan bekal sebagai antisipasi jika kita tersesat di tengah hutan suatu saat nanti.

 


Sumber : jalan2.com

"Papandayan's Blind Trekking"


Wow! Apa itu Papandayan Blind Trekking?
Papandayan Blind Trekking adalah kegiatan mendaki gunung bersama teman-teman tunanetra



Fency Community proudly present :

Pendakian Bersama Tunanetra & Relawan, Gunung Papandayan - Garut
30 April - 2 Mei 2015

IDR 300.000 (Relawan)
IDR 200.000 (Tunanetra)

Fasilitas :
- Simaksi + Asuransi
- T-shirt
- Transport PP
- Doorprize 
- Makan 1x

*Pendaftaran paling lambat tanggal 12 April 2015
*Technical Meeting: Minggu, 12 April 2015 - Monas (Kandang Rusa)
*Meeting Point: Monas (Parkir IRTI) jam 20:00 WIB

Transfer :
Bank BCA 4910315795
a/n Sri supri hartini

Contact Pendaftaran:
- 085692415164 (Hikmah)

Disini keluarga baru itu lahir



Entah apa yang terlintas dalam benakku waktu itu yang begitu 'nekat' memulai perjalanan ini, kenapa nekat.??? aku melakukan perjalanan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, bersama para pecinta Qur'an, bersama para murabbi & murabbiah, bersama para pejuang penegak dienNya, perjalanan yang memberi banyak pelajaran dalam hidupku dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidup, perjalanan penuh musahabah, perjalanan atas dasar ukhuwah islamiyah.

Sementara disisi lain...
aku, yang masih sendiri,...sendiri dalam keramaian, keramaian dalam keheningan, keheningan yang (mungkin) sunyi, *katanya. ahhh sudahlah kalian tak akan mengerti apa yang aku maksud.

Dalam benak aku berfikir, jangan-jangan aku berbaur dengan mereka hanya memusakan diriku saja, setelah kegiatan selesai maka selesai pula lah 'persaudaraan' itu.  aku menuruti perkataan ini, yang mungkin masih nafsu atau emosi yang berbicara, lalu kembali berfikir, apakah berkumpulnya dengan mereka bisa mengubahmu? yang notabene saat sudah terlalu jauh melangkah dalam kegelapan, kembali hati dan nafsu (emosi) berperang dalam fikiranku, kupalingkan diriku dengan melihat senyum satu persatu diantara mereka, pak Kun sebagai orang yang aku tua-kan berkata dengan bijak seakan-akan berhati-hati sekali ketika mau mengungkapkan petuah, dan ciri khas dengan senyumnya yang santun, lalu kupandangi senyum yang lain lagi kang erlan yang keluar apa adanya tatkala berbicara namun sepertiya disini aku melihat ada guratan 'beban' dalam hidupnya, ah mungkin masalah kerjaan gumamku, semuanya aku perhatikan satu persatu dalam ruangan VIP Class 'Bakoel Sangu' dengan segelas es jeruk. seteguk perlahan aku minum, seteguk pula rasa syukurku bertambah.


Pernah terlintas dalam benakku bahwasanya apa yang sudah kamu lalui dengan hal yang semacam ini maka akan dengan mudahnya juga melupakan hal yang sudah dilalui bersama. namun ternyata disini aku tidak menemukan hal semacam itu, apa yang sudah sering aku temui semacam ini sangat berbeda dengan hal yang sebelumnya. dan sampai sekarang aku masih terus belajar dari mereka yang benar-benar bejalan dijalanNya.

aku yang masih menikmati dalam 'kepura-puraan' belum tersadar bahwa merekalah yang membangunkanku selama ini,

ya mereka, dan inilah keluarga baruku...
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com