photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

10 Malam Terakhir Ramadhan dan Keajaibannya


Ramadhan memang bulan istimewa. Bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban”. Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga ramadhan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial. Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya. Wajar kalau Rasulullah saw., para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa menjadikan ramadhan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala dengan semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah. Apalagi pada 10 malam terakhir, Rasulullah saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».
Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)
Keajaiban-keajaiban yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya, pertama; terjadinya lailatul qadr yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:
 « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)
Kedua; orang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. “Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)
Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:
“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)
Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, lailatul qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar  keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa lailatul qadr.
Keempat: Allah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadr itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.
Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah swt. karena berbagai ayat tersebut tentu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kemahahebatan dan keagungan-Nya. Dan bahwa Allah swt. sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya sehingga Dia sediakan satu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang utama yang bisa dijadikan kesempatan oleh hamba-hamba-Nya untuk menambah pundi-pundi pahala untuk bekal hidup kelak di akhirat.
Menggapai Keajaiban
Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:
  1. I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ   العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »
Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ.
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji” (HR. An-Nasai)
  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي »
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)
  1. Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Meraih Cinta Allah
Segala amal nafilah atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah swt. dengan itu kita akan mendapatkan cinta-Nya. Cinta Allah kepada seorang hamba adalah anugrah yang tidak terhingga. Karena ia akan menjadi orang yang paling diperhatikan Allah. Ia pun akan senantiasa diliputi kasih dan sayang-Nya yang akan mendatangkan kepada kebahagiaan yang tiada bandingannya. Allah akan selalu membimbing setiap langkahnya sehingga ia tidak akan terpeleset ke jurang kenistaan. Seluruh tubuhnya akan terjaga, karena Allah akan mengendalikannya. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah swt. berfirman:

« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا ، وَإنْ سَأَلَني أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ »
Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia melangkah dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan memberi perlindungan kepadanya. (HR. Bukhori)
Jika kita sudah tahu kehebatan sepuluh malam terakhir dan keutamaan yang ada di dalamnya maka apalagi yang membuat kita tidak tergerak untuk  bersungguh-sungguh mendapatkannya? Masihkah kebiasaan berdesak-desakan di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan akan terus kita lakukan? Padahal ada kegiatan yang seharusnya diprioritaskan dari hanya sekedar mempersiapkan hari raya dengan pakaian yang serba baru dan makanan yang beraneka ragam. Sementara ladang pahala yang lewat di hadapan kita dibiarkan berlalu tanpa perhatian. Mungkin kesempatan ini hanya tinggal sekarang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu kembali dengan ramadhan? Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk meraih cinta-Nya. Amin.

sumber:eramuslim

Sukses Organisasi dengan Budaya Islami



Dalam perbincangan sehari-hari, sering terdengar:
"Pacaran membudaya di kalangan remaja."
"Menyuap sudah menjadi budaya dalam bisnis."
"Korupsi sudah menjadi budaya birokrasi."

Istilah budaya menyiratkan 3 hal. Pertama, mayoritas masyarakat atau komunitas tertentu melakukannya. Pacaran membudaya di kalangan remaja, artinya sebagian besar remaja berpacaran. Kedua, sudah menjadi kebiasaan dan tidak disadari sebagai sesuatu yang salah. Menyuap menjadi budaya dalam bisnis artinya dalam bisnis, menyuap adalah sesuatu yang biasa dan tidaklah salah. Ketiga, Sulit dihilangkan. Karena korupsi sudah membudaya, maka sulit sekali untuk memberantasnya. 

Setiap organisasi, memiliki budaya. Budaya organisasi adalah asumsi dasar atau nilai-nilai yang diyakini oleh organisasi dan diwujudkan dalam perilaku anggotanya. Budaya organisasi sangat berpengaruh terhadap kesuksesan organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi harus direncanakan, dikelola dan di evaluasi, untuk mencapai tujuan organisasi.

Organisasi dibentuk untuk meraih visi bersama (di samping untuk memenuhi kebutuhan individu). Seseorang yang memiliki cita cita tertentu dan tidak bisa diwujudkan sendiri, mengajak orang lain yang memiliki visi yang sama untuk meraih cita cita bersama. 

Misalnya, orang yang mempunyai visi untuk membentuk generasi yang bertaqwa, cerdas dan mandiri, mereka bersama-sama mendirikan organisasi berupa yayasan pendidikan. Sekelompok orang yang memiliki ideologi tertentu dan meyakini kebenarannya dan ingin menyebarkannya, membentuk organisasi sosial atau politik. 

Sekelompok orang yang tertarik dengan bisnis yang sejenis akan bekerjasama dan membangun perusahaan dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat. Meraka yakin dengan kekuatan sinergi. Pekerjaan yang jika dilakukan sendiri kapasitas produksinya hanya 5, jika dilakukan berdua bisa menghasilkan 15, dan bertiga bisa 30 dan begitu seterusnya.

Seluruh pendiri, manajemen dan karyawan (stakeholder) menginginkan organisasinya sukses, kuat dan terus berkembang. Kuat berarti bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Berkembang ditandai dengan semakin tingginya keuntungan (organisasi bisnis), semakin banyak konstituen (organisasi politik) atau semakin lebarnya pengaruh (organisasi sosial). 

Walaupun semua orang menginginkan organisasinya sukses, namun pada kenyataannya tidak semua organisasi dapat sukses. Jika budaya organisasi menjadi kunci kesuksesan organisasi, lalu budaya organisasi yang seperti apa yang akan membawa kesuksesan? Jawabanya adalah budaya Islami. Dengan kata lain, jika kita dalam satu organisasi memiliki budaya Islami, insyaAllah organisasi tersebut akan sukses, sebesar apapun pengaruh luar dan masalah yang dihadapi.

Budaya Islami adalah seperangkat nilai-nilai dan asumsi dasar yang diyakini sesuai dengan ajaran Islam dan diwujudkan dalam perilaku. Jika perilaku sudah membudaya, maka aturan tertulis dan sangsi formal tidaklah begitu penting. Budaya sudah menginternalisasi peraturan atau prosedur. Bagi yang melanggar, akan mendapatkan sangsi sosial, yang sesungguhnya lebih berat dari sangsi formal.

Budaya Islami yang kami maksud, diantaranya, adalah budaya bersih, berpakaian Islami, ramah, bicara sopan, sholat berjamaah, jujur, persaudaraan, transparan, tanggung jawab, amanah, bermusyarwarah, professional, dsb. Bayangkan jika budaya tersebut sudah menyatu dalam perilaku dan kerja, InsyaAllah organisasi kita akan maju. Setuju?

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sunguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

sumber : RamadanDetik

Persiapan Sebelum Memasuki Ramadhan


Bulan suci Ramadan tak lama lagi tiba. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT ini dinanti-nantikan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Karena Ramadan selalu menjadi momentum untuk memperkuat hubungan baik antara semasam manusia, maupun dengan Allah SWT.

Amalan-amalan kebajikan yang dilakukan muslim di bulan ini akan dicatat dan beri ganjaran berlipat ganda oleh Allah SWT, dibandingkan jika dilakukan di bulan-bulan lain.

Rasulullah Saw pernah berdoa,"Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Para ulama menyebut Ramadan sebagai madrasah. Karena selama lebih kurang 30 hari, kaum beriman digembleng oleh Allah dengan berbagai amalan dan ujian. Dimulai dari bangun menjelang fajar untuk sahur; melakukan salat lima waktu tepat waktu; berpuasa sejak fajar hingga matahari terbenam; menahan lapar, dahaga, dan syahwat; menyedikitkan tidur dan memperbanyak amalan malam; salat tarawih; hingga mengeluarkan sebagian dari harta yang dimiliki untuk dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan kepada pihak yang berhak. Jika penggemblengan Ramadan dapat dilalui dangan baik dan sempurna, maka predikat pemenang sebagai orang bertakwa layak diberikan kepada kaum mukminin yang menjalaninya.

Namun ada tiga prasyarat persiapan yang dikutip detikRamadan dari berbagai sumber yang semestinya dipenuhi setiap mukmin jika ingin dapat menjalani semua tahapan pendidikan di bulan Ramadan dengan baik dan sukses. Apakah tiga prasyarat itu?




1. Persiapan Jasadiyah


Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit. Belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan salat tarawih dan amalan-amalan ibadah lainnya. Apalagi di 10 hari terakhir, aktifitas amalan ibadah biasanya lebih meningkat.


Bagi mereka yang tidak terbiasa berpuasa sunah di luar bulan Ramadan, tentu berpuasa sambil menjalani aktifitas pekerjaan harian di bulan Ramadan akan sangat melelahkan. Pekerjaan harian yang sudah biasa dikerjakan akan terasa lebih berat. Tidak sedikit umat muslim yang bersemangat puasa di awal Ramadan, tapi gugur saat memasuki tahap minggu ke-dua Ramadan hanya karena alasan fisik.


Karena itu, mempersiapkan fisik yang fit dan optimal menjelang Ramadan menjadi sebuah keniscayaan yang harus diperhitungkan. Terutama juga bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Menjalani ibadah puasa tentunya harus dengan pertimbangan medis.


2. Persiapan Fikriyah



Selain mempersiapkan fisik yang prima, setiap muslim yang akan memasuki bulan Ramadan sebaiknya juga mempersiapkan pengetahuan mereka tentang Ramadan. Caranya dengan memperbanyak membaca buku-buku tentang Ramadan atau ilmu ke-Islaman lainnya. Cara lain, dengan mengikuti pengajian-pengajian yang membahas tentang ibadah Ramadan.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan, "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia-sia".

Sehingga segala aktivitas ibadah yang dilakukan selama Ramadan tidak semata-mata karena mengikuti tradisi belaka, tapi dilandasi pengetahuan atasnya.


3. Persiapan Ruhiyah



Setelah persiapan fisik dan ilmu, persiapan berikutnya adalah persiapan ruhiyah. Lebih tepatnya, persiapan aspek jiwa dan keimanan. Karena inti dari setiap ibadah adalah keimanan. Ada 3 hal yang dimaksud dengan aspek persiapan ruhiyah.

a. Merenungi diri. Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan baik sengaja atau tidak, kini hendaknya ditutupi dan disusul dengan perbuatan-perbuatan yang baik, dengan memperbanyak istighfar, agar diri kita terlepas dari dosa.

b. Berbuat baik atau memperbaiki hubungan dengan kedua orangtuanya. Mungkin selama hubungan kita dengan kedua orangtua ada hal-hal yang mengecewakan atau menyakitkan hati, maka dengan datangnya bulan Ramadan kita mohon keikhlasannya untuk mengampuninya.

c. Mengadakan hubungan silaturahmi dengan sanak saudara, teman-teman, terlebih hubungan dengan sesama muslim. Selain semua itu sangatlah penting untuk membersihkan yang bersifat lahiriyah dan jasmaniyah dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Aspek persiapan ruhiyah lainnya yaitu dengan cara memperbanyak ibadah seperti salat Qiyamulail, salat Dhuha, tilawah, menghafal Alquran, dan amalan sunah lainya. Kemudian yang tidak kalah penting adalah berdoa kepada Allah, meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan yang sudah kita perbuat selama ini. Kita pun berniat dari hati yang paling dalam, jika usia kita masih panjang dan diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan, kita berjanji kita tidak akan menyia-nyiakannya.

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com