photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Ketika Al Qur'an Lenyap di Muka Bumi


Diriwayatkan oleh Hudzhaifah bin Yaman, Rasulullah SAW bersabda, “ Islam terhapus seperti terhapusnya bordiran pakaian, sampai sampai tidak diketahui lagi apa itu puasa, shalat, haji dan zakat. Al Quran pun diperjalankan pada suatu malam sehingga tidak ada satu ayat pun tertinggal di bumi. Ada beberapa kelompok manusia yang masih hidup, yaitu orang orang yang telah lanjut usia. Mereka berkata,” Dahulu para leluhur kami mengucapkan kalimat “ Laa ilaaha illallah” dan kami pun mengucapkannya. “ Beliau bertanya kepada Hudzaifah,” Menurutmu, apa artinya kalimat ini bagi mereka?” Hudzhaifah tidak bisa menjawabnya. Lalu beliau melontarkan pertanyaan yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya, kemudian beliau bersabda,” Kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari neraka.” (HR Ibnu Majah)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Hudzaifah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Al Quran diperjalankan pada suatu malam. Pada pagi harinya, dalam ingatan manusia sama sekali tidak ada lagi satu ayat satu huruf Al Qur’an pun, semuanya telah terhapus.” (HR Ad dailami)
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. Rasulullah SAW bersabda ,”Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Al Qur’an pulang kembali ke asalnya sehingga gema al Quran  berdengung di sekitar ‘Arasy’ seperti dengungan lebah. Kemudian Allah SWT bertanya, “Ada apa denganmu? Al Quran menjawab,”Dari-Mu aku keluar dan kepada-Mu aku kembali. Aku dibaca, tetapi tidak diamalkan,’pada ketika itulah Al Quran diangkat ke haribaan Allah.” (HR ad Dailami)

Sumber :eramuslim

Sya’ban - Nishfu Sya’ban dalam Keutamaan




Dikutip dari buku al-Fawaaidul Mukhtaaroh :

Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata,
“Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alan Nabiy …diturunkan pada bulan itu. (Ma Dza Fiy Sya’ban?)
Tuanku Kanjeng Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata,
“Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.” (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)
Konon Sayidina Ali bin Abi Tholib Karromalloohu Wajhah meluangkan waktunya untuk ibadah pada 4 malam dalam setahun, yakni: malam pertama bulan Rojab, malam 2 hari raya, dan malam Nishfu Sya’ban. (Manhajus Sawiy dan Tadzkiirun Nas)
Al-Imam As- Subkiy.rhm berkata, bahwa malam Nishfu Sya’ban menghapus dosa setahun, malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan Lailatul Qodr menghapus dosa seumur hidup.
Diriwayatkan kapadaku bahwa Sahabat Nabi Usamah bin Zaid.ra berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi,
“Bulan itu sering dilupakan orang, karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.” (HR Ahmad dan Nasai – Sunah Abu Dawud).
Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:
Hadis Pertama

Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam dia kehilangan Rasulullah SAW, ia keluar mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan Baqi’, sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis Kedua
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis Ketiga
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

Pelajaran Berharga Film 'Sang Kyai'

Film ‘SangKyai’  bukan sekedar tontonan biasa seperti film-film perjuangan lainnya. Banyak fakta sejarah, makna perjuangan dan sederet hikmah yang berhasil diungkap dalam film ini.
‘SangKyai’ menceritakan kehidupan dan perjuangan tokoh yang mampu menginspirasi kita semua, KH. Hasyim Asy’ari serta epik heroik para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan. Film ini benar-benar sarat akan makna, dikisahkan bagaimana hukum Islam digali oleh para kyai melalui fatwanya,  salah satunya fatwa nya adalah resolusi jihad.
Generasi muda harus menonton film ini. Dengan menyimak film ‘SangKyai’  generasi muda akan sadar, bahwa kemerdekaan NKRI bukanlah barang gratisan. Kemerdekaan lahir dari cucuran darah, peluh keringat, adu strategi dan ijtihad para kyai.
Selain itu, dengan menyimak film ini kita akan kembali tersadar bahwa peran besar pesantren terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi. Jadi bukti refleksi kecintaan kalangan pesantren terhadap tanah air ini. Simak saja cuplikan dialog dari Kyai Hasyim Asy’ari
“Kita harus segera mempersiapkan kemerdekaan karena Izzul Islam Wal Muslimin dan rasa Nasionalisme”
Dialog yang sarat akan makna, bukti bahwa tidak ada pemisahan antara perjuangan dengan agama. Bukti lainnya adalah ketika utusan Bung Karno yang datang meminta fatwa hukum berperang demi tanah air.
Besarnya peran ulama serta penghormatan para pejuang terhadap peran mereka juga terlihat dari kedatangan Bung Tomo serta utusan Panglima Sudirman ke KH Hasyim Asy’ari. Para pejuang tidak hanya bertempur, namun selalu minta masukan, saran dan arahan dari para ulama.
‘SangKyai’ mengajarkan kita agar senantiasa berbakti pada bangsa dengan landasan ibadah, memberikan pencerahan tentang hubungan nasionalisme dan agama serta tidak ada pertentangan antara nasionalisme dan relijiusitas.
Laskar Hisbulloh misalnya, lahir dari relijiusitas KH Hasyim Asy’ari dalam membela nasionalisme karena  beliau menolak gabung dengan Heiho.
Kita jadi teringat dengan pesan ‘kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir’. ‘SangKyai’ juga mengajarkan kita bagaimana melawan kemungkaran haruslah menggunakan strategi dan koordinasi yang baik.
Contohnya Ketika ‘SangKyai’ ditangkapi oleh jepang, disadari perlu mengambil ijtihad perjuangan dengan strategi baru. Berjuang tak harus selalu jadi oposisi, dibubarkannya MIA dan dibentuknya Masyumi adalah bagian dari perubahan strategi perlawanan.
Salah satu strategi yang diajarkan KH Hasyim Asy’ari adalah, ketika beliau juga menerima tawaran untuk merangkap jabatan menjadi ketua Masyumi sekaligus Shumubu (Depag ala Jepang).  Sepertinya ini adalah strategi koalisi ala ‘SangKyai’
Pesan terakhir dari ‘SangKyai’ ini pasti mampu menggetarkan sanubari siapapun yang mampu mencerna dan meresapinya dengan hati nurani.
“Pahlawan tidak perlu dikenal, karena syahid mereka dicatat di sisi Allah”
Subhanallah, benar –benar sebuah film yang sangat layak ditonton dan mengambil ribuan hikmah yang ada didalamnya.



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com