photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Kunci Husnul Khotimah





Untuk bisa memperoleh husnul khotimah, ini memang utamanya adalah istiqomah, konsisten dalam melakukan kebaikan. Istiqomah yang kemarin sudah saya sampaikan, Kalau kita beristiqomah, syetan akan putus asa untuk menggoda.
Karena manusia terbagi dalam tiga kelompok, kelompok yang dibiarkan dia berlaku jelek dan jahat, kelompok yang selalu digoda, dan kelompok yang syetan itu berputus asa.
Siapa kelompok yang syetan itu berputus asa ? adalah kelompok-kelompok yang istiqomah. Sehingga orang orang yang istiqomah itu pulalah, yang nantinya, pada saat nyawanya dicabut, Malaikat akan menyampaikan berita gembira
أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا
Kamu ndak usah takut apa yang akan kamu hadapi nanti, baik di alam barzakh atau alam akhirat, kamu ndak usah sedih apa yang akan kamu tinggalkan,
Sebab apa ? kamu selama di dunia istiqomah. Kata malaikat-malaikat yang membisiki
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
Kami adalah pendamping kalian, kekasih kalian baik di dunia atau di akhirat.
Dihadapan kalian sudah tersedia, jerih payah kalian di dunia. Istiqomah kalian di dunia, Allah Swt telah mempersiapkan hidangan buat kalian, yaitu nikmatul qabri dan nikmatul akhirah. Telah tersedia hidangan dari Allah swt
Lalu kalau dia berpikir , bagaimana anak cucuku, dah anak cucu kalian itu malaikatlah yang akan nanti akan menjadi penggantinya, dan akan menjadi pendampinya, kata malaikat
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ
Kenapa harus takut, wong kalian mau menerima suguhan, bidadari sudah siap menerima kalian, tempat yang indah sudah disiapkan untuk kalian, sudah jangan takut takut. Ini malaikat nanti akan membisiki kepada orang orang yang istiqomah
Yakni    الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Orang-orang yang benar benar bartauhid, menggatakan rabbunallah, (pengeranku ora ono liyo kejobo gusti Allah), namun setelah rabbunallah, tsummas taqamu. dia konsukesn , tetap pada rabbunallah dimana saja dan kapan berada.



Keutamaan Puasa di Awal Dzulhijjah

Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.  Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.
Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]
Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”[3]
Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.
Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk melakukan amalan puasa tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

sumber: muslim.or.id

10 Malam Terakhir Ramadhan dan Keajaibannya


Ramadhan memang bulan istimewa. Bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban”. Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga ramadhan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial. Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya. Wajar kalau Rasulullah saw., para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa menjadikan ramadhan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala dengan semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah. Apalagi pada 10 malam terakhir, Rasulullah saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».
Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)
Keajaiban-keajaiban yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya, pertama; terjadinya lailatul qadr yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:
 « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)
Kedua; orang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. “Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)
Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:
“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)
Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, lailatul qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar  keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa lailatul qadr.
Keempat: Allah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadr itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.
Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah swt. karena berbagai ayat tersebut tentu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kemahahebatan dan keagungan-Nya. Dan bahwa Allah swt. sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya sehingga Dia sediakan satu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang utama yang bisa dijadikan kesempatan oleh hamba-hamba-Nya untuk menambah pundi-pundi pahala untuk bekal hidup kelak di akhirat.
Menggapai Keajaiban
Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:
  1. I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ   العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »
Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ.
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji” (HR. An-Nasai)
  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي »
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)
  1. Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Meraih Cinta Allah
Segala amal nafilah atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah swt. dengan itu kita akan mendapatkan cinta-Nya. Cinta Allah kepada seorang hamba adalah anugrah yang tidak terhingga. Karena ia akan menjadi orang yang paling diperhatikan Allah. Ia pun akan senantiasa diliputi kasih dan sayang-Nya yang akan mendatangkan kepada kebahagiaan yang tiada bandingannya. Allah akan selalu membimbing setiap langkahnya sehingga ia tidak akan terpeleset ke jurang kenistaan. Seluruh tubuhnya akan terjaga, karena Allah akan mengendalikannya. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah swt. berfirman:

« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا ، وَإنْ سَأَلَني أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ »
Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia melangkah dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan memberi perlindungan kepadanya. (HR. Bukhori)
Jika kita sudah tahu kehebatan sepuluh malam terakhir dan keutamaan yang ada di dalamnya maka apalagi yang membuat kita tidak tergerak untuk  bersungguh-sungguh mendapatkannya? Masihkah kebiasaan berdesak-desakan di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan akan terus kita lakukan? Padahal ada kegiatan yang seharusnya diprioritaskan dari hanya sekedar mempersiapkan hari raya dengan pakaian yang serba baru dan makanan yang beraneka ragam. Sementara ladang pahala yang lewat di hadapan kita dibiarkan berlalu tanpa perhatian. Mungkin kesempatan ini hanya tinggal sekarang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu kembali dengan ramadhan? Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk meraih cinta-Nya. Amin.

sumber:eramuslim

Sukses Organisasi dengan Budaya Islami



Dalam perbincangan sehari-hari, sering terdengar:
"Pacaran membudaya di kalangan remaja."
"Menyuap sudah menjadi budaya dalam bisnis."
"Korupsi sudah menjadi budaya birokrasi."

Istilah budaya menyiratkan 3 hal. Pertama, mayoritas masyarakat atau komunitas tertentu melakukannya. Pacaran membudaya di kalangan remaja, artinya sebagian besar remaja berpacaran. Kedua, sudah menjadi kebiasaan dan tidak disadari sebagai sesuatu yang salah. Menyuap menjadi budaya dalam bisnis artinya dalam bisnis, menyuap adalah sesuatu yang biasa dan tidaklah salah. Ketiga, Sulit dihilangkan. Karena korupsi sudah membudaya, maka sulit sekali untuk memberantasnya. 

Setiap organisasi, memiliki budaya. Budaya organisasi adalah asumsi dasar atau nilai-nilai yang diyakini oleh organisasi dan diwujudkan dalam perilaku anggotanya. Budaya organisasi sangat berpengaruh terhadap kesuksesan organisasi. Oleh karena itu, budaya organisasi harus direncanakan, dikelola dan di evaluasi, untuk mencapai tujuan organisasi.

Organisasi dibentuk untuk meraih visi bersama (di samping untuk memenuhi kebutuhan individu). Seseorang yang memiliki cita cita tertentu dan tidak bisa diwujudkan sendiri, mengajak orang lain yang memiliki visi yang sama untuk meraih cita cita bersama. 

Misalnya, orang yang mempunyai visi untuk membentuk generasi yang bertaqwa, cerdas dan mandiri, mereka bersama-sama mendirikan organisasi berupa yayasan pendidikan. Sekelompok orang yang memiliki ideologi tertentu dan meyakini kebenarannya dan ingin menyebarkannya, membentuk organisasi sosial atau politik. 

Sekelompok orang yang tertarik dengan bisnis yang sejenis akan bekerjasama dan membangun perusahaan dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat. Meraka yakin dengan kekuatan sinergi. Pekerjaan yang jika dilakukan sendiri kapasitas produksinya hanya 5, jika dilakukan berdua bisa menghasilkan 15, dan bertiga bisa 30 dan begitu seterusnya.

Seluruh pendiri, manajemen dan karyawan (stakeholder) menginginkan organisasinya sukses, kuat dan terus berkembang. Kuat berarti bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Berkembang ditandai dengan semakin tingginya keuntungan (organisasi bisnis), semakin banyak konstituen (organisasi politik) atau semakin lebarnya pengaruh (organisasi sosial). 

Walaupun semua orang menginginkan organisasinya sukses, namun pada kenyataannya tidak semua organisasi dapat sukses. Jika budaya organisasi menjadi kunci kesuksesan organisasi, lalu budaya organisasi yang seperti apa yang akan membawa kesuksesan? Jawabanya adalah budaya Islami. Dengan kata lain, jika kita dalam satu organisasi memiliki budaya Islami, insyaAllah organisasi tersebut akan sukses, sebesar apapun pengaruh luar dan masalah yang dihadapi.

Budaya Islami adalah seperangkat nilai-nilai dan asumsi dasar yang diyakini sesuai dengan ajaran Islam dan diwujudkan dalam perilaku. Jika perilaku sudah membudaya, maka aturan tertulis dan sangsi formal tidaklah begitu penting. Budaya sudah menginternalisasi peraturan atau prosedur. Bagi yang melanggar, akan mendapatkan sangsi sosial, yang sesungguhnya lebih berat dari sangsi formal.

Budaya Islami yang kami maksud, diantaranya, adalah budaya bersih, berpakaian Islami, ramah, bicara sopan, sholat berjamaah, jujur, persaudaraan, transparan, tanggung jawab, amanah, bermusyarwarah, professional, dsb. Bayangkan jika budaya tersebut sudah menyatu dalam perilaku dan kerja, InsyaAllah organisasi kita akan maju. Setuju?

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sunguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

sumber : RamadanDetik

Persiapan Sebelum Memasuki Ramadhan


Bulan suci Ramadan tak lama lagi tiba. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT ini dinanti-nantikan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Karena Ramadan selalu menjadi momentum untuk memperkuat hubungan baik antara semasam manusia, maupun dengan Allah SWT.

Amalan-amalan kebajikan yang dilakukan muslim di bulan ini akan dicatat dan beri ganjaran berlipat ganda oleh Allah SWT, dibandingkan jika dilakukan di bulan-bulan lain.

Rasulullah Saw pernah berdoa,"Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Para ulama menyebut Ramadan sebagai madrasah. Karena selama lebih kurang 30 hari, kaum beriman digembleng oleh Allah dengan berbagai amalan dan ujian. Dimulai dari bangun menjelang fajar untuk sahur; melakukan salat lima waktu tepat waktu; berpuasa sejak fajar hingga matahari terbenam; menahan lapar, dahaga, dan syahwat; menyedikitkan tidur dan memperbanyak amalan malam; salat tarawih; hingga mengeluarkan sebagian dari harta yang dimiliki untuk dizakatkan, diinfakkan, dan disedekahkan kepada pihak yang berhak. Jika penggemblengan Ramadan dapat dilalui dangan baik dan sempurna, maka predikat pemenang sebagai orang bertakwa layak diberikan kepada kaum mukminin yang menjalaninya.

Namun ada tiga prasyarat persiapan yang dikutip detikRamadan dari berbagai sumber yang semestinya dipenuhi setiap mukmin jika ingin dapat menjalani semua tahapan pendidikan di bulan Ramadan dengan baik dan sukses. Apakah tiga prasyarat itu?




1. Persiapan Jasadiyah


Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit. Belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan salat tarawih dan amalan-amalan ibadah lainnya. Apalagi di 10 hari terakhir, aktifitas amalan ibadah biasanya lebih meningkat.


Bagi mereka yang tidak terbiasa berpuasa sunah di luar bulan Ramadan, tentu berpuasa sambil menjalani aktifitas pekerjaan harian di bulan Ramadan akan sangat melelahkan. Pekerjaan harian yang sudah biasa dikerjakan akan terasa lebih berat. Tidak sedikit umat muslim yang bersemangat puasa di awal Ramadan, tapi gugur saat memasuki tahap minggu ke-dua Ramadan hanya karena alasan fisik.


Karena itu, mempersiapkan fisik yang fit dan optimal menjelang Ramadan menjadi sebuah keniscayaan yang harus diperhitungkan. Terutama juga bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Menjalani ibadah puasa tentunya harus dengan pertimbangan medis.


2. Persiapan Fikriyah



Selain mempersiapkan fisik yang prima, setiap muslim yang akan memasuki bulan Ramadan sebaiknya juga mempersiapkan pengetahuan mereka tentang Ramadan. Caranya dengan memperbanyak membaca buku-buku tentang Ramadan atau ilmu ke-Islaman lainnya. Cara lain, dengan mengikuti pengajian-pengajian yang membahas tentang ibadah Ramadan.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan, "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia-sia".

Sehingga segala aktivitas ibadah yang dilakukan selama Ramadan tidak semata-mata karena mengikuti tradisi belaka, tapi dilandasi pengetahuan atasnya.


3. Persiapan Ruhiyah



Setelah persiapan fisik dan ilmu, persiapan berikutnya adalah persiapan ruhiyah. Lebih tepatnya, persiapan aspek jiwa dan keimanan. Karena inti dari setiap ibadah adalah keimanan. Ada 3 hal yang dimaksud dengan aspek persiapan ruhiyah.

a. Merenungi diri. Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan baik sengaja atau tidak, kini hendaknya ditutupi dan disusul dengan perbuatan-perbuatan yang baik, dengan memperbanyak istighfar, agar diri kita terlepas dari dosa.

b. Berbuat baik atau memperbaiki hubungan dengan kedua orangtuanya. Mungkin selama hubungan kita dengan kedua orangtua ada hal-hal yang mengecewakan atau menyakitkan hati, maka dengan datangnya bulan Ramadan kita mohon keikhlasannya untuk mengampuninya.

c. Mengadakan hubungan silaturahmi dengan sanak saudara, teman-teman, terlebih hubungan dengan sesama muslim. Selain semua itu sangatlah penting untuk membersihkan yang bersifat lahiriyah dan jasmaniyah dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Aspek persiapan ruhiyah lainnya yaitu dengan cara memperbanyak ibadah seperti salat Qiyamulail, salat Dhuha, tilawah, menghafal Alquran, dan amalan sunah lainya. Kemudian yang tidak kalah penting adalah berdoa kepada Allah, meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan yang sudah kita perbuat selama ini. Kita pun berniat dari hati yang paling dalam, jika usia kita masih panjang dan diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan, kita berjanji kita tidak akan menyia-nyiakannya.

Ketika Al Qur'an Lenyap di Muka Bumi


Diriwayatkan oleh Hudzhaifah bin Yaman, Rasulullah SAW bersabda, “ Islam terhapus seperti terhapusnya bordiran pakaian, sampai sampai tidak diketahui lagi apa itu puasa, shalat, haji dan zakat. Al Quran pun diperjalankan pada suatu malam sehingga tidak ada satu ayat pun tertinggal di bumi. Ada beberapa kelompok manusia yang masih hidup, yaitu orang orang yang telah lanjut usia. Mereka berkata,” Dahulu para leluhur kami mengucapkan kalimat “ Laa ilaaha illallah” dan kami pun mengucapkannya. “ Beliau bertanya kepada Hudzaifah,” Menurutmu, apa artinya kalimat ini bagi mereka?” Hudzhaifah tidak bisa menjawabnya. Lalu beliau melontarkan pertanyaan yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya, kemudian beliau bersabda,” Kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari neraka.” (HR Ibnu Majah)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Hudzaifah ra, Rasulullah SAW bersabda, “ Al Quran diperjalankan pada suatu malam. Pada pagi harinya, dalam ingatan manusia sama sekali tidak ada lagi satu ayat satu huruf Al Qur’an pun, semuanya telah terhapus.” (HR Ad dailami)
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. Rasulullah SAW bersabda ,”Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Al Qur’an pulang kembali ke asalnya sehingga gema al Quran  berdengung di sekitar ‘Arasy’ seperti dengungan lebah. Kemudian Allah SWT bertanya, “Ada apa denganmu? Al Quran menjawab,”Dari-Mu aku keluar dan kepada-Mu aku kembali. Aku dibaca, tetapi tidak diamalkan,’pada ketika itulah Al Quran diangkat ke haribaan Allah.” (HR ad Dailami)

Sumber :eramuslim

Sya’ban - Nishfu Sya’ban dalam Keutamaan




Dikutip dari buku al-Fawaaidul Mukhtaaroh :

Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata,
“Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alan Nabiy …diturunkan pada bulan itu. (Ma Dza Fiy Sya’ban?)
Tuanku Kanjeng Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata,
“Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.” (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)
Konon Sayidina Ali bin Abi Tholib Karromalloohu Wajhah meluangkan waktunya untuk ibadah pada 4 malam dalam setahun, yakni: malam pertama bulan Rojab, malam 2 hari raya, dan malam Nishfu Sya’ban. (Manhajus Sawiy dan Tadzkiirun Nas)
Al-Imam As- Subkiy.rhm berkata, bahwa malam Nishfu Sya’ban menghapus dosa setahun, malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan Lailatul Qodr menghapus dosa seumur hidup.
Diriwayatkan kapadaku bahwa Sahabat Nabi Usamah bin Zaid.ra berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi,
“Bulan itu sering dilupakan orang, karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.” (HR Ahmad dan Nasai – Sunah Abu Dawud).
Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:
Hadis Pertama

Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam dia kehilangan Rasulullah SAW, ia keluar mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan Baqi’, sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis Kedua
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis Ketiga
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

Pelajaran Berharga Film 'Sang Kyai'

Film ‘SangKyai’  bukan sekedar tontonan biasa seperti film-film perjuangan lainnya. Banyak fakta sejarah, makna perjuangan dan sederet hikmah yang berhasil diungkap dalam film ini.
‘SangKyai’ menceritakan kehidupan dan perjuangan tokoh yang mampu menginspirasi kita semua, KH. Hasyim Asy’ari serta epik heroik para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan. Film ini benar-benar sarat akan makna, dikisahkan bagaimana hukum Islam digali oleh para kyai melalui fatwanya,  salah satunya fatwa nya adalah resolusi jihad.
Generasi muda harus menonton film ini. Dengan menyimak film ‘SangKyai’  generasi muda akan sadar, bahwa kemerdekaan NKRI bukanlah barang gratisan. Kemerdekaan lahir dari cucuran darah, peluh keringat, adu strategi dan ijtihad para kyai.
Selain itu, dengan menyimak film ini kita akan kembali tersadar bahwa peran besar pesantren terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi. Jadi bukti refleksi kecintaan kalangan pesantren terhadap tanah air ini. Simak saja cuplikan dialog dari Kyai Hasyim Asy’ari
“Kita harus segera mempersiapkan kemerdekaan karena Izzul Islam Wal Muslimin dan rasa Nasionalisme”
Dialog yang sarat akan makna, bukti bahwa tidak ada pemisahan antara perjuangan dengan agama. Bukti lainnya adalah ketika utusan Bung Karno yang datang meminta fatwa hukum berperang demi tanah air.
Besarnya peran ulama serta penghormatan para pejuang terhadap peran mereka juga terlihat dari kedatangan Bung Tomo serta utusan Panglima Sudirman ke KH Hasyim Asy’ari. Para pejuang tidak hanya bertempur, namun selalu minta masukan, saran dan arahan dari para ulama.
‘SangKyai’ mengajarkan kita agar senantiasa berbakti pada bangsa dengan landasan ibadah, memberikan pencerahan tentang hubungan nasionalisme dan agama serta tidak ada pertentangan antara nasionalisme dan relijiusitas.
Laskar Hisbulloh misalnya, lahir dari relijiusitas KH Hasyim Asy’ari dalam membela nasionalisme karena  beliau menolak gabung dengan Heiho.
Kita jadi teringat dengan pesan ‘kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir’. ‘SangKyai’ juga mengajarkan kita bagaimana melawan kemungkaran haruslah menggunakan strategi dan koordinasi yang baik.
Contohnya Ketika ‘SangKyai’ ditangkapi oleh jepang, disadari perlu mengambil ijtihad perjuangan dengan strategi baru. Berjuang tak harus selalu jadi oposisi, dibubarkannya MIA dan dibentuknya Masyumi adalah bagian dari perubahan strategi perlawanan.
Salah satu strategi yang diajarkan KH Hasyim Asy’ari adalah, ketika beliau juga menerima tawaran untuk merangkap jabatan menjadi ketua Masyumi sekaligus Shumubu (Depag ala Jepang).  Sepertinya ini adalah strategi koalisi ala ‘SangKyai’
Pesan terakhir dari ‘SangKyai’ ini pasti mampu menggetarkan sanubari siapapun yang mampu mencerna dan meresapinya dengan hati nurani.
“Pahlawan tidak perlu dikenal, karena syahid mereka dicatat di sisi Allah”
Subhanallah, benar –benar sebuah film yang sangat layak ditonton dan mengambil ribuan hikmah yang ada didalamnya.



Jumu'ah Mubarak

Hari Jumat merupakan hari paling agung di sisi Allah SWT tanpa ada yang menyamainya dalam setahu kecuali hari Arafah. Karena kedudukannya dari Jumat yang agung di sisi Allah. Dia mengkhususkan namanya dalam Al Quran dengan satu surat al jumuah. Sejak shalat Subuh, hari itu dipenuhi dengan kebaikan, berkah, dan pahala yang agung dari sisiNya.
Di Hari Jumat ini, Allah SWT telah mensyariatkan Shalat Jumat yang diagungkan Alah dalam kitabnya serta Allah mengagungkan pahala dan orang yang mengerjakannya, Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Wahai orang orang yang beriman ! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS Al Jumuah 9)
Banyak hadis dari rasulullah SAW pernah bersabda, “ Diantara hari hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Di hari Jumat, Adam As diciptakan, di hari Jumat dia meninggal, di hari Jumat sangsakala ditiup dan di hari Jumat makhluk pingsan. Kalian perbanyaklah bershalawat kepadaku , karena bacaan shalawat kalian itu disampaikan kepadaku. Sesungguhnya Allah mengharamkan tanah di bumi memakan jasad para Nabi (HR Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan hakim)
Dari Aus bin Aus ra, Rasulullah SAW pernah bersabda,”Barangsiapa mandi  seperti mandi junub di hari Jumat, kemudian bersegera dan berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan, lalu duduk mendekat imam, lalu mendengarkan khotbah dan tidak melakukan tindakan maupun perkataan yang sia sia, maka dia mendapatkan untuk setiap langkahnya amalan setahun pahala puasa beserta shalatnya (HR Ahmad)
Diriwayatkan Abu Musa Al Asyari ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Semua hari akan diutus Allah SWT sebagaimana kondisinya dan hari Jumat akan diutus bercahaya bersinar yang ahlu Jumat mengelilinginya seperti pengantin yang memberikan hadiah kepada pasangannya. Jumat menyinari Ahlu Jumat sehingga mereka berjalan dalam pencahayaan Jumat. Warna mereka seperti salju putih dari aroma mereka seperti harum misik. Mereka tenggelam masuk di gunung kapur, sedangkan Ats Tsaqalani (Jin dan Manusia) melihat ke arah mereka tanpa berkedip karena kagum hingga Ahlu Jumat memasuki Surga. Ahlu Jumat tidak bercampur dengan seorangpun kecuali al Mu’adzimun (orang orang yang mengumandangkan adzan) .” (HR Thabrani dan Ibnu Khuzaimah)
Bagaimana orang orang mukmin Ahlu al Jami’ (Yang senang berjamaah) dan selalu memelihara akan berangkat pagi pagi untuk melakukan  shalat Jumat, demi menyambut perintah Allah? Bagaimana Jumat tidak memuliakan mereka, sementara Allah SWT telah menjanjikan karunia agung ini untuk Ahlu Al Jami’, ahli sholat Jumat dan orang orang yang taat kepada Allah SWT.

Sumber : eramuslim

Dakwah Kampus dalam Metamorfosis



Pergolakan dakwah kampus seperti mencapai titik nadir yang tak terbantahkan. Kisah 23 tahun lalu, dimana aktifis dakwah kampus turut andil dalam alotnya menegakkan reformasi. Ini menjadi satu dari jutaan alasan bahwa dakwah kampus merupakan elemen yang mampu menjadi tonggak peradaban bangsa ini;perbaikan dan pembangunan.
Dalam perkembangannya saat ini dakwah kampus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal tersebut dapat terlihat dari menjamurnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta. Berdasarkan acuan Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) yang menjadi motor dan wadah LDK se-Indonesia, LDK dapat diklasifikasikan ke dalam 3 jenjang utama; Mula, Madya dan Mandiri. Klasifikasi tersebut dilandaskan terhadap kondisi LDK kaitannya dengan; kemapanan struktur organisasi, perkembangan syiar dan kaderisasi, kualitas dan kuantitas anggota dsb.
Meskipun dalam keberjalanannya saat ini klasifikasi jenjang mula dan madya masih mendominasi. Namun, hal tersebut bukan merupakan alasan para akitifis dakwah untuk berkecil hati. Bahkan semangat menebarkan fikrah-fikrah islam semakin tinggi. Maka benar jika dikatakan bahwa mahasiswa merupakan salah satu faktor yang potensial dalam perkembangan dakwah. Sebab, jiwa muda yang senantiasa membara untuk sebuah perubahan menjadi salah satu alasannya. Selain itu mahasiswa juga merupakan kaum intelektual yang menggunakan logika dalam berpikir sehingga mudah baginya dalam menerima sesuatu yang jelas-jelas ada landasannya. Tidak lain yang tertera dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Bekal Dakwah
Militansi luar biasa yang dimiliki para aktifis dakwah tidak muncul secara tiba-tiba. Berbekal pembinaan rutin dan semangat memperbaiki diri, para aktifis dakwah kampus senantiasa menyebarkan dakwah islam secara lebih luas. Karena mereka memahami bahwa berdakwah adalah amanah dari Allah yang harus dilakukan setiap yang beriman.
“Kamu (Umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali-Imran:110).
Ketika keyakinan bahwa manusia merupakan umat terbaik yang Allah swt ciptakan, maka kesadaran akan berdakwah semakin besar. Tidak berhenti pada tahap pembinaan dan perbaikan diri, namun yang paling esensial adalah menebarkannya pada masyarakat kampus secara luas. Walaupun aktifis dakwah kampus juga menyadari betul bahwa mereka bukanlah kumpulan orang-orang shaleh yang selalu benar dan belajar menjadi shaleh itu yang paling utama.
Selain Al-Quran, semangat yang dimiliki oleh aktifis dakwah berasal dari kajian-kajian mengenai bagaimana perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat terdahulu dalam menegakkan cahaya Islam. Mereka senantiasa berusaha istiqamah meneladani amalan sunnah-sunnah Rasulnya; qiyamulail, shaum sunnah, dhuha, dzikir al-matsurat dan amalan lain yang dicontohkan.
Berdakwah di kampus Islam?
Berdasarkan berbagai analisis mengemuka bahwa berdakwah di kampus Islam maupun non-Islam mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di kampus non-Islam ketertarikan akan nilai-nilai Islam yang lebih tinggi seringkali menjadi peluang lebih besar untuk berdakwah. Namun di kampus Islam mempunyai tantangan tersendiri. Sebab, secara pengetahuan banyak mahasiswa yang mempunyai basic keislaman yang sudah dibentuk sejak masa sekolah menengah (didominasi oleh lulusan Madrasah Aliyah dsb).
Di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dakwah digaungkan oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa (LDM). Dalam kiprahnya sejak tahun 1985 LDM bersinergi dengan Dewan Kemakmuran Mesjid Ikomah (DKM) untuk menampakkan “wajah Islam” di kampus Islam. Setiap generasinya memiliki antusiasme berbeda dalam penerimaan dakwah, baik dari; mahasiswa, dosen maupun pemerintah kampus. Hal tersebut tantangan dan peluang tersendiri bagi LDM.
Organisasi keislaman di UIN sunan Gunung Djati Bandung tidak hanya LDM. Ada lagi beberapa organisasi lain seperti; UPTQ, LSPI, KAMMI, PMII, HMI dsb. Hal tersebut tidak kemudian menjadi penghambat berarti bagi LDM, karena meyakini bahwa semua mempunyai tujuan yang sama. Yakni berkembang dan jayanya fikrah Islam di kampus, untuk kampus UIN yang madani.
Terkait perbedaan wadah, LDM mempunyai satu konsep yang dapat menerima keberagaman bahwa; berdakwah adalah sebuah keharusan, berjamaah adalah sebuah keniscayaan dan wadah dakwah mana yang akan dipilih oleh seorang da’i adalah pilihan. Satu hal yang pasti, bahwa sampai kapanpun LDM berkomitmen untuk senantiasa menebarkan nafas Islam dengan berbagai tantangan dan ujian. Karena yang menjadi kekuatan adalah bahwa dakwah dan Islam ini milik Allah, maka Dia pula yang akan menjaganya agar tetap bercahaya. Wallahualam.


Sumber : dakwatuna


Allahumma baarik lanaa fi rajaba


Keutamaan Bulan Rajab

Keutamaan Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih.

Bulan Rajab adalah Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

       Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

      Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.


Apa Maksud Bulan Haram?

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

      Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

        Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214. Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215.

      Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya. Lihat bahasan Muslim.Or.Id sebelumnya: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213).


Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali.

" Allahumma barik lana fi Rajab wa Sha'ban wa ballighna Ramadan."



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com