photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Kunci Surga = Berlapang Dada




Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Beliau lalu bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam kemudian berdiri dan kami pun bubar. Pada saat itulah Abdullah bin Amru bin Ash mengikuti laki-laki Anshar yang tiga kali muncul di hadapan kami setelah disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa salam.
"Saya sedang terlibat cek-cok dengan ayah saya. Saya telah bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika Anda berkenan, saya ingin menginap di rumah Anda selama tiga hari ini." Kata Abdullah bin Amru, mencari-cari alasan untuk bisa menginap di rumah sahabat Anshar tersebut.
"Ya, silahkan." Jawab sahabat Anshar tersebut.
Anas bin Malik berkata: "Abdullah bin Amru bin Ash telah menceritakan bahwa ia telah menginap di rumah sahabat Anshar tersebut selama tiga malam. Selama itu, Abdullah bin Amru tidak pernah melihatnya sedikit pun melakukan shalat malam. Jika ia terbangun di waktu malam, ia hanya membolak-balikkan badannya di atas ranjangnya, berdzikir dan bertakbir, kemudian tidur kembali. Ia baru bangun kembali jika waktunya melaksanakan shalat Subuh."
Abdullah bin Amru berkata, "Hanya saja aku tidak pernah berbicara kecuali hal-hal yang baik. Tiga malam telah berlalu dan aku hampir saja menganggap remeh amal perbuatannya. Maka aku pun menceritakan kepadanya tujuanku.
"Wahai Abdullah (hamba Allah), sebenarnya antara aku dan bapakku tidak ada kemarahan, juga tidak ada hal yang mengharuskanku meninggalkannya. Namun aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda sebanyak tiga kali tentang dirimu:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Maka engkau muncul sebanyak tiga kali. Oleh karena itu aku ingin tidur di rumahmu agar aku bisa melihat amal perbuatanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Namun aku tidak melihatmu melakukan banyak amal kebajikan. Jika begitu, amalan apa yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam tersebut?"
Laki-laki Anshar itu menjawab, "Amal kebaikanku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Hanya itu amalku."
Abdullah bin Amru berkata: "Ketika aku hendak berjalan pulang, tiba-tiba laki-laki Anshar itu memanggilku kembali dan berkata:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ
"Amalku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Namun di dalam jiwaku sama sekali tidak pernah terbetik rasa ghisy (tidak tulus) terhadap seorang muslim pun, dan aku juga tidak pernah iri kepada seorang pun atas sebuah nikmat yang Allah karuniakan kepadanya."
Mendengar penuturan tersebut, Abdullah bin Amru berkataku:
هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ
"Inilah sebenarnya amalan yang telah mengantarkanmu kepada kedudukan tersebut. Dan justru inilah amalan yang kami belum sanggup melakukannya."
(HR. Ahmad no. 12697, Abdur Razzaq no. 20559, Al-Bazzar no. 1981, Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 6605, Al-Baghawi no. 3535 dan An-Nasai dalam 'Amalul Yaum wal Lailah no. 863. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu 'alaihi wa salam menyebutkan salah seorang sahabatnya yang dijamin masuk surga. Ia memang tidak memiliki amalan istimewa, setidaknya dari penampakan lahiriahnya. Ia tidak banyak melakukan shalat sunah, puasa sunah, sedekah sunah dan amalan-amalan lainnya.
Namun ia memiliki dua amalan batin yang kebanyakan umat Islam tidak mampu melakukannya:
1. Ia bersihkan hatinya dari semua bentuk ghisy (kecurangan, ketidak tulusan) terhadap kaum muslimin.
Ghiys berasal dari kata kerja dasar ( غَشَّ يَغُشُّ غِشًّا ). Imam Ibnu Faris dalam Mu'jam Maqayisil Lughah dan imam Al-Jauhari dalam Ash-Shihah menyatakan makna dari ghasy-sya adalah tidak tulus memberikan nasehat, kebalikan dari memberi nasehat. Imam Al-Fayyumi dalam Al-Mishbah Al-Munir menjelaskan makna kata tersebut adalah tidak memberinya nasehat dan menampakkan kepada orang lain sesuatu yang buruk sebagai sesuatu yang bermanfaat. Pendapat serupa disebutkan oleh imam Ibnu Mandhur dalam Lisanul 'Arab. Sementara itu imam Al-Murtadha Az-Zubaidi dalam Tajul 'Arusy Syarh Jawahirul Qamus mengartikan kata tersebut dengan maknaghil, kedengkian dalam hati.
Secara istilah, imam Abdur Rauf Al-Munawi menjelaskan bahwa istilah ghisy berarti mencampurkan antara sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk. Dalam dunia jual beli, imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Az-Zawajir 'an Iqtirafil Kabair menjelaskan bahwa ghisy adalah pemilik barang mengetahui bahwa pada barangnya ada cacat atau kekurangan kemudian ia menutup-nutupi dan tidak menjelaskannya kepada calon pembeli. Padahal seandainya pembeli mengetahui cacat tersebut niscaya ia tidak akan rela membelinya dengan harga yang terlanjur ia bayarkan.
Seperti dijelaskan secara bahasa dan istilah oleh para ulama di atas, ghisy berarti tidak bersikap tulus, tidak bersikap jujur, cenderung memiliki "ganjalan" atau "kedengkian" dalam hati terhadap muslim lainnya. Jika ia memberi saran kepada saudaranya, maka saran tersebut tidak sepenuhnya baik, bahkan cenderung berisi hal-hal yang mestinya tidak dilakukan. Jika ia memberi kritikan, maka tidak ada ketulusan dalam kritik tersebut, lebih bertujuan untuk membongkar kesalahan dan menjatuhkan kehormatan orang yang ia kritik.
Di dalam hatinya ada "ganjalan", ketidak sukaan, dan kedengkian terhadap orang lain. Ia tidak benar-benar tulus menginginkan orang lain baik dan bahagia. Ia tidak mencintai untuk orang lain hal-hal yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Ia tidak membenci untuk orang lain hal-hal yang ia benci untuk dirinya sendiri. Inilah hakekat ghisy.
2. Ia bersihkan hatinya dari semua bentuk hasad (iri hati dan kedengkian) terhadap kaum muslimin.
Hasad adalah tidak suka melihat orang lain mendapatkan kenikmatan sehingga ia menginginkan nikmat itu lenyap dari orang lain tersebut dan beralih kepada dirinya sendiri. Demikian disebutkan oleh imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumid Dien dan imam Al-Jurjani dalam At-Ta'rifat.  Imam Al-Munawi mengatakan: "Hasad adalah menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang yang mendapatkan kenikmatan." Penjelasan yang serupa diuraikan oleh imam Al-Mawardi dalam Adab Ad-Dunya wa Ad-Din.
Hasad berarti tidak senang hatinya dan tidak kuat matanya melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah. Ia tidak senang jika orang lain senang. Ia menginginkan kesenangan dan kenikmatan tersebut untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Ia tidak bisa bahagia jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan kebahagian dari Allah. Ia bahkan berangan-angan kenikmatan tersebut hilang dari orang lain, dan beralih kepada dirinya.
Orang yang hasad adalah orang yang keimanan dan akhlaknya kurang baik. Keimanannya kepada takdir kurang benar, karena ia keberatan, tidak senang dan memendam sikap protes terhadap Allah yang telah mengaruniakan kenikmatan kepada orang lain. Padahal Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Akhlaknya kurang baik, karena jiwa persaudaraan dalam jiwanya lemah. Padahal seorang muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara. Jika saudaranya senang, maka ia ikut senang. Dan jika saudaranya susah, maka ia ikut susah.
Saudaraku seislam dan seiman
Sahabat Anshar ini memiliki samahatul qalb, kelapangan hati atau salamatul qalb, hati yang bersih dna sehat. Hatinya bersih dari segala bentuk ketidak tulusan dan kedengkian kepada sesama muslim. Tulus dan tidak mendengki kepada sesame muslim adalah amalan hati. Namun dampaknya sangat besar dalam pergaulan seorang muslim dengan kaum muslimin lainnya.
Banyak orang mampu melakukan shalat sunah, puasa sunah, sedekah sunah, atau bahkan haji "sunnah" berulang kali. Namun amat sedikit orang  yang mampu mensucikan jiwanya dari penyakit ganas yang merontokkan keimanan dan akhlak; ghisy dan hasad. Semoga kita bisa meneladani sahabat Anshar dalam hadits di attas yang dijamin surga oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber:arrahmah


Memuliakan Bulan Muharram, bagaimanakah ?



Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah. Bulan Muharram memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Al-Qur'an dan as-sunnah. Allah Ta'ala menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam setahun.
Muharram adalah bulan haram
Di dalam Al-Qur'an Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Di antara dua belas bulan tersebut terdapat empat bulan yang haram. Itulah dien yang lurus. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan (haram) tersebut." (QS. At-Taubah [9]: 36)
Dalam hadits shahih dijelaskan:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Sesungguhnya tahun telah kembali seperti kondisinya semula seperti pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan haram yang berturut-turut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijah dan Muharram. Satu bulan haram lainnya adalah Rajab, bulan bangsa Mudhar yaitu yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban." (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)
Mayoritas ulama tafsir menyatakan makna dari firman Allah "Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan  tersebut" adalah janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada empat bulan haram tersebut. Maksud dari menzalimi sendiri di sini adalah melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.
Bukan berarti di selain empat bulan haram tersebut seorang muslim boleh melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Tidak demikian maknanya. Namun maksudnya adalah haram melakukan kemungkaran dan kemaksiatan dalam bulan apapun. Hanya saja kemungkaran dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan haram akan lebih besarnya dosanya di sisi dan lebih pedih siksaannya di sisi Allah Ta'ala.
Hal itu seperti halnya keharaman mengucapkan kata-kata kotor dan melakukan kemaksiatan pada bulan apapun. Namun keharaman tersebut akan semakin kuat pada bulan haram, Dzulhijah, saat seorang muslim berada di tanah haram, Makkah, dalam rangka menunaikan ibadah haji. Seperti difirmankan oleh Allah Ta'ala:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
"Haji itu dikerjakan pada bulan-bulan yang telah diketahui (yaitu bulan haram Dzulhijah). Maka barangsiapa melaksanakan haji pada bulan tersebut, janganlah ia melakukan hal yang keji, janganlah melakukan kefasikan dan jangan pula berdebat kusir selama melaksanakan haji." (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Muharram adalah "bulan Allah"
Allah Ta'ala juga memuliakan bulan Muharram dengan menyebutnya sebagai "bulan Allah".
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib lima waktu adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)
Semua bulan dalam setahun yang berjumlah dua belas bulan adalah bulan Allah. Allah Ta'ala yang menciptakan dan mengaturnya. Namun demikian secara khusus Allah Ta'ala menyatakan bulan Muharram sebagai milik-Nya dan bulan-Nya. Hal ini merupakan sebuah bentuk pemuliaan dan pengagungan Allah terhadap bulan ini. Sama halnya Allah memuliakan Ka'bah dengan menyebutnya sebagai rumah Allah (Baitullah), meskipun semua masjid di muka bumi pada hakekatnya adalah milik Allah dan rumah-Nya.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Lathaiful Ma'arif, menulis: "Para ulama telah berbeda pendapat tentang bulan apakah yang paling mulia? Imam Hasan Al-Bashri dan lainnya mengatakan bulan yang paling utama adalah bulan Allah, Muharram. Pendapat ini dikuatkan oleh sekelompok ulama generasi belakangan.
Wahab bin Jarir meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid dari Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memulai tahun dengan bulan haram (Muharram) dan mengakhiri tahun tersebut juga dengan bulan haram (Dzulhijah). Maka di dalam setahun, setelah bulan Ramadhan tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Alllah dari bulan Muharram. Sampai-sampai pada zaman dahulu dinamakan bulan Muharram yang tuli karena besarnya keharaman (berbuat maksiat pada bulan tersebut)."
Imam An-Nasai meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghiffari radhiyallahu 'anhu berkata: "Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam: "Wahai Rasulullah, (memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa)? Bagian malam apakah yang paling baik? Dan bulan apakah yang paling utama?"
Maka beliau bersabda:  
«أَزْكَى الرِّقَابِ أَغْلَاهَا ثَمَنًا، وَخَيْرُ اللَّيْلِ جَوْفُهُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ شَهْرُ اللهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ»
"(Memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa) adalah (memerdekakan) budak yang paling mahal harganya. Bagian malam yang paling baik adalah pertengahan malam. Dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian namakan bulan Muharram." (HR. An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 4202)
Muharram: Bulan Allah dan amalan Allah
Semua amal shalih sangat dianjurkan untuk ditingkatkan di bulan Muharram, baik dari sisi kwantitas maupun kwalitas. Salah satunya adalah puasa sunnah. Dianjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini. Puasa bulan Muharram memiliki keistimewaan sendiri, sebab puasa adalah amal kebaikan milik Allah, dan bulan Muharram adalah bulan milik Allah.
Puasa adalah amal kebaikan yang telah diakui Allah sebagai "milik-Nya" dan Allah sendiri yang akan memberikan balasan pahalanya. Sebagaimana dijjelaskan dalam hadits shahih:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: "Puasa itu khusus milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."(HR. Bukhari no. 7492 dan Muslim no. 1151)
Saat amalan istimewa milik Allah dikerjakan pada bulan istimewa milik Allah, tidak heran apabila puasa sunnah di bulan Muharram merupakan puasa sunnah yang paling utama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih:  
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram." (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)
Mari kita muliakan bulan Muharram ini dengan meningkatkan kwalitas dan kwantitas amal-amal kebajikan kita. Semoga Allah memberikan bonus istimewa untuk itu, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya sendiri. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: arrahmah

Hakikat Puasa Tasu'a dan 'Asyura



Hari ini adalah Kamis tanggal 8 Muharram 1434 H. Besok adalah Jum'at tanggal 9 Muharram 1434 H. Lusa adalah Sabtu tanggal 10 Muharram 1434 H. Tiga hari ini adalah hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah.
Hari Kamis disunahkan berpuasa sebagai bagian dari puasa sunnah Senin dan Kamis. Adapun hari Jum'at, 9 Muharram, adalah hari disunahkan puasa Tasu'a. Sedangkan hari Sabtu, 10 Muharram, adalah hari disunahkan puasa 'Asyura.
Sejarah puasa 'Asyura
Hari 'Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir'aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum 'Asyura.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallalhu 'alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari 'Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: "Ada apa ini?"
Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini."
Nabi shallallalhu 'alaihi wa salam bersabda, "Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian." Maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa 'Asura."(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130)
Kaum musyrik Quraisy sendiri juga telah melaksanakan shaum 'Asyura pada zaman jahiliyah. Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka'bah (kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam juga telah melakukan puasa 'Asyura sejak sebelum diangkat menjadi nabi sampai saat beliau berhijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, wallahu a'lam, puasa 'Asyura diwarisi oleh kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimas salam.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ الله رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ»
Dari Aisyah radiyallahu 'anha berkata: "Mereka biasa melakukan puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram) sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut Ka'bah diberi kain penutup (kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Baarangsiapa ingin berpuasa 'Asyura, silahkan ia berpuasa. Dan barangsiapa ingin tidak berpuasa 'Asyura, silahkan ia tidak berpuasa." (HR. Bukhari no. 1592)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ»
Dari Aisyah radiyallahu 'anha berkata: "Kaum musyrik Quraisy mengerjakan puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram) sejak zaman jahiliyah. Demikian pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengerjakan puasa 'Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Kemudian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari 'Asyura. Maka barangsiapa ingin, ia boleh berpuasa 'Asyura. Dan barangsiapa ingin, ia boleh tidak berpuasa." (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125, dengan lafal Bukhari)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam pada waktu di Madinah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shaum 'Asyura.
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: " أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ "
Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa salammemerintahkan seseorang dari suku Aslam: "Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari Asyura'." (HR. Bukhari no. 2007 dan Muslim no. 1824)
عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ: «مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ»، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
Dari Rubayyi' binti Mu'awwidz radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salammengirimkan seorang pemberi pengumuman pada pagi hari 'Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan "Barangsiapa siapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampai akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa."
Sejak saat itu kami selalu berpuasa 'Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa 'Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan kepadanya mainana itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka." (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Dengan turunnya kewajiban puasa Ramadhan, maka status hukum puasa 'Asyura berubah dari wajib menjadi "sekedar" sunah.
Sejarah puasa Tasu'a
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam melakukan puasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa 'Asyura, maka para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani."
Maka beliau bersabda, "Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah."
Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam telah wafat."(HR. Muslim no. 1134)
Keutamaan puasa Tasu'a dan 'Asyura
1.Wujud syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan orang-orang kafir, yaitu selamatnya Nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam bersama Bani Israil dari kejahatan Fir'aun dan bala tentaranya. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
2.Meneladani nabi Musa, Harun dan Muhammad 'alaihimus shalatu was salam, yang berpuasa pada hari 'Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
3.Meneladani para sahabat radhiyallahu 'anhum yang melakukan puasa 'Asyura, bahkan melatih anak-anak mereka untuk melakukan puasa 'Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
4.Menghapuskan dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya, selama kesyirikan dan dosa-dosa besar dijauhi.
Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu bahwasanya:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ»
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ditanya tentang puasa hari 'Asyura, maka beliau bersabda: "Ia dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu."(HR. Muslim no. 1162)
Tingkatan puasa Tasu'a dan 'Asyura
Para ulama menjelaskan ada tiga tingkatan terkait puasa Tasu'a dan 'Asyura:
1.   Puasa satu hari saja yaitu pada hari 'Asyura. Hadits-haditsnya telah disebutkan di atas.
2.   Puasa dua hari, yaitu hari Tasu'a dan hari 'Asyura. Hadits-haditsnya telah disebutkan di atas.
3.   Puasa tiga hari, yaitu sehari sebelum 'Asyura (yaitu hari Tasu'a), hari 'Asyura dan sehari setelahnya (tanggal 11 Muharram). Pendapat disunahkan puasa sehari setelah 'Asyura ini didasarkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas. Hanya saja ia bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, melainkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dan sanadnya lemah.
Meski demikian ia bisa dibolehkan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan. Misalnya hadits,
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ: " صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَلَا أَنَامُ إِلَّا عَلَى وِتْرٍ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; "Kekasihkau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam) berwasiat kepadaku dengan tiga hal; puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir." (HR. Abu Daud no. 1432, Ahmad no. 7512, Abu Ya'la no. 2619, Abdur Razzaq no. 2849 dan Ibnu Khuzaimah no. 1222, hadits shahih)
Wallahu a'lam bish-shawab

sumber:arrahmah

Ganjaran Seseorang Yang Menunggu Kebaikan


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ.
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Seorang hamba masih tetap dalam (pahala) shalat selama ia di masjid menunggu shalat, selama ia tidak batal wudhu” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang telah mengundang kita dan sanubari kita, dengan diberi keluhuran dan cahaya untuk melangkahkan kaki kita, serta mengorbankan apa yang perlu kita korbankan dari harta kita demi kehadiran kita di tempat yang mulia ini. Sungguh cahaya keluhuran diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada nama-nama hamba yang terpilih untuk mendapatkan keluhuran ini, maka nama kita semua tercantum dalam kelompok yang mendapatkan cahaya Rabbani, untuk hadir dalam cahaya pengampunan Allah subhanahu wata’ala, hadir dalam kelembutan Allah subhanahu wata’ala, hadir dalam kelompok yang disayangi Allah, yang selalu dituntun oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menuju keluhuran yang lebih dari yang telah kita lewati, dari kehinaan menuju pada keluhuran dan dari keluhuran menuju pada keluhuran yang lebih mulia, demikianlah rahasia undangan Allah subhanahu wata’ala kepada kita semua di malam hari ini, maka seharusnyalah kita mensyukuri nikmat ini kepada Allah subhanahu wata’ala, dan mengagungkan serta memujiNya, dimana dengan memuji Allah subhanahu wata’ala maka kita akan semakin luhur dan semakin dicintai Allah subhanahu wata’ala. Lihatlah rahasia keluhuran Allah subhanahu wata’ala di alam semesta ini, yang mana kesemuanya merupakan bentuk pelajaran bagi kita dalam kehidupan dunia ini. Sebagaimana kita melihat makhluk-makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala yang ada, kesemuanya menuntun kita untuk berfikir akan keagungan Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Menciptakan. Dan kesemua itu juga menuntun kita untuk mengenal hal-hal yang luhur, mengenal hal-hal kehinaan, mengenal hal yang bermanfaat dan mengenal pula hal yang tidak bermanfaat. Dapat kita renungkan dalam kehidupam setiap hewan, dimana banyak diantara hewan yang memakan dedauan, seperti halnya ulat ketika memakan dedaunan maka ulat itu dapat menjadi sutera. Namun ketika dedaunan tersebut dimakan oleh kambing maka akan dapat menghasilkan susu, dan ketika dedaunan itu dimakan oleh kijang maka akan menghasilkan misik (mimyak wangi), dan jika dedaunan itu dimakan oleh lebah maka lebah akan menghasilkan madu, dan terkadang dimakan oleh hewan yang lain namun tidak menghasilkan apa-apa, padahal dari sumber makanan yang sama yaitu dedaunan namun Allah subhanahu wata’ala mampu menjadikan dari setiap hewan tersebut sesuatu yang berbeda dan beraneka ragam. Demikianlah jika kita mengambil pengetahuan atau ilmu-ilmu tersebut maka hal itu akan menuntun kita kepada Allah subhanahu wata’ala dan membuka rahasia samudera manfaat yang demikian luas, namun jika pengetahuan tersebut kita lupakan tanpa kita bertafakkur didalamnya maka akan terlewatkan begitu saja, sedangkan waktu terus berputar dan semakin cepat berlalu dimana waktu yang telah terlewatkan tidak akan pernah lagi kembali kepada kita. Dijelaskan oleh para Ilmuwan, dimana mereka menemukan suatu penemuan yang mengejutkan yaitu resonansi schumann, dimana getaran alami anatara bumi dan ionosfer. Dimana pada tahun 1950 resonansi tersebut di ukur pada skala 7,8 hertz , namun pada tahun 1980 resonansi itu berada pada skala ukur 11 hertz, hal yang sangat mengejutkan karena frekuensi menunjukkan mempercepat waktu, dimana waktu 24 jam bagaikan 16 jam. Maka hal ini merupakan penemuan yang sangat mengejutkan dimana waktu berakhirnya kehidupan di bumi ini telah semakin dekat. Sebagaimana kita rasakan di zaman dulu waktu tidak berlalu secepat ini, dan hal ini telah dikabarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi bahwa yang termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah semakin berdekatan dan cepatnya zaman.
Waktu semakin dipercepat oleh Allah subhanahu wata’ala, maka seharusnyalah waktu yang tersisa ini diisi dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki hubungan kita dengan Allah yaitu ibadah kita kepada Allah subhanahu wata’ala , serta memperbaiki hubungan kita dengan sesama makhluk yaitu semakin mempererat hubungan kita dengan yang lain dengan peduli keadaan mereka seperti dengan memperkenalkan majelis-majelis ta’lim atau majelis dzikir kepada yang belum mengenalnya, bahkan diantara mereka banyak yang memerangi dan mencaci orang-orang yang hadir di majelis ta’lim dan majelis dzikir, maka selayaknya untuk selalu kita doakan agar mendapat hidayah dari Allah subhanahu wata’ala. Maka semakin cepatnya waktu berlalu, semakin dekat pula detik-detik perjumpaan kita dengan Allah subhanahu wata’ala. Sungguh seseorang yang senantiasa merindukan dan ingin berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, maka waktu yang terlewati dalam siang dan malamnya terlewatkan kemuliaan. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan bahwa seseorang masih berada dalam pahala kemuliaan shalat selama ia dalam keadaan menunggu shalat dan ia tetap dalam keadaan suci ( tidak berhadats ). Disebutkan dalam riwayat lain dalam Shahih Al Bukhari bahwa suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di pertengahan malam, dan di saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati para sahabat menunggu kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,, maka ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh kalian masih terhitung dalam pahala melakukan shalat sebab menunggu waktu dilakukan shalat“. Maka mulai dari adzan Isya’ hingga pertengahan malam, mereka terhitung dalam melakukan shalat, meskipun diantara mereka ada yang hanya duduk menunggu, diantara mereka ada yang berdzikir, diantara mereka ada yang bertafakkur dan lainnya, akan tetapi kesemua itu dihitung oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai pahala shalat karena mereka dalam keadaan menanti shalat. Oleh sebab itu sering kita dapati para ulama’ kita jika kita perhatikan ketika mereka berada dalam suatu majelis ilmu, dan ketika itu suara adzan telah dikumandangkan namun mereka tetap melanjutkan mejelis ilmu tersebut. Kita ketahui sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sebaik-baik perbuatan adalah melakukan shalat pada awal waktu. Akan tetapi hadits tersebut bersifat “Aam Makhsus”, yaitu bersifat umum namun terdapat pengecualiannya yaitu diantaranya jika terdapat suatu hal yang menyibukkan kita dan bukan termasuk hal yang bersifat duniawi, tetapi bersifat ukhrawi seperti majelis ta’lim atau majelis dzikir, maka tidak mengapa untuk dilanjutkan dan menunda waktu shalat, justru kita akan mendapatkan pahala melakukan shalat selama menanti dilakukannya shalat jama’ah. Disebutkan juga dalam riwayat lain dalam Shahih Al Bukhari dimana ketika sayyidina Bilal telah mengumandangkan adzan, dan para sahabat telah melakukan shalat sunnah qabliyah serta sayyidina Bilal telah siap untuk melantunkan iqamah shalat, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu berdiri dan menemui seorang tamu yang datang keapda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbicara dengan orang tersebut dalam waktu yang cukup lama. Maka Al Imam Asqalani menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan diperbolehkannya menunda waktu pelaksanaan shalat dari waktu adzan ketika disibukkan dengan hal-hal yang bersifat akhirat seperti ta’lim, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat menunggu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat bersama mereka.
Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di pertengahan malam, dan mendapati para sahabat sedang menunggu beliau untuk melakukan shalat jamaah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Sungguh kalian masih terhitung dalam pahala melakukan shalat sebab menunggu waktu dilakukan shalat”. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasalla bersabda bahwa 100 tahun yang akan datang tidak akan ada yang hidup diantara mereka yang ada di malam itu. Begitu pula kita semua yang hadir di malam ini apakah 100 tahun yang akan datang kita masih ada di dunia ini atau kita semua telah dianggil oleh Allah subhanahu wata’ala dan kembali ke alam barzakh. Dan tentunya kita selalu berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala memanjangkan usia kita dalam rahmat dan keberkahan Allah subhanahu wata’ala. Maka selayaknya kita tanamkan dan bangkitkan sifat sabar untuk menanti dalam hal kebaikan, sebagaimana menunggu waktu shalat juga terhitung dalam pahala melakukan shalat. Al Imam Hasan berkata : “Menunggu kebaikan adalah kebaikan”, seperti halnya seseorang yang tiba di mejelis di awal waktu dan acara belum dimulai maka ia terhitung dalam pahala menghadiri majelis, terlebih lagi seseorang yang selalu ada dalam dirinya penantian untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, maka setiap detik dari waktu-waktunya terhitung dalam kemuliaan yaitu menanti perjumpaan dengan Allah subhanahu wata’ala. Dikatakan oleh guru mulia Al Habib Umar bin Hafizh bahwa kesabaran mempunyai banyak macam yang diantaranya sabar atas hal yang tidak kita inginkan, dan sabar atas hal yang kita inginkan namun belum tercapai. Sebagaimana kehidupan kita ini dipenuhi oleh hal-hal yang tidak kita inginkan, begitu juga dipenuhi dengan hal-hal yang kita inginkan namun belum terjadi. Demikianlah kehidupan di siang dan malam kita yang selalu membutuhkan kesabaran, namun manusia terkadang memiliki batas kemampuan kesabaran maka satu-satunya hal yang harus selalu dilakukan adalah berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, dimana Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu merubah setiap kejadian dan ketentuan-ketentuan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّّ الدُّعَاءُ
“ Tidak ada yang dapat merubah qadha’ (keputusan Allah) kecuali doa”
Doa seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala dapat menjadikannya dikasihani oleh Allah subhanahu wata’ala. Sungguh Allah tidak membutuhkan hamba-hambaNya, mereka yang baik atau pun mereka yang jahat, sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi :
ياَ عِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتقى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَازَادَ ذلِكَ فِي مُلْكِيْ شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفجر قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya perbuatan buruk kalian kepadaKu tidaklah merugikanKu, dan perbuatan baik kalian kepadaKu tidaklah bermanfaat untukKu. Wahai hamba-hambaKu seandainya orang yang pertama dan terakhir dari kamu, jin dan manusia dari kalangan kalian berada pada hati seseorang yang paling taqwa diantara kalian, hal itu tidak menambah kerajaanKu sedikit pun. Wahai hamba-hambaKu, seandainya orang yang pertama dan yang terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalangan kalian berada pada hati orang yang paling jahat dari kalian niscaya hal itu tidaklah mengurangi kerajaanKu barang sedikitpun.”
Maka perbanyaklah doa dan munajat, yang mana hal itu dapat merubah masa depan kehidupan kita menjadi lebih baik dan lebih cerah di dunia dan akhirat dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala. Disebutkan bahwa sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad, beliau disebut As Sajjad karena dalam setiap malamnya ia melakukan shalat sebanyak 1000 sujud. Disebutkan dalam kitab Al Ghurar bahwa Al Imam Thawus Ar mengatakan bahwa suatu waktu di sepertiga malam ketika ia mendekati maqam Ibrahim untuk melakukan shalat disana, namun ia mendapati seseorang yang terus menerus melakukan shalat di tempat hingga mendekati waktu Subuh kemudian ia berhenti melakukan shalat dan berdoa, dengan doa berikut yang di ulang-ulang :
عَبْدُكَ بِفِنَائِكَ، مِسْكِيْنُكَ بِفِنَائِكَ، فَقِيْرُكَ بِفِنَائِكَ، سَائِلُكَ بفنائك
“ HambaMu di halamanMu (dihadapanMu), hambaMu yang miskin di hadapanMu, hambaMu yang faqir di hadapanMu, hambaMu pengemis dihadapanMu”
Dan orang tersebut adalah sayyidina Ali Zainal Abidin. Kemudian Al Imam Thawus berkata : “Tidaklah aku membaca doa tersebut dan aku berada dalam kesulitan kecuali kesulitan tersebut disingkirkan oleh Allah subhanahu wata’ala”. Demikianlah doa yang sangat agung yang dilantunkan oleh sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad, begitu pula didikan beliau kepada keturunan beliau yaitu Al Imam Muhammad Al Baqir, dimana sebagaimana yan disampaikan oleh putranya : “Ayahku ketika berdoa di malam hari ia berkata :
اَللَّهُمَّ أَمَرْتَنِيْ فَلَمْ أَأْتَمِرْ وَنَهَيْتَنِيْ فَلَمْ أَنْزَجر، هَا أناَ عَبْدُكَ بَيْنَ يَدَيْكَ مُذْنِبٌ مُخْطِئٌ مُقِرٌّ بِذَنْبِيْ فَلاَ أَعْتَذِرْ
“ Wahai Allah, Engkau telah memberiku perintah namun tidak aku kerjakan, dan Engkau memberiku larangan namun tidak aku tinggalkan, inilah aku hambaMu dihadapanMu dalam keadaan berdosa dan bersalah serta mengakui akan dosaku dan tidak menutupinya dengan alasan apapun”
Dan disebutkan bahwa Al Imam Muhammad Al Baqir ketika berdoa ia menyebut nama Allah hingga nafasnya terputus, kemudian kembali menyeru nama Allah hingga nafasnya habis. Demikianlah keadaan para shalihin dan indahnya munajat dan doa mereka kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita, dan mengangkat segala kesulitan dari kita, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.


Cemburunya ALLAH SWT




قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا، وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَيْءَ، أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ، مِنْ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Tiada siapapun yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia (SWT) melarang perbuatan dosa dan jahat, yang terang terangan atau yang tersembunyi, dan tiada siapapun yang lebih suka dipuji, selain Allah, oleh sebab itulah Dia (SWT) memuji Dzat-Nya (SWT) sendiri) (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha membuka rahasia kerajaan alam semesta dengan cahaya keindahaNnya, melimpahkan cahaya keluhuran, cahaya kemuliaan dan cahaya kasih sayangNya, dan kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk melewati kehidupan yang sementara di dunia demi mencapai keridhaan Allah yang kekal dan abadi, untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan abadi. Allah subhanahu wata’ala menerangi jiwa hambaNya dengan iman, sehingga terang benderanglah jiwa itu sebab cahaya Allah, yang mana akan terlihatlah sifat-sifat kita yang hina yang kemudian kita siap untuk meninggalkannya, dengan cahaya tersebut terlihat dan terpisahlah antara sifat yang baik dan sifat yang buruk dalam hati kita hingga kita dapat membedakan dan dengan mudah untuk menjalankan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang hina. Namun ketika cahaya iman dalam hati seseorang semakin gelap, maka ia semakin tidak akan dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk, sebaliknya semakin terang cahaya iman di hati seseorang maka ia akan semakin mampu membedakan antara perbuatan yang diridhai Allah subahanahu wata’ala dan perbuatan buruk yang dimurkai oleh Allah. Hal ini akan terlihat dan tampak dengan cahaya iman. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
( النور : 35 )
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. An Nuur : 35 )



Hidup Dengan Al Qur'an

Kesibukan seorang muslim dalam mencari nafkah seringkali memakan hampir setengah usianya. Tak jarang seorang muslim harus berangkat bekerja sejak jam enam pagi, dan baru tiba kembali di rumah pada jam lima sore. Kondisi fisik yang kelelahan seringkali membuat kwantitas dan kwalitas taqarrub kepada Allah ikut anjlok.
Di antara tandanya, banyak pekerja muslim yang tidak hadir di masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib dan Isya' secara berjama'ah. Mereka melaksanakan shalat wajib di rumah. Mereka kemudian mengistirahatkan fisik yang telah lelah, dengan tidur atau menonton TV atau hiburan lainnya.
Untuk kesegaran ruhani dan pembinaan iman, mereka mengandalkan nasehat dalam khutbah Jum'at atau pengajian rutin seminggu sekali di tempat kerja atau masjid terdekat. Tidak heran apabila banyak di antara mereka kesulitan membaca mushaf Al-Qur'an beberapa halaman per hari. Bagaimana menyiasati problem spiritual seperti itu?
Sebenarnya problem itu mudah diselesaikan jika ia memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kwalitas imannya. Ia bisa membiasakan diri untuk bertahan di masjid sejenak, setelah shalat wajib, untuk membaca mushaf Al-Qur'an beberapa halaman. Misalnya setelah shalat Shubuh. Atau setelah shalat Magrib sambil menunggu adzan Isya', ia bahkan bisa membaca satu juz atau lebih, jika bacaannya lancer.
Pada awalnya, hal itu akan terasa berat. Seiring dengan perjalanan waktu, ia akan terasa ringan dan kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Rasulullah SAW memotivasi umatnya untuk banyak membaca mushaf Al-Qur'an di masjid. Beliau SAW menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an di masjid memiliki nilai keutamaan yang tidak bisa diraih di selain masjid.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ، فَقَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ، أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟»، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ، قَالَ: «أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ»
Dari Uqbah bin Amir RA berkata, "Saat kami sedang duduk-duduk di Shuffah (beranda masjid), Rasulullah SAW keluar menemui kami. Beliau bertanya, "Siapakah di antara kalian yang senang apabila ia setiap pagi berangkat ke daerah Buthan atau ke Aqiq, lalu ia kembali darinya dengan menuntun dua ekor unta besar yang berpunuk tinggi, tanpa ia melalukan dosa atau memutuskan kekerabata?"
Kami menjawab, "Wahai Rasulullah, kami semua senang akan hal itu." Beliau SAW bersabda, "Jika begitu, kenapa salah seorang di antara kalian tidak berangkat ke masjid lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat di masjid niscaya dua ayat itu lebih baik dari dua ekor unta, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, dan seterusnya?"
(HR. Muslim no. 803, Abu Daud no. 1456, Ahmad no. 17408, Ibnu Abi Syaibah no. 30074 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir no. 799)
Buthan adalah nama sebuah tempat di dekat kota Madinah. ‘Aqiq adalah nama sebuah lembah dekat kota Madinah. Menurut riwayat, kedua tempat itu merupakan pasar hewan masyarakat Arab di kota Madinah dan sekitarnya. Dengan motivasi dari Nabi Muhammad SAW ini, tidakkah kita tergerak untuk membiasakan diri membaca Al-Qur'an di masjid setiap hari?

Sumber:arrahmah
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com