photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Ilmu Laksana Fatamorgana...???




Allah SWT berfirman, 
“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)

Allah SWT menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.

Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah SWT dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah SWT,

“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Coba perhatikan, bagaimana Allah SWT menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.

Perhatikanlah firman-Nya,

“Orang yang dahaga menyangkanya air….”
Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul n dan bukan karena Allah SWT, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah SWT yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.

Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, dari Nabi SAW,

“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah SWT tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”

Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.

Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah SWT atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman,

“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)

Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.
Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.

Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah SWT tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.

Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah SWT menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.

Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.
Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.

Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.


sumber:eramuslim

Musibah Kekeringan dan Hikmahnya



Lagi-lagi kekeringan. Sepertinya kekeringan di negeri ini telah menjadi rutinitas tahunan yang dihadapi masyarakat. Bagaimana tidak, setiap musim kemarau, sebagian besar wilayah di Indonesia dilanda kekeringan. Begitu juga sebaliknya, setiap musim hujan, sebagian besar wilayah Indonesia dilanda kebanjiran. 
 
Kondisi ini pada dasarnya tidak luput dari prilaku manusia. Jika kita mau kembali membuka kembali Alquran, tampak jelas bahwa bencana alam dan krisis lingkungan akibat dari ulah merusak sebagian dari umat manusia.
 
Kerusakan lingkungan telah lama disinyalir dalam Quran. Dalam sebuah ayat Allah berfirman,”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41).
 
Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia. Bencana yang datang silih berganti bukan fenomena alam. Akan tetapi karena prilaku merusak manusia sendiri yang telah merusak alam ciptaan Allah. 
 
Para pemikir Timur dan Barat kontemporer memandang masalah utama kerusakan parah Bumi akibat terjadinya pemisahan serius antara sains dan dari spiritualitas dan nilai-nilai moral. Para pemikir menilai krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara dunia dilanda problem nilai dan spiritualitas.
 
Fritjof Capra memandang krisis lingkungan bermuara pada kesalahan cara pandang manusia modern terhadap alam semesta. Manusia modern pada umumnya masih menganut paradigma mekanistis dan reduksionistis terhadap alam semesta.
 
Implikasinya, alam sebagai objek yang selalu diekspolitasi secara berlebih. Oleh karena itu, pandangan manusia harus diubah menuju paradigma yang holistik dan ekologis.
 
Bahwa merusak alam dan lingkungan merupakan perbuatan dosa dan pelanggaran karena mengakibatkan gangguan keseimbangan di bumi.
 
Ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak perusakan terhadap lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia, termasuk akan berdampak kepada manusia yang tidak berdosa disekitarnya.
 
Dalam Islam sudah sangat terang bahwa bumi, alam, dan lingkungan diciptakan Allah SWT bukan tanpa arti. Penciptaan alam, lingkungan, bumi merupakan tanda keberadaan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya di bumi ini.
 
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,”(QS Adz-Dzariyat [51]:20).
 
Dalam Alquran, Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman,”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
 
Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir,”(QS Al-Jatsiyah [45}:13). Ayat inilah yang menjadi landasan teologis pembenaran Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam tidak melarang memanfaatkan alam, namun ada aturan mainnya. Manfaatkan alam dengan cara yang baik (bijak) dan manusia bertanggungjawab dalam melindungi alam dan lingkungannya serta larangan merusaknya.
 
Manusia sebagai khalifah (wakil atau pengganti) Allah, salah satu kewajiban atau tugasnya adalah membuat bumi makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia.
 
Kini manusia harus lebih ramah terhadap alam semesta melebihi sebelumnya. Untuk mewujudkan kedamaian dan keseimbangan dengan lingkungan, manusia harus memiliki ikatan yang kokoh dengan pencipta alam semesta.
 
Orang yang mematuhi aturan ilahi, maka ia juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam semesta.
 
Merusak dan mencemari lingkungan menyebabkan terjadinya berbagai bencana seperi kekeringan saat ini. Untuk itu, Islam mengharamkan setiap tindakan yang merusak alam. Dalam Islam, kerusakan lingkungan juga mengakibatkan kerusakan sosial yang menyebabkan terjadinya perampasan terhadap hak jutaan orang. Saatnya menjaga kelestarian lingkungan.



Sumber: republika
 

Takkan Pernah Terkalahkan Takdir Allah




IBNU SAID BIN HAZM yang tidak lain merupakan ayah dari Ibnu Hazm ulama pengasas madzhab Adz Dzahari dari Andalusia merupakan seorang menteri di pemerintahan Al Manshur. Suatu saat sang amir memerintahkan Ibnu Said untuk menulis vonis mati terhadap seorang tahanan yang ditujukan kepada pihak aparat kemanan.
Ibnu Said pun menjalankan perintah Al Manshur, namun setelah sang amir mengetahui yang ditulis Ibnu Sa’id, ia justru marah besar, sambil melempar kertas itu kepada menterinya Al Mansur menyatakan,”Siapa yang menyuruh engkau membebaskan tahanan itu!?”
Ternyata Ibnu Sa’id keliru dalam menulis, mestinya ia menulis “yuslabu” (disalib) namun yang tertulis adalah “yuthlaqu” (dibebaskan). Ibnu Sa’id pun menyampaikan, “Aku berniat menulis “disalib”, demi Allah agar ia “disalib””.
Akhirnya Ibnu Sa’id pun menulis kembali apa yang diperintahkan sang amir. Namun setelah pesan tertulis, sang amir pun kian marah, karena hal tertulis di kertas itu sama dengan yang tertera di kertas yang pertama, bahwa tahanan itu “dibebaskan”. 
Kembali Ibnu Sa’id menulis ulang perintah itu, namun Al Manshur semakin murka dengan apa yang tertulis bahwa tahanan itu “dibebaskan”, meski Ibnu Sa’id bermaksud menulis “disalib”. Akhirnya sang amir pun merasa heran dengan kesalahan itu dan mencoba merenung  sampai akhirnya ia menyatakan,”Baik, ia dibebaskan meski aku tidak menghendaki hal itu. Barang siapa yang dikehendaki Allah bebas aku tidak mampu mencegahnya”. 

sumber:hidayatullah

KISAH ASHABUL KAHFI & PENCEGAHAN PENYAKIT

Kisah Ashabul kahf menceritakan tentang beberapa orang pemuda dengan seekor anjing yang ditidurkan Allah selama 309 tahun.


Ashabul kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah yang keluar dari negeri untuk menyelamatkan aqidah daripada ditangkap oleh Maharaja Rome yang zalim.



Disebabkan atas niat yang tulus Allah memudahkan sehingga mereka menjumpai sebuah gua dan tertidur di dalamnya sampai waktu yang sangat panjang.



Ajaibnya,mereka tertidur tanpa memerlukan makan dan minum.Allah membolak-balikkan tubuh mereka sehingga tidaklah membeku darah pada salah satu bagian tubuhnya.Ini semua termasuk hikmah Allah.



Allah berfirman, “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”



(QS Al Kahfi: 18).



Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?).”



Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.”

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).


Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa wang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.



(QS Al Kahfi : 19)



Pada akhirnya, ketika para Ashabul Kahfi itu terbangun,pemerintahan telah berganti. Para penduduk negeri telah berganti kepada penduduk yang bertakwa kepada Allah. Dan ketika mereka mengetahui kisah para pemuda itu,tidak lama kemudian para Ashabul kahfi pun meninggal dunia. Selanjutnya para penguasa di waktu itu berkeinginan untuk membangunkan masjid di atas kuburan-kuburannya.



Allah berfirman, “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”



(QS Al Kahfi: 21).



Namun begitu terdapat satu ayat dalam Surah Al-Kahfi yang benar-benar menarik perhatian saya iaitu firman ALLAH SWT :



dan kamu sangka mereka sedar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri; sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika kamu melihat mereka, tentulah kamu akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah kamu akan merasa sepenuh-penuh gerun takut kepada mereka.



(Surah Al-Kahfi : 18 )



Ayat “dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri” membawa maksud pemuda-pemuda itu tidur dalam posisi yang tidak tetap dan sentiasa berubah-ubah.Ini kerana perlakuan membalik-balikkan badan dapat dijadikan langkah pencegahan daripada mendapat pelbagai jenis penyakit.



Antaranya :



Bed sore



Bedsore adalah satu penyakit yang merosakkan kulit dan tissue yang berpunca dari tekanan berlebihan.Tekanan ini mampu memusnahkan saluran darah.Apabila saluran darah ini pecah maka oksigen dan nutrient yang sepatutnya dibekalkan kepada cell menjadi terhenti.Ini mengakibatkan cell-cell yang terlibat mati.



Penyakit ini sering terjadi di bahagian paha dan punggung kerana bahagian ini sering terdedah kepada tekanan sewaktu duduk atau baring.



Pesakit yang tidak mampu bangun untuk mengubah posisi sering diancam penyakit ini.



Bukan itu sahaja,tindakan Allah membolak-balikkan pemuda-pemuda itu telah menyelamatkan mereka dari terjadinya muscle atropy.Sudah pasti 309 tahun itu adalah satu tempoh yang sangat lama.



Muscle atrophy



Muscle atrophy bermaksud kehilangan tissue muscle akibat dari kekurangan aktiviti fizikal.

Kondisi ini juga sering terjadi pada pesakit yang terlantar atau orang malas yang tidak mahu bergerak.


Bayangkan pesakit yang terlantar selama sebulan di hospital boleh mengalami pengurangan jisim muscle sebanyak 10 peratus apatah lagi 309 tahun.Inilah hikmah dan kekuasaan Allah SWT.Apa gunanya mereka bernyawa tetapi tidak mampu untuk begerak.Ketiadaan otot menyebabkan seseorang tidak mampu menghasilkan pergerakan.



Langkah pencegahan kedua penyakit ini telah Allah tunjukkan kepada manusia sekian lama,sebelum manusia mengetahuinya.



SUBHANALLAH




sumber:speedytaqwa

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com