photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Jagalah Do’a Agar Hati Tetap Hidup



APAKAH yang paling sering kita mohonkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam doa-doa kita? Apa alasan kita meminta kepada Allah hal-hal itu?
Ya, benar. Mungkin, karena ia sangat penting, mendesak, atau menjadi pusat gravitasi kehidupan kita sehari-hari. Menurut kita, jika hal-hal itu tidak terpenuhi atau gagal, hidup kita akan terganggu, rusak, bahkan tidak bermakna lagi.
Demikianlah, karena doa adalah cermin kecenderungan dan pengharapan seseorang. Ia tidak berisi hal-hal remeh, namun ia merefleksikan siapa jatidiri pengucapnya. Doa menunjukkan bagaimana seseorang menilai hakikat kehidupan serta perkara-perkara yang disertakan dalam doanya itu. Memang, sangat mungkin bahwa isi doa seseorang akan dianggap sepele oleh orang lain, tetapi secara subyektif ia sangatlah penting bagi orang yang memanjatkannya.
Di sisi lain, secara alamiah manusia hanya akan berdoa ketika merasa lemah dan tidak mampu meraih sesuatu dengan bersandar pada dirinya sendiri. Doa hanya diucapkan oleh orang yang merasa tidak berdaya di hadapan Tuhannya. Orang sombong tidak akan pernah berdoa, sebab ia merasa dirinya kuat dan mampu mewujudkan segalanya dengan kemampuannya sendiri. Oleh karenanya, doa termasuk inti ibadah, dan Allah sangat murka jika hambanya tidak mau berdoa.
Diriwayatkan oleh al-‘Askary dalam al-Mawa’izh, dengan sanad dha’if,  bahwa Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepadaku, maka Aku murka kepadanya.”
Oleh karenanya, ada banyak doa dalam Al-Qur’an dan hadits. Bahkan, seluruh momen hidup Rasulullah dipenuhi dengan doa. Mulai dari bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, memakai baju, bercermin, makan, keluar rumah, naik kendaraan, dst. Beliau terbiasa berdoa di hadapan orang banyak seperti ketika berhaji atau memimpin shalat, dan tetap berdoa di saat-saat paling privat yang beliau jalani bersama istri-istrinya.
Lalu, apa pentingnya doa bagi kita? Pada dasarnya, doa akan mengajarkan kita untuk merendahkan diri, tawadhu’ dan mengakui keterbatasan diri sendiri. Sikap-sikap inilah yang akan melembutkan jiwa dan memudahkan masuknya nasihat, pesan-pesan kebaikan, serta bisikan hati-nurani. Sebaliknya, manusia yang tidak pernah atau tidak mau berdoa, hatinya akan mengeras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi. Ia sulit mengenali kebenaran dan tidak peka kepada kebajikan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, ia akan kehilangan sifat manusiawinya dan berubah menjadi Iblis. Tahukah Anda, bahwa penyakit pertama yang menyesatkan Iblis adalah kesombongan? Karena sombong, ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Kesombongan melbuat Iblis gagal mengenali hakikat perintah itu. Ia secara sempit hanya “memandang Adam”, dan tidak “melihat Allah” yang memerintahkannya bersujud.
Oleh karenanya, kita diperintahkan menjaga shalat lima waktu. Rasulullah bersabda, “Perjanjian diantara kami dan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkannya, maka dia telah kafir.” (Riwayat Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Buraidah al-Aslami. Isnad-nya shahih).
Mengapa shalat? Ya, karena – secara bahasa – shalat berarti doa. Dalam shalat lah kita diajarkan untuk membungkukkan diri, duduk bersimpuh, dan bahkan meletakkan wajah kita di tanah, semata-mata untuk menunjukkan kerendahan dan kelemahan kita di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan dan keistimewaan tatacara shalat diantara sesama muslim. Sebab, kita semua sama-sama manusia, dan yang besar hakikatnya hanyalah Allah. Sebaliknya, jika seseorang tidak mau lagi membiasakan diri untuk merendah di hadapan Allah dan bersikap tawadhu’ kepada sesama, maka benih-benih kesombongan Iblis akan tumbuh subur dalam jiwanya. Sebentar lagi, kemungkinan besar, ia pun akan menjadi kafir seperti Iblis.
Di antara manfaat lain dari menjaga shalat adalah menciptakan kepekaan untuk mengenali kemunkaran dan kemudian diberi kekuatan untuk meninggalkannya.
Allah berfirman;
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS. al-‘Ankabut: 45).
Demikianlah, jika seseorang bersungguh-sungguh mengerjakan shalat dan memahami doa-doanya, jiwanya akan sangat sensitif tetapi sekaligus sangat kuat. Ia sensitif terhadap hal-hal di sekitarnya, apakah ma’ruf atau munkar, namun juga kuat berpegang pada prinsipnya dan tidak takut dimusuhi orang lain karenanya.
Dikisahkan bahwa Nawwas bin Sam’an al-Anshari bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa-apa yang terasa mengganjal di hatimu dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (Riwayat Muslim).
Inilah kepekaan hati seorang muslim sejati. Dalam hadits lain, beliau bersabda,
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu.” (Riwayat Nasa’i dan Tirmidzi. Hadits hasan-shahih). Tentu saja, tidak sembarang orang bisa merasakan seperti ini. Banyak orang yang hatinya justru telah mati dan tidak nyambung samasekali terhadap sinyal-sinyal kemunkaran. Ia tidak ubahnya hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (QS. al-A’raf: 79 dan al-Furqan: 43-44).
Maka, agar hati kita tetap hidup, kita harus selalu menjaganya dengan berdoa, terutama dalam shalat. Jangan sampai kita tidak mengerti untuk apa doa-doa itu, karena – jika tidak dipahami – ia tidak akan membekaskan pengaruhnya dalam diri kita. Mungkin, inilah penyebab mengapa ada banyak orang terbiasa yang mengerjakan shalat, namun sekaligus ahli maksiat. Astaghfirullah!.


sumber:hidayatullah

Tebar Kebaikan, Lawan Kebathilan !



RASULULLAH Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pernah mengingatkan kita, "Kamu kini jelas atas petunjuk dari Rabbmu, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar dan berjihad di jalan Allah." Kemudian Rasulullah melanjutkan, "Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih ke situ dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan al-Qur'an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam." (HR. Al-Hakim dan At-Tirmidzi).

Dalam sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup.

Amar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah merupakan tugas keummatan yang sangat mulia. Al-Quran mengatakan; 

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maUruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali-Imran: 104)

Menegakkan kebenaran dalam konteks ini berarti harus disertai dengan mencegah tindakan munkar. Demikian sebaliknya, bila kebenaran telah tegak maka kita dituntut memberantas kemungkaran. Sekecil apapun kebenaran yang sudah mulai berkecambah dalam jiwa, maka segeralah diekspor ke alam sekelilingnya. Agar dia tumbuh lebih besar, berkecambah dan menjadi semarak. Pada proses itu berarti ada terdapat pertarungan antara dua kutub kejahatan dengan kebaikan, al-Haq dan al-Batil, hukum Tuhan versus hukum taghut (syetan).

Pada kenyataannya tugas ini amat sangat luar biasa berat. Seiring dengan arus materialisme yang kian merajalela, jumlah orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab turut menegakkan dakwah Islam semakin menyusut. Tugas dakwah menjadi pilihan nomor sekian.

Tugas misi ini memang menuntut banyak pengorbanan, perjuangan yang tak kenal lelah, mental yang kuat, jiwa yang kokoh, kesabaran yang ekstra, tahan terhadap gunjingan, siksaan, cemoohan dan berbagai ujian penderitaan lahir-bathin yang lain. 

Dalam catatan sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup. Mereka memilih demikian bukan karena tidak menyukainya, akan tetapi untuk selalu menjaga kebersihan dirinya dan cita-citanya. Agar selalu murni dan tidak tergelincir oleh bujuk rayu syetan yang sangat halus dan setia mengintainya setiap waktu.

Kalaupun ada peluang untuk menjadi kaya, mereka tidak secara rakus memanfaatkannya. Bahkan Imam Malik rela dipenjara dan disiksa oleh Penguasa karena penolakannya ditunjuk menjadi hakim. Padahal tugas sebagai hakim tidak sedikit menjanjikan uang dan harta benda. Posisi pada jabatan ini memungkinkan orang bisa dengan mudah meraup kekayaan.

Sebaliknya, dari jaman ke jaman kecintaan kepada harta benda semakin merajalela. Misalnya, pada pilihan pendidikan. Berapa banyak dari remaja kita yang berjuta-juta itu memilih spesialisasi sekolahnya disertai niatan menegakkan agama Allah di masyarakatnya? Berapa banyak dari remaja kita yang dari waktu ke waktu dalam jam belajarnya menetapkan keprihatinan hatinya? Media massa kita juga rupanya ikut membangun masyarakat materialistik dengan muatan-muatannya yang lebih banyak menumpulkan hati nurani manusia. Banyak media bukan menjadikan masyarakat lebih beriman, bahkan semakin jauh dari agama dan keyakinannya.

Seiring dengan itu generasi kita terus dibujuk dan dirayu untuk masuk ke dalam kehidupan hedonis. Kehidupan yang sebenarnya membuat renggang hubungan kekerabatan, silaturrahmi, bersaudaraan, penuh ego dan kehilangan kehalusan-kehalusan jiwa. TV, film dan sinetron kita mengajarkan hura-hura, kebebasan hidup dan dendam.

Pada akhirnya, tatanan baru di era Pasar Bebas ini, akhirnya hanya ingin menciptakan komunitas kehidupan masyarakat yang berkarakter ugal-ugalan. Masyarakat yang diinginkannya adalah masyarakat seperti yang kita saksikan di Barat yang serba bebas, pesat secara lahiriyah tetapi bobrok dan hancur nilai moral-kemanusiaannya.

Masyarakat Indonesia akan digiring ke sana agar kehilangan identitasnya sebagai muslim sejati. Orang lain yang akan mencapkan identitas baru di kening kita. Bukan kita sendiri yang membangun jiwa raga dan akal budi kita.

Semakin banyaknya orang yang mengalami stres, putus asa, lemah harapan, dan bahkan sampai pada maraknya bunuh diri belakangan merupakan dampak dari cara pandang yang salah itu. Ketika dollar dan rupiah sudah diagungkan, harta dan hajatan hidup diutamakan, akan tetapi berbarengan dengan itu semuanya hilang dibalik bumi alias tidak diperoleh, maka yang muncul adalah kekecewaan. Kekecewaan yang berhari-berminggu dan berbulan dan entah sampai kapan akan berakhir ini, akan memunculkan manusia-manusia berputus asa. Sebagaimana janji Allah sendiri.

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: As Sajdah: 21)

Saham utama yang bisa kita tanamkan, agar segala keadaan ini tidak menggiring terus generasi di bawah kita ke jurang kesalahan, ialah tidak pernah berhenti beramar ma’ruf nahi munkar. Ayo kita mulai, paling tidak dari diri kita, keluarga kita, tetangga, kantor kita dan lingkungan sekitar.



sumber: hidayatullah
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com