photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Berlindung dari 5 Perkara



UMAR bin Khattab pernah berkhutbah dalam suatu kesempatan di musim haji. Beliau berkata, “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa meminta perlindungan dari lima perkara. (Beliau berdoa): ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan kelemahan hati. Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang buruk. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah isi hati. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.”(Riwayat Ibnu Hibban. Hadits shahih, ‘ala syarthi muslim).

Hadits di atas sebenarnya juga diriwayatkan oleh banyak imam yang lain, seperti Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad, dengan derajat berbeda-beda sehingga saling menguatkan satu sama lain. Oleh karenanya, sangatlah menarik untuk dipahami apa hakikat di baliknya. Dalam hadits ini, beliau mengajari kita bagaimana caranya memohon perlindungan kepada Allah, juga merinci lima persoalan penting yang harus kita perhatikan.
Pertanyaannya, mengapa Rasulullah sampai secara khusus memohon kepada Allah SUbhanahu Wata’ala agar dijauhkan darinya, padahal masih banyak hal-hal lain yang juga tidak kalah buruknya?
Imam al-Manawi menjelaskan makna hadits diatas dalam “Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir”.
Pertama, yang dimaksud dengan “kebakhilan” adalah ketidaksediaan seseorang untuk membagi kelebihan yang dimilikinya kepada orang lain, terlebih-lebih lagi kepada orang yang membutuhkan. Ia lebih suka untuk menumpuk dan menimbunnya sendiri.
Sungguh benar. Kebakhilan adalah penyakit yang sangat membahayakan masyarakat. Dewasa ini, kapitalisme menguasai dunia, dan secara terbuka mengajarkan penumpukan harta, egoisme, serta keengganan untuk berbagi. Seringkali, yang diajarkan adalah: “Jika bisa saya ambil semua, maka buat apa saya sisakan untuk orang lain?” Inilah yang melatari nafsu-nafsu monopoli, korupsi, suap, konglomerasi, dan kemewahan. Karena kebakhilan segelintir orang, maka kemiskinan dan ketidakadilan merajalela. Sungguh, fenomena kemiskinan telah ada sejak masyarakat manusia terbentuk, namun tidak akan menjadi sepedih sekarang ini jika kaum kaya bersikap pemurah dan penguasa berbuat adil.
Kedua, yang dimaksud “kelemahan hati” adalah sifat pengecut, yakni ketidakberanian untuk melaksanakan apa yang seharusnya. Bentuk paling kritisnya ada di medan jihad, ketika seseorang melarikan diri dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri.
Namun, ada banyak bentuk lebih rendah dari kepengecutan ini. Ketika seseorang membatalkan niat berjilbab semata-mata karena tidak berani menanggung komentar teman-temannya, maka inilah kepengecutan. Ketika sepasang muda-mudi lebih asyik berpacaran, semata-mata didorong oleh nafsu dan aneka ilusi ketakutan untuk menjalani pernikahan, maka inilah kepengecutan. Ketika pemimpin memutuskan kebijakan yang sebenarnya merugikan rakyat, semata-mata karena tekanan atau takut kehilangan kekuasaan, maka inilah kepengecutan.
Dewasa ini, sikap-sikap hati yang lemah telah mendorong banyak orang untuk sekedar mengikuti tren, bukan mencari jalan yang paling baik dan benar di mata Allah. Inilah pragmatisme, yakni menimbang sesuatu menurut keuntungan jangka pendek yang bisa diraih, dan tidak perlu memikirkan akibat-akibatnya.
Menurut Al-Qur’an, kelemahan ini pasti bermula dari ketiadaan iman kepada Hari Akhir. Al-Qur’an menyitir perilaku orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat yang selalu bertindak berdasar prasangka, tanpa ilmu, dan hanya mengekor nafsu duniawi. Memang, bisa jadi banyak orang yang secara lisan mengakui adanya akhirat, namun tindak-tanduknya samasekali tidak mencerminkan hal itu.
Allah mengecam kalangan ini dalam firman-Nya;
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dan diantara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir’, padahal sebenarnya mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan kaum beriman, padahal mereka tidak menipu melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya. Bagi mereka siksa yang pedih disebabkan kebohongan mereka.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).
Ketiga, yang dimaksud “usia yang buruk” adalah ketiadaan berkah.
Tepatnya, usia yang sepi dari kebajikan dan justru diramaikan oleh penelantaran kewajiban. Istilah “usia” disini berarti tempo dan kesempatan yang diberikan Allah kepada masing-masing dari kita di dunia ini. Betapa banyak orang yang usianya sia-sia. Masa kecilnya dipenuhi permainan, masa remajanya pun dipakai main-main. Lalu, saat dewasa tidak dijalani dengan kehati-hatian dan kesungguhan. Banyak orang yang sanggup bermain Play Station sehari penuh, namun gagal untuk duduk tenang menegakkan shalat dan berdzikir. Tidak sedikit orang yang rela menabung untuk pergi rekreasi berkali-kali, namun samasekli tidak terpikir untuk naik haji. Terlalu banyak hal-hal melalaikan di dunia modern sekarang, dimana tidak ada seorang pun yang selamat darinya, kecuali yang dirahmati oleh Allah ta’ala.
Keempat, yang dimaksud “fitnah isi hati” adalah perasaan dan lintasan pikiran yang tidak terpuji, seperti dengki, dendam, dan akidah yang menyimpang.
Rasulullah Shallalallu ‘alaihi Wassalam menegaskan bahwa kebaikan seluruh diri kita tergantung kebaikan hati. Maka, memohon agar Allah Subhanahu Wata’ala selalu memperbaiki isi hati kita adalah permintaan yang tidak main-main. Berbagai hal – entah yang disadari atau tidak – pada dasarnya adalah cermin dari isi hati kita itu.
Kelima, beliau meminta perlindungan dari “siksa kubur”, entah yang manapun macamnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits. Menurut Imam al-Manawi, siksaan ini biasanya bermula dari kecerobohan dan kesembronoan dalam melaksanakan perintah Allah maupun menjauhi larangan-Nya. Mari kita hindari dari lima hal di atas. Wallahu a’lam.


sumber:hidayatullah

Shalat Shubuh dengan Wudhu Isya' 30 tahun lamanya



IMAM MUHAMMAD BIN ABDUS adalah seorang faqih pengikut madzhab Maliki yang dikenal mujahadahnya yang kuat dalam mencari ilmu dan ibadah. Imam Qadhi Iyadh menyebutkan bahwa beliau selalu melaksanakan shalat shubuh dengan wudhu Isya selama tiga puluh tahun. Lima belas tahun untuk ilmu dan lima belas tahun untuk beribadah (Tartib Al Madarik, 3/122).
Artinya, Imam Muhammad bin Abdus tidak pernah tidur di malam hari dan itu beliau lakukan selama tiga puluh tahun demi mencari ilmu dan beribadah.

Gagal Dirikan Negara Islam = Hisab Berat



Muhammad Syauqi Al Islambuli salah satu tokoh Jama’ah Islamiyah menyatakan bahwa kelompok Islam memiliki tanggung jawab besar untuk mendirikan negara Islam dan menerapkan syari’at khususnya setelah Revolusi 25 Januari, demikian lansir Al Mishriyun (4/3/2012).

Saudara dari Khalid Islambuli pembunuh Anwar Sadat ini juga memperingatkan kelompok Islam akan sulitnya hisab Allah di akhirat kelak jika gagal mendirikan negara Islam. Demikian juga mereka bertanggung jawab di hadapan rakyat, karena rakyat telah mempercayai mereka duduk di kursi parlemen tidak lain untuk tujuan mendirikan negara Islam.
Al Islambuli juga mengharapkan agar seluruh gerakan Islam bersatu dan saling membantu di jalan Allah untuk menegakkan Islam dan menerapkan syariatnya, hingga negara Islam.

sumber: hidayatullah

Ketika Ilmu Hilang Cahayanya


IMAM AL AUZAI rahimahullah menyampaikan,”Ilmu merupakan suatu yang mulia selama datang dari lisan para tokohnya dan mereka menyampaikannya dan mendiskusikannya. Maka tatkala ia berada di buku maka hilanglah cahayanya dan menjadikannya sampai kepada orang yang bukan ahlinya.” (Jami’ Bayani Al Ilmu fa Fadhlihi)

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com