photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Membantu Sesama Ternyata Menyehatkan


















































Meluangkan waktu membantu sesama secara sepintas mengurangi pikiran dan tenaga kita. Namun fakta menunjukkan, membantu sesame justru membuat seseorang lebih merasa lebih baik dan menyehatkan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan,  melakukan tindakan yang baik telah terbukti secara ilmiah bisa menjadi terapi dalam mengobati gangguan mood dan depresi.

Kegiatan membantu membawakan barang belanjaan seseorang, menulis ucapan terima kasih, atau bahkan menghitung hal-hal yang bisa disyukuri, dapat berfungsi sebagai pengobatan efektif berbiaya rendah untuk mengatasi depresi.
"Hal ini tampaknya benar-benar sepele, dan kita kemudian akan merasa baik selama 10 menit. Tapi untuk penderita depresi, hal itu tidak sepele sama sekali. Orang depresi perlu meningkatkan emosi positif dalam kehidupannya, bahkan barang semenit saja," kata Sonja Lyubomirsky, profesor psikologi di University of California, Riverside dikutip news.health.com.
Menurut pantauan Lyubomirsky, lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menderita depresi dan di antaranya adalah 16 juta orang dewasa di AS. Sekitar 70 persen dari kasus depresi yang dilaporkan tidak mendapatkan pengobatan yang cukup atau tidak diobati sama sekali.
Karenanya, seseorang disarankan melakukan hal-hal positif seperti: Menjadi baik kepada orang lain, mengekspresikan bentuk rasa syukur, berpikir optimis dan merenungkan hal-hal yang baik dalam hidup
"Menjadi positif tidak hanya dapat meningkatkan suasana hati, tapi juga dapat berkembang menjadi peningkatan keimanan," tambah Lyubomirsky.
Sementara itu, Dr Michelle Riba, , mantan presiden American Psychiatric Association yang juga seorang profesor psikiatri dan direktur dari Pusat Depresi di Universitas Michigan, setuju sikap positif dimiliki seseorang dapat memiliki efek dramatis pada psikologis dan menjadikan hidup lebih baik.
"Ada banyak penelitian baik yang menunjukkan tindakan-tindakan tertentu dapat berdampak positif bagi kehidupan. Secara umum, orang yang membantu orang lain akan berhenti berfokus pada rasa sakit dan kekhawatirannya sendiri serta merasa baik atas dirinya sendiri," kata Riba seperti dilansir Health24.com,Rabu (4/1/2012).
Menurut Lyubomirsky, jika ingin mendapat hasil optimal, sebaiknya berpikir dan bertindak positif dilakukan dengan cara yang bervariasi setiap hari.
Makin Sehat
Sebelum ini, sebuah studi yang dilakukan Dr Blaire dan Rita Justice dari Universitas Texas, mereka menemukan bersyukur ternyata memberi manfaat bagi kesehatan psikologis dan fisik.
Studi lain pernah dilakukan oleh Robert A. Emmons dari Universitas of California dan rekannya Mike McCullough dari Universitas Miami, secara acak meminta orang untuk menjalani salah satu dari tiga tugas, yaitu menulis jurnal singkat.

Hasilnya menunjukkan, banyak bersyukur dan berpikir positif justru dapat membawa pengaruh baik bagi kesehatan, mood, hingga hubungan dengan pasangan.

Dalam studinya, ia mengamati hubungan antara kebahagiaan dengan kondisi kesehatan seseorang. Dalam riset ini, tim peneliti meminta para respondennya untuk mengisi buku harian selama 10 minggu. Buku harian ini berisi lima hal yang mereka syukuri yang terjadi minggu lalu. Hasilnya, para responden terbukti 25 persen lebih bahagia dari sebelumnya. Mereka juga menunjukkan kondisi tubuh yang lebih bugar ketimbang orang-orang yang kurang bersyukur atas apa yang dialaminya.

“Riset ini menunjukkan bahwa rasa bersyukur dapat membawa efek yang luar biasa dari segi fisik dan psiko-sosial,” tutur Rita Justice dari University of Texas Health Science Center, seperti dikutip Huffington Post.
Sebelum temuan ini, Islam melalui al-Quran telah mengabarkan pentingnya tolong-menolong (ta’awun) antar sesama, serta manfaat bersukur.
Setidaknya, dalam banyak hadits disebutkan, hubungan yang baik akan mencegah permusuhan dan menyambung ukhuwah. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara saudaramu.” (al-Hujurat:10).
Selain itu, Allah Subhanahu Wata’ala juga memberikan janjinya bagi orang-orang yang banyak bersyukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS: Ibrahim: 7).

sumber:Hidayatullah

"Hamas tidak akan pernah mengakui Israel"



"Hamas tidak akan pernah mengakui Israel," kata Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah Sabtu ini (11/2) dalam sebuah pidato di Iran.
"Mereka ingin kami mengakui pendudukan Israel dan menghentikan perlawanan tetapi, sebagai wakil dari rakyat Palestina dan atas nama semua pencari kebebasan di dunia, saya mengumumkan dari Azadi Square di Teheran bahwa kami tidak akan pernah mengakui Israel," kata Ismail Haniyah.
"Perlawanan akan terus belanjut sampai semua tanah Palestina, termasuk al-Quds (Yerusalem), dibebaskan dan semua pengungsi telah kembali," tegasnya.
Pengulangan pernyataan Haniyah merupakan sikap lama Hamas yang dibuat pada kesempatan peringatan revolusi Syiah Iran. Pemimpin palestian itu berbicara kepada kerumunan orang yang diperkirakan berjumlah 30.000 bersama Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Ahmadinejad juga berpidato di tengan kerumunan massa hari Sabtu ini bersama dengan Haniyah di depan pesawat mata-mata AS yang berhasil mereka tangkap.

for sumber : eramuslim

Syaikh Qaradhawi Desak Negara Arab untuk Membela Al-Aqsa


Kepala persatuan ulama internasional, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi kembali menyerukan agar adanya gerakan rakyat Arab untuk melindungi Masjid Al-Aqsha dan menghadapi upaya Yahudi untuk menodai tempat suci tersebut.
Dalam siaran pers Senin kemarin (20/2) yang dikeluarkan oleh Al-Quds Internasional Foundation, Syaikh Qaradhawi menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah garis merah dan kaum muslimin tidak boleh berpangku tangan jika orang Yahudi mengulangi serangan mereka terhadap Masjid itu.
Dia mendesak rakyat Palestina di wilayah pendudukan dan orang-orang Arab di negara tetangga, Mesir, Yordania dan Suriah, untuk bangkit dalam membela Masjid Al-Aqsha dan membebaskannya dari pendudukan Yahudi. 




Zina = Menunggu Binasa



Masih gadis sudah tidak perawan? Tak perlu mengernyitkan dahi. Saat ini perempuan belum menikah tapi sudah tidak virgin bukanlah barang langka. Survey terbaru yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan Mei 2011 di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).
Selanjutnya, data yang diungkap lebih miris lagi. Yakni, sebanyak 88 persen hubungan seks dilakukan bersama pacar, 9 persen dengan sesama jenis (terutama wanita), dan 8 persen dengan PSK (untuk pria). Umumnya mereka melakukan zina di tempat kos (33 persen), hotel atau motel (28 persen), sementara rumah 24 persen. Lama pacaran mereka sebelum berhubungan seksual, rata-rata satu tahun.
Perzinaan agaknya sudah menjadi gaya hidup sebagian warga berhaluan liberal di Republik ini. Tepatnya, sejak kran liberalisasi di berbagai bidang dibuka, life style ala Barat yang sarat dengan gelagak syahwat turut menjadi penumpang gelap. Dilegalkan tidak, tapi merebak di mana-mana. Pornografi, pornoaksi, pelacuran, permesuman dan hiburan maksiat, begitu dekat, mengulik urat syahwat.
Tak peduli lelaki baru baligh, atau gadis bau kencur, jika saraf-saraf nafsunya sudah diobrak-abrik, apa pun dilakukan. Jika pintu legal pernikahan begitu terjal, zina gratis jadi pelampiasan. Toh suka sama suka, saling menguntungkan, tak ada yang dirugikan. Dan lebih penting, toh tak ketahuan. Boro-boro dikenai rajam atau sekadar dikucilkan, dengan bangga pelaku zina mem-videokan adegan vulgarnya.
Bagaimana dengan memperkosa? Memang terlalu berat risikonya. Kalau zina suka sama suka, tidak ada delik pidananya. Perkosaan hanya dilakukan mereka yang “kebelet” melampiaskan nafsu tapi tak punya pacar, atau tak punya uang untuk membayar pelacur. Juga, yang tak kuat nikah karena biaya administrasinya mahal, atau tak punya calon saking tak lakunya. Dan, di negeri ini, tipe seperti inipun tak kalah banyaknya. Fenomena pemerkosaan di angkutan umum adalah salah satunya. Korbannya sudah banyak berjatuhan, perempuan semakin terancam di luar sana. Kejahatan seksual mengintai setiap detik. Kalau tak diperdaya dengan rayuan gombal, dicaplok para pemerkosa. Duh!
Melarang atau Merangsang?
Omong kosong jika negara melindungi warganya. Yang ada bukannya melarang, malah merangsang mereka untuk menjadi penikmat syahwat. Memblokir situs porno hanya sebatas niat baik. Baru sejenak sudah jebol lagi. Bahkan dipelopori jajaran pejabat sendiri (ingat kasus anggota DPR yang ketahuan mengakses situs porno saat sidang?).
Juga, tidak pernah bersedia menghukum berat para pelaku zina. Bagaimana pelaku zina akan kapok, kalau ketahuan justru dinikahkan? Jangan heran jika kita membaca berita, tiap hari selalu ada episode-episode anyar video-video mesum amatir dengan aktor-aktris muda-mudi yang dimabuk asmara, pelajar kurang ajaran, atau pasangan selingkuh.
Sekali lagi, negara justru menggelontorkan kebijakan yang memperlonggar perzinaan. Media massa, novel, komik, iklan, lukisan, sinetron, film, foto, lagu dan tayangan realty show bertema cabul pun bebas beredar. Tidak akan dibredel sekalipun sudah protes massal oleh masyarakat. Pelacuran, eksploitasi aurat perempuan, dan tempat-tempat hiburan yang menjajakan syahwat, dibiarkan. Tidak akan ditutup asal menyumbang pajak.
Di sisi lain, negara membuat berbagai larangan untuk menyumbat penyaluran syahwat dengan cara-cara legal. Usia pernikahan terus dinaikkan, biaya nikah dimahalkan dan syarat penikahan diperketat. Termasuk, upaya pelarangan poligami sekalipun bagi mereka yang mampu. Mungkin memang inilah yang diharapkan negara liberal ini: industri porno menggeliat, zina dini meningkat, pemerkosaan berlipat, kehamilan di luar nikah tumbuh cepat, aborsi dipersingkat, dan lahirlah generasi-generasi bejat. Persis di Barat, yang kini di ambang kebinasaan. Akankah Republik ini diam saja menunggu saat yang sama?
Menolak Agama?
Fenomena di atas tentu bukan perkara remeh. Muda-mudi calon pemimpin masa depan, sudah sedemikian amoral. Berani menghalalkan zina yang jelas-jelas diharamkan. Anehnya, terhadap persoalan ini, tidak ada -kecuali kalangan Islam– yang menuding sistem hidup sekuler-liberallah yang menjadi akar masalahnya. Padahal sistem inilah yang “mewajibkan” remaja pacaran, hingga merasa tak gaul tanpa berhubungan badan dengan pujaan hatinya.
Sistem inilah yang mengajarkan, bahwa perempuan harus membuka auratnya, mempertontonkan kepada lelaki bukan mahromnya. Sistem inilah yang memandu tumbuh kembang remaja, tanpa didampingi kedua orangtuanya yang sangat sibuk digilas roda perekonomian. Sistem inilah yang memberhalakan materi, uang dan kenikmatan seksual.
Memang, mereka mengharapkan “agama” (baca: Islam) mampu menyelesaikan persoalan ini. Pada saat remaja ketahuan amoral, segera semua pihak berteriak “ini karena kurangnya pendidikan agama” atau “para ulama harusnya lebih berperan membina akhlak remaja” dan para guru dan orangtua harus menanamkan nilai-nilai moral lebih intens pada anak-anaknya.”
Agama dijadikan tong sampah saja, sekadar untuk memperbaiki keadaan yang sudah rusak. Anak nakal dan bandel, dikirim ke pesantren. Image pesantren sebagai pendidikan mulia pun babak belur. Terlebih lagi, pada saat yang sama diopinikan bahwa pesantren adalah “produsen” teroris. Lulusan pesantren, orang-orang mukhlis itu, didakwa membahayakan eksistensi negara. Sementara para pelaku maksiat dianggap pahlawan penyumbang devisa.
Tapi, baiklah, agama (baca: Islam) bersedia memperbaiki keadaan. Bahkan punya sulosi komprehensif untuk menuntaskan segala persoalan. Bukan hanya mengatasi perzinaan, itu terlalu “mudah.” Bahkan mengatasi kemiskinan, kelaparan, ketimpangan sosial, kriminalitas, dll, serahkan saja padanya.
Tapi, mengapa ketika Islam -yang dipeluk mayoritas penduduk negeri ini– mengajukan syariatnya sebagai solusi, dicap mengancam eksistensi negara, radikal, ekstrimis, intoleran, bahkan antipemerintah? Kenapa negara dengan setia menerapkan sekulerisme, padahal sekulerisme itu sendirilah yang melahirkan semua kebobrokan sosial ini? Sebaliknya, kenapa menuduh ideologi Islam, yang belum pernah diberi kesempatan memerintah negeri ini, dengan tuduhan-tuduhan miring? Tampak jelas, siapa yang bermuka dua, antara butuh dan tidak butuh terhadap Islam.
Inilah tanda-tanda akhir zaman. Ketika perzinaan merajalela dan masyarakat menganggapnya biasa. Kalau sudah begini, Republik ini tinggal menunggu kebinasaan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan/menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” (HR. Bukhari)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, “alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.” (HR. Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” Lihat Majmu’ Zawaid: 7/331)
sumber:eramuslim

Menuju ISTORA


Sebuah konser bertajuk "Konser Sholawat Untuk Negeri" akan digelar di Istora Senayan, Ahad (19/2) dengan dukungan 140 seniman. Di bawah pimpinan orkestra Anwar Fauzi, sejumlah musisi layaknya Opick, Sulis, Fadli "Padi", Kristina, Wali Band, Iis Dahlia, Kristina dan banyak pendukung dan lainnya, akan turut memarakkan konser itu.
Menurut rencana konser yang akan ditonton 5000 penonton setelah menyaring 50.000 orang itu, akan disiarkan secara langsung Trans TVdan Trans 7.
Dalam konser nanti, seperti diterangkan Anwar Fauzi di Jakarta, Kamis (16/2), sebanyak 70 pemain alat musik dilibatkan sebagai pendukung orkestra. Dengan melibatkan violis Hendri Lamiri, dan menggaet pemain perkusi Ade Rudiana, yang selama ini dikenal sebagai pendiri Idea Percussion dan anggota Krakatau Band pada 1993. Di mana Hendri Lamiri kali terakhir mengiringi Maher Zein dan tampil di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Konser Sholawat Untuk Negeri adalah perpaduan antara orkestra, gerak tari dan drama musikal. Sejumlah lagu akan dimedleykan seperti "Kunma'I", "Ummi", dan "Ya Thoyyiba", dengan penyanyi Sulis sebagai pembuka konsernya. Sedangkan penutup konser akan diakhiri lagu "Generasi Indonesia" yang akan dibawakan semua artis pendukung.
Menurut Sulis, konser semacam ini sangat penting di tengah gempuran banyak konser dari sejumlah grup band solois dari mancanegara. "Apalagi ada pesan kebangsaan yang akan disampaikan di konser nanti, selain meningkatkan ukuwah Islamiyah, juga mendoakan keberlangsungan bernegara" katanya.


Di antara artis pendukung tercatat ada nama IIs Dahlia, Sulis, Fadli (Padi), Kristina, dan Band Wali. Konser itu nantinya akan mengggambarkan kebesaran rahmat Allah SWT yang telah memberi kekayaan alam begitu melimpah. Diperkirakan, sebanyak 5.000 undangan akan menghadiri konser tersebut.
"Konser 'Sholawat Untuk Negeri' berdurasi hanya sekitar satu jam. Lagu-lagu yang ditampilkan seratus persen bertemakan Islami. Semuanya mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT," kata Ketua panitia, Iskandar D. Syaiche saat ditemui di Kartika Candra, Kirana Ball Room, Jln. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (16/2).
Di antara lagu -lagu yang akan dilantunkan oleh sederet penyanyi dan grup band, yakni, "Kunma'I", "Umni", "Ya Thoyibba", dan "Insya Allah". Selain masing-masing membawakan lagu, ada juga konsep kolaborasi. Seperti Fadli yang akan berduet dengan penyanyi dangdut Kristina.

Persiapan Konser ISTORA Senayan



Tidak pernah terbayangkan kami akan mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Mungkin ini adalah pencapaian tertinggi yang pernah diberikan keada kami sejak paduan suara ini didirikan. Keberanian kak Sulis merekomendasikan kami sebagai backing vokal dalam konsernya tidaklah main – main. kami disetarakan dengan paduan suara dari Elfas Music School yang memiliki pengalaman yang jauh dibandingkan kami. Keinginan Kak Sulis untuk mengangkat nama Paramadina sangatlah besar.


Dalam perhelatan budaya yang akan diadakan di Istora Senayan nanti, kami akan menjadi backing vocal, tidak hanya buat Sulis tetapi juga buat Opick, Fadhly dan artis lainnya. Diantara lagunya adalah Generasi Indonesia, Medley Ya Allah – Ibu – Ya Thoyibah, Medley Dzikir Anak – Pesan Rasul, Insya Allah, dan lain – lain.



Dalam perjalanan menuju konser budaya ini, kami melewati hari – hari yang spektakuler yang belum pernah sama sekali aku rasakan. Latihan bersama seorang artis dengan pengalaman yang luar biasa. Mendapatkan pengetahuan menyanyi langsung dari penyanyinya, mengikuti prosesi rekaman yang super – super sulit, latihan bersama big band atau yang lebih dikenal sebagai orkestra yang sempat membuat aku merinding.
Dalam konser ini kami diajarkan untuk menjadi sebuah backing vocal yang profesional, bukan sebagai sebuah paduan suara mahasiswa yang biasa nyanyi di kampus. Kepercayaan yang di berikan oleh Kak Sulis harus lah kami bayarkan dengan sebuah hal yang namanya profesionalitas diatas panggung nanti.Tidak hanya sekedar menyanyikan not tanpa false, tetapi juga mengahayati setiap lirik yang kami lafalkan.


Bernyanyi Saja Dapat Cegah Kepikunan, Apalagi Ngaji



Sebuah temuan terbaru menunjukkan aktivitas sederhana seperti bernyayi, bermain teka-teki dan bowling bisa menghambat penurunan fungsi otak (demensia) alias kepikunan.

Dalam penelitia ini ditemukan, mereka yang rutin melakukan aktivitas ini diduga bisa membuat otak lebih 'awet muda' dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan obat anti-demensia saja.

Aktivitas yang dilakukan selama dua jam ini bisa sebagai alternatif terapi penderita demensia ringan sampai sedang. Para peneliti mengambil kesimpulan ini setelah mempelajari efek dari program yang dirancang khusus pada penduduk dengan berbagai tingkat demensia di panti jompo di Bavaria. Mereka membandingkan orang-orang yang rutin melakukan aktivitas ini dan mereka yang biasa mengkonsumsi obat anti demensia. Dampak aktivitas ini cukup membawa perubahan yang signifikan.

Menurut sang peneliti Profesor Elmar Graessel, aktivitas dilakukan secara rutin, akan membawa efek yang sama baiknya dengan mengonsumsi obat pencegah pikun. Seperti Aricept dan Exelon.  Demikian hasil  penelitian yang diterbitkan di Jurnal BioMed Central Medicine.
Sementara itu, Dr Marie Janson, direktur perkembangan Alzheimers Research Inggris, mengatakan, "Jika kesimpulan ini bisa ditiru di studi besar-besaran, ini sangat bisa memperbaiki jiwa orang dengan dementia." .
“Jika temuan ini dapat direplikasi dalam studi beskala besar, ini bisa sangat meningkatkan kehidupan orang-orang dengan demensia," ujarnya dikutip Independent Online, (06/12/2011).

Hal itu menegaskan teori bahwa menjaga otak tetap aktif merupakan cara efektif membantu menjaga kesehatan. Aktivitas ini bisa menghambat demensia setidaknya hingga satu tahun. "Efek kemampuan mereka untuk melakukan tugas sehari-hari dua kali lebih baik dibandingkan dengan orang yang hanya mengonsumsi obat pencegah demensia," ujar dia.
 
Keutamaan al-Quran

Belum lama ini, sebuah hasil penelitian ilmiah di Universitas al-Imam Muhammad bin Sa'ud al-Islamiyyah membuktikan ketika semaki banyak kadar hafalan al-Qur'an siswa meningkat maka akan meningkat pula kesehatan jiwanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Shalih bin Ibrahim, professor ilmu Kesehatan Jiwa, terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama, para mahasiswa-mahasiswi Universitas Malik abdul Aziz di Jeddah.  Dan kelompok kedua, mahasiswa-mahasiswi di Ma'had al-Imam asy-Syatibi li ad-Dirasah al-Qur'aniyyah, Jeddah.  Hasilnya, mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan jiwa yang jauh lebih tinggi. 

Sebelum adanya penelitian ini, Nabi kita Muhammad Salallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengatakan, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya." [HR. Bukhari]

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ’’Barangsiapa membaca al-Quran dan menghafalnya,menganggap halal apa yang di halalkan di dalam al-Quran, dan menganggap haram apa yang di haramkannya,maka Allah Subhanahu wata’ala akan memasukkannya kedalam Surga dan Allah menjaminnya untuk memberi syafa’at kepada sepuluh orang ahli keluarganya yang akan dicampakkan ke dalam api neraka.’’ [HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi].

Rasulullah saw bersabda, ’’Wahai ahli- ahli al-Quran, janganlah kalian menggunakan Al Quran sebagai bantal tetapi hendaknya kamu membacanya dengan teratur siang dan malam,sebarkanlah kitab suci itu, bacalah dengan suara yang merdudan pikirkanlah isi kandungannya! Dengan begini kamu akan mendapat kejayaan, janganlah kamu minta di segerakan ganjarannya (dalam dunia) karena ia mempunyai ganjaran (yang sangat besar di akhirat)." [HR.Imam Baihaqi].

Nah, jika menyanyi kan lagu saja bisa membantu kepikunan, apalagi membaca sekaligus menghapal al-Quran yang jauh lebih luas dampaknya.

LSM Muslim Malaysia Kampenyekan Gerakan Tutup Aurat



Sementara rekan non-Muslim mereka merayakan hari Valentine Selasa kemarin, 10 LSM berbasis Muslim di Penang Malaysia Rabu ini (15/2), mengkampanyekan gerakan tutup aurat dalam upaya untuk melawan semakin kuatnya pengaruh seks bebas dan kerusakan moral di kalangan pemuda di masyarakat .
Kelompok ini, yang menamakan dirinya "Gerakan Menutup Aurat Antarabangsa", meluncurkan kampanye tahunan dalam usaha untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai Islamdi Bagan Ajam (Butterworth) dan Queensbay (pulau Penang) Malaysia.
Dua daerah ini biasa dikunjungi oleh banyak anak muda Muslim, terutama pada malam hari dan selama akhir pekan.
"Tutup aurat" mengharuskan umat Islam khususnya muslimah untuk tidak mengekspos bagian tubuh mereka yang Islam perintahkan untuk ditutup dan tidak untuk dilihat umum.
Kampanye ini, kata mereka, berangkat dari kebutuhan untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat kepada pemuda/pemudi Muslim yang saat ini menghadapi konflik identitas.
Pada konferensi pers pimpinan dari Masjid Al-Taqwa, Mardziah Zakaria, mengatakan kampanye ini diluncurkan di negara lain juga, termasuk Indonesia, Thailand, Inggris, Hong Kong dan Makau.

Mardziah mengatakan 14 Feb telah dipilih untuk kampanye tahunan karena adanya pergaulan Bebas di kalangan pemuda pada Hari Valentine.
"Ini juga merupakan cara simbolis untuk melawan komersialisasi akhlak pemuda Muslim ," tambah anggota komite dari Masyarakat Gerakan Muslimah.
"Mereka para anak muda sedang dipengaruhi oleh iklan pencampuran bebas dan cinta tanpa batas."
Mardziah mengatakan kelompoknya menghormati asal-usul Hari Valentine, namun menegaskan umat Islam dilarang merayakan acara tersebut, karena memiliki unsur-unsur ajaran agama lain.
Dia mendesak semua Muslim untuk mendukung gerakan ini.
"Menutupi diri dengan baik adalah kewajiban bagi semua Muslim, jika mereka melakukannya, masyarakat akan lebih harmonis, dan akan ada perasaan saling menghormati satu sama lain, dan bagi keluarga mereka juga," ujarnya.
"Para pemuda kemudian dapat menjadi model bagi pengembangan bangsa Muslim yang beradab," tambahnya.
Sejak memulai kampanye di Penang pada 11 Pebruari lalu, telah lebih dari 500 relawan mendaftar dan membagikan ratusan jilbab kepada masyarakat.
Kelompok ini menghargai dukungan yang diberikan oleh media utama terhadap beberapa upaya mereka untuk mendidik para pemuda/i dengan nilai-nilai Islam.
"Kami tidak menyentuh pada isu-isu sensitif, target utama kami adalah untuk mendapatkan para pemuda khususnya muslimah untuk menutup aurat.
"Kampanye ini telah menerima banyak dukungan di kota-kota selain Penang, misalnya, di Kedah dan Shah Alam.
"Bahkan, Muslim di 50 kabupaten di Indonesia, termasuk Jakarta, berkumpul untuk memulai kampanye bersama-sama dengan kami," tambah kelompok ini.

Sulis: 'Dzikir Anak' Angin Segar di Tengah Minimnya Lagu Anak



Jakarta - Penyanyi religi Sulis kembali hadir di blantika musik Tanah Air. Lewat single terbarunya bertajuk ‘Dzikir Anak’, ia mengajak anak-anak untuk lebih dekat dan mengenal kebesaran Sang Khalik.

"Siapa yang menciptakan bukit-bukit dan sungai? (Allah). Siapa yang menciptakan lembah-lembah dan ngarai? (Allah). Siapa yang menciptakan samudera? (Allah). Siapa yang menciptakan Gurun Sahara?"

Itulah penggalan lirik lagu ‘Dzikir Anak’ tersebut. Penyanyi kelahiran 23 Januari 1990 itu mengaku, lirik sederhana seperti itu bisa menjadi metode efektif sebagai media pengenalan kepada anak akan kebesaran Allah.

"Aku berharap lagu itu jadi angin segar di tengah minimnya lagu anak. Lagu ini bertujuan sebagai media yang efektif untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak sedini mungkin," ujarnya kepada Detikhot.




Sulis mengaku bersyukur lantaran single teranyarnya itu mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Makanya, di bulan Ramadan kali ini ia begitu disibukkan dengan kegiatan promo ‘Dzikir Anak’ dan manggung di berbagai lokasi.

"Di Ramadan kali ini alhamdullilah jadwal aku full. Satu bulan aku full jadwal off air dan on air. Bulan yang penuh berkah buat Sulis," jelasnya seraya tersenyum sumringah.

Kehadiran Sulis dengan single terbarunya itu pun didorong pula oleh rasa keprihatinan. Ia memandang saat ini Indonesia tak sekadar membutuhkan lagu yang bagus, tetapi juga lagu-lagu yang sehat.

Lantas seperti apa lagu yang sehat di mata pelantun hits 'Ummi' itu? "Selama lagu itu menguatkan kita punya budaya, perasaan, hati dan jiwa kita, itulah lagu-lagu yang sehat," terangnya.

"Satu yang paling penting, dia tidak mengaburkan budaya asli Indonesia. Tapi kalau musik- musik yang mengaburkan kita punya kepribadian, perlahan menggeser kebudayaan kita, menurut aku itu bukan musik yang bisa kita tolerir," sambungnya.

Tahun ini, Sulis memang berharap bisa eksis kembali di pentas musik Tanah Air untuk menghibur penggemarnya. Absennya ia dua tahun belakangan memang lantaran anak bungsu dari tiga bersaudara itu disibukkan dengan kegiatan perkuliahan.

"Di karier aku agak meminimalisir undangan nyanyi. Aku concern ke kuliah karena standart nilai dan beberapa tanggung jawab yang diberikan memang menuntut sulis untuk konsen di kuliah," jelas mahasiswa semester akhir jurusan Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta itu.

"Insya Allah aku selesai 3,5 tahun. Tinggal nyusun skripsi biar aku bisa fokus karier nyanyi lagi," tambahnya seraya tersenyum.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com