photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Meng-Dien-kan Islam Dengan Sebenarnya

Dalam berbagai ayat Allah subhaanahu wa ta’ aala selalu menjelaskan tentang makna Islam dan makna dari dien yang Dia tidak menerima dien selainnya. Dia menjelaskan bahwa dien yang hanya Dia ridlai hanyalah dien Al Islam, Dia juga menjelaskan bahwa dien itu adalah aturan hidup yang menyeluruh.
Islam adalah nama yang memiliki hakikat dan isi, sekedar mengaku/menamakan diri sebagai Muslim kalau tidak sesuai dengan hakikat isinya maka itu tidaklah berarti apa-apa. Hari ini banyak kita saksikan orang mengaku Islam, ber KTP Islam, beridentitas Islam, menggunakan pakaian islami, berkerudung (berjilbab), tetap saja perilakunya tidak islami. Bahkan tetap juga korupsi.
Allah subhaanahu wa ta'aala menjelaskan di dalam Al Qur'an tentang apa Islam dan apa resiko-resiko berislam.
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Tidak demikian bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah (berislam), sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah (2) :112).
Juga firman-Nya subhaanahu wa ta'aala:
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.”  (QS. Luqman (31) : 22)
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang di ridhai di sisi Allah hanyalah Islam.“ (QS. Ali-Imran (3) :19)
 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi,” (QS. Ali-Imran (3) : 85).

Beribadah selain Allah, dia itu bukan orang Islam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab An Nubuwwat hal 127:
"Islam adalah istislaam (berserah diri) kepada Allah saja tidak kepada yang lain-Nya, dia beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dia tawakkal hanya kepada-Nya saja, dia hanya takut dan mengharap kepada-Nya, dan dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, dia tidak mencintai makhluk seperti kecintaan dia kepada Allah. Siapa yang enggan beribadah kepada-Nya maka dia bukan Muslim dan siapa yang disamping beribadah kepada Allah dia beribadah pula kepada yanq lain maka dia bukan orang Muslim."
Beliau menjelaskan bahwa orang yang sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah maka dia itu bukan orang Islam, ini sesuai dengan apa yang sudah pasti dalam akidah Ahlus Sunnah bahwa orang yang hanya mengucapkanl dua kalimah syahadat sedangkan dia itu tidak pernah beramal sama sekali selama hidupnya padahal keadaan memungkinkan untuk itu maka itu bukanlah orang Islam.
Beliau juga menyatakan bahwa orang yang beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta'aala, akan tetapi di samping itu dia juga memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah maka dia itu bukan orang Islam.
Beliau berkata juga sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Abdurrahman Ibnu. Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah dalam kitabnya Al Qaul Al Fashl An Nafiis Fir Raddi 'Alal Muftarii Dawud Ibni Jirjiis hal 160:
"Dalam Islam itu haruslah adanya istislaam (berserah diri penuh) kepada Allah saja dan meninggalkan Istislaam kepada selain-Nya,” inilah makna hakikat ucapan kita Laailaaha Illallaah. Siapa orangnya yang istislaam kepada Allah dan kepada yang lainnya, maka dia itu adalah orang musyrik, sedangkan Allah tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya. Dan siapa yang tidak istislaam kepada Allah maka dia itu adalah orang yang mustakbir (menyombongkan diri). dari ibadah kepada-Nya, sedangkan Allah telah berfirman:
 إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَخِرِينَ
"Sesungguhnya   orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina." (QS: Al Mukmin (40): 60).

Contohnya orang mengaku Islam, dia shalat zakat, shaum, haji, dan yang lainnya, akan tetapi dia membuat tumbal atau meminta kepada yang sudah mati, maka orang seperti ini bukanlah orang Islam, karena dia  selingkuh kepada Allah SWT. Disamping istislaam kepada Allah dia juga istislaam kepada selain-Nya, Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya shaltku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi–Nya dan demikian itulah  yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah urang yang pertamatama menyerahkan diri kepada Allah," (QS:  Al An' am (6) : 162-163).

Dia subhaanahu wa ta'aala juga berfirman:
ومن يدع مع الله إلها آخر لا برهان به فإنما حسابه عند ربه إنه لا يفلح الكافرون
“Dan barangsiapa menyembah tuhan lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi tuhannya, Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." (QS:  Al Mu'minuun (23) : 117).
Di dalam ayat itu Allah subhaanahu wa ta'aala menjelaskan bahwa orang yang beribadah kepada Allah a,kan tetapi dia juga beribadah kepada selain-Nya, maka dia itu. bukanlah orang Islam atau kafir.
Di dalam hadits hasan yang dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah: 'Addi Ibnu Hatim datang kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan nasrani, terus dia. mendengar beliau membaca ayat ini, . 'Addi berkata : Saya berkata kepada beliau : Sesungguhnya kami tidak pernah beribadah kepada mereka (ulama dan pendeta), "maka Rasulullaah berkata: Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, terus kalian ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, terus kalian ikut menghalalkannya ? Maka 'Addi berkata: Saya berkata: Iya begitu,  Rasulullah   berkata: “Itu adalah bentuk peribadatan kepada mereka."

Mentauhidkan Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat dan hadits itu didalam Majmu Al Fatawaa 7/67-68: "Abu Al Bukhturi berkata : Sesungguhnya mereka itu tidak shalat terhadap para ulama dan pendeta itu, dan seandainya para pendeta itu memerintahkan mereka untuk menyembah mereka selain Allah, tentulah orang-orang nasrani itu tidak akan mentaati mereka, akan tetapi para ulama dan, para pendeta itu memerintahkan mereka sehingga  mereka menjadikan haram apa yang Allah halalkan dan menjadikan halal apa yang Allah haramkan, kemudian merekapun mentaatinya, maka itu adalah bentuk pentuhanan tersebut."
Jadi ibadah itu bukalah hanya terbatas pada ritual serimonial yang sudah kita ketahui, akan tetapi hukum itu merupakan bentuk dari ibadah juga sebagaimana yang dinyatakan dalam surat At Taubah 31 tadi "wamaa umiruu illaa 'liya 'buduu ilaahan waaahidan," juga sebagaimana firman-Nya firman-Nya:
"Keputusan itu hanyalah keputusan Allah, Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia, itulah agama yang lurus." (QS: Yusuf: 40).
Di dalam ayat itu Allah subhaanahu wa' ta'aala tegaskan bahwa al hukmu adalah ibadah dan dien. Bila Anda paham akan uraian ini maka kita kembali kepada hakikat dari Al Islam dan yang menyelisihinya yang berupa syirik.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Thariqul Hijratain Wa Baabus sa 'aadatain hal. 542 dalamthabaqah yang ke tujuh belas :

"Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, serta mengikuti apa yang dibawanya, maka bila seorang hamba tidak membawa ini berarti dia bukan orang Muslim, bila dia bukan orang kafir mu'aanid maka dia adalah orang kafir yang jahil, dan status orang-orang ini adalah sebagai orang-orang kafir yang jahil tidak mu'aanid (membangkang), dan ketidak membangkangan mereka itu tidak mengeluarkan mereka dari status sebagai orang-orang kafir."

Beliau menegaskan "bahwa Islam itu terdiri dari lima hal, yang bila salah satunya tidak terealisasi maka itu bukan orang Islam, ya bisa jadi dia itu orang kafir yang memang membangkang atau orang kafir yang jahil akan kekafiran dirinya.
Al-Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar Assaniyyah 1/113:
"Bila amalan kamu seluruhnya adalah bagi Allah maka kamu muwahhid, dan hila ada sebagian yang dipalingkan kepada makhluk maka kamu adalah musyrik"
Bila saja mayoritas amalan seseorang untuk Allah, akan tetapi ada salah satunya dia palingkan kepada selain-Nya maka dia itu musyrik meskipun mengaku Muslim. Ini seperti para 'ubbaadul qubuur (yang jatuh dalam syirik kuburan) dan 'ubbaaddustuur (yang jatuh dalam syirik aturan), dan kedua macam syirik ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Orang-orang yang membolehkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan mereka itu di vonis oleh-Nya dalam ayat tadi sebagai arbaab (tuhan-tuhan jadi-jadian)  dan adapun orang-orang yang sepakat dengan mereka, mendukung, menyetujui, rela dan  ridla maka dia itu adalah divonis musyrik oleh-Nya."
Ini dikuatkan oleh firman-Nya dalam Quran surat Al An' am ketika orang-orang musyrik Quraisy mendebat kaum Muslimin agar ikut menghalalkan bangkai.
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." (Qs: AI-An' aam (6) : 121).

sumber: hidayatullah

Amal yang Tertolak




Sudah merupakan hak seorang hamba setiap melaksanakan suatu kewajiban yang disyariatkan oleh agamanya mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia kerjakan , seperti halnya buruh mendapatkan upah dari apa yang ia kerjakan.
Kita sebagai ummat islam tentunya mengharapkan hal demikan. Namun pernahkah kita menyangka bahwa amal yang kita kerjakan dengan mengharapkan ridho Allah ( Ikhlas ) akan tertolak bila tidak sesuai dengan apa yang di misalkan oleh nabi Saw..? padahal kita ketahui bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan mutaba’ah atau mengikuti sunah nabi Muhammad Saw, sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi saw.
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”) [Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]
Kata “Raddun” menurut ahli bahasa maksudnya tertolak atau tidak sah. Kalimat “bukan dari urusan kami” maksudnya bukan dari hukum kami.
Hadits ini merupakan salah satu pedoman penting dalam agama Islam yang merupakan kalimat pendek yang penuh arti yang dikaruniakan kepada Rasulullah. Hadits ini dengan tegas menolak setiap perkara bid’ah dan setiap perkara (dalam urusan agama) yang direkayasa. Sebagian ahli ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dasar kaidah bahwa setiap yang terlarang dinyatakan sebagai hal yang merusak.
Pada riwayat imam muslim diatas disebutkan, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” dengan jelas menyatakan keharusan meninggalkan setiap perkara bid’ah, baik ia ciptakan sendiri atau hanya mengikuti orang sebelumnya. Sebagian orang yang ingkar (ahli bid’ah) menjadikan hadits ini sebagai alasan bila ia melakukan suatu perbuatan bid’ah, dia mengatakan : “Bukan saya yang menciptakannya” maka pendapat tersebut terbantah oleh hadits diatas.
Mengikuti cara-cara ibadah saw dan ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.
Hadits ini patut dihafal, disebarluaskan, dan digunakan sebagai bantahan terhadap kaum yang ingkar karena isinya mencakup semua hal. Adapun hal-hal yang tidak merupakan pokok agama sehingga tidak diatur dalam sunnah, maka tidak tercakup dalam larangan ini, seperti menulis Al-Qur’an dalam Mushaf dan pembukuan pendapat para ahli fiqih yang bertaraf mujtahid yang menerangkan permasalahan-permasalahan furu’ dari pokoknya, yaitu sabda Rosululloh . Demikian juga mengarang kitab-kitab nahwu, ilmu hitung, faraid dan sebagainya yang semuanya bersandar kepada sabda Rasulullah dan perintahnya. Kesemua usaha ini tidak termasuk dalam ancaman hadits diatas.
Mengikuti sunnah nabi saw merupakan salah satu cara mencintai Allah dan rasulNya, sebagaimana sebagaimana difirmankan oleh Allah swt “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Wallahua’lam

sumber : eramuslim

Kunci Surga = Berlapang Dada




Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Beliau lalu bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam kemudian berdiri dan kami pun bubar. Pada saat itulah Abdullah bin Amru bin Ash mengikuti laki-laki Anshar yang tiga kali muncul di hadapan kami setelah disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa salam.
"Saya sedang terlibat cek-cok dengan ayah saya. Saya telah bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika Anda berkenan, saya ingin menginap di rumah Anda selama tiga hari ini." Kata Abdullah bin Amru, mencari-cari alasan untuk bisa menginap di rumah sahabat Anshar tersebut.
"Ya, silahkan." Jawab sahabat Anshar tersebut.
Anas bin Malik berkata: "Abdullah bin Amru bin Ash telah menceritakan bahwa ia telah menginap di rumah sahabat Anshar tersebut selama tiga malam. Selama itu, Abdullah bin Amru tidak pernah melihatnya sedikit pun melakukan shalat malam. Jika ia terbangun di waktu malam, ia hanya membolak-balikkan badannya di atas ranjangnya, berdzikir dan bertakbir, kemudian tidur kembali. Ia baru bangun kembali jika waktunya melaksanakan shalat Subuh."
Abdullah bin Amru berkata, "Hanya saja aku tidak pernah berbicara kecuali hal-hal yang baik. Tiga malam telah berlalu dan aku hampir saja menganggap remeh amal perbuatannya. Maka aku pun menceritakan kepadanya tujuanku.
"Wahai Abdullah (hamba Allah), sebenarnya antara aku dan bapakku tidak ada kemarahan, juga tidak ada hal yang mengharuskanku meninggalkannya. Namun aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda sebanyak tiga kali tentang dirimu:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga."
Maka engkau muncul sebanyak tiga kali. Oleh karena itu aku ingin tidur di rumahmu agar aku bisa melihat amal perbuatanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Namun aku tidak melihatmu melakukan banyak amal kebajikan. Jika begitu, amalan apa yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam tersebut?"
Laki-laki Anshar itu menjawab, "Amal kebaikanku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Hanya itu amalku."
Abdullah bin Amru berkata: "Ketika aku hendak berjalan pulang, tiba-tiba laki-laki Anshar itu memanggilku kembali dan berkata:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ
"Amalku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Namun di dalam jiwaku sama sekali tidak pernah terbetik rasa ghisy (tidak tulus) terhadap seorang muslim pun, dan aku juga tidak pernah iri kepada seorang pun atas sebuah nikmat yang Allah karuniakan kepadanya."
Mendengar penuturan tersebut, Abdullah bin Amru berkataku:
هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ
"Inilah sebenarnya amalan yang telah mengantarkanmu kepada kedudukan tersebut. Dan justru inilah amalan yang kami belum sanggup melakukannya."
(HR. Ahmad no. 12697, Abdur Razzaq no. 20559, Al-Bazzar no. 1981, Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 6605, Al-Baghawi no. 3535 dan An-Nasai dalam 'Amalul Yaum wal Lailah no. 863. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadits di atas, Nabi shallallahu 'alaihi wa salam menyebutkan salah seorang sahabatnya yang dijamin masuk surga. Ia memang tidak memiliki amalan istimewa, setidaknya dari penampakan lahiriahnya. Ia tidak banyak melakukan shalat sunah, puasa sunah, sedekah sunah dan amalan-amalan lainnya.
Namun ia memiliki dua amalan batin yang kebanyakan umat Islam tidak mampu melakukannya:
1. Ia bersihkan hatinya dari semua bentuk ghisy (kecurangan, ketidak tulusan) terhadap kaum muslimin.
Ghiys berasal dari kata kerja dasar ( غَشَّ يَغُشُّ غِشًّا ). Imam Ibnu Faris dalam Mu'jam Maqayisil Lughah dan imam Al-Jauhari dalam Ash-Shihah menyatakan makna dari ghasy-sya adalah tidak tulus memberikan nasehat, kebalikan dari memberi nasehat. Imam Al-Fayyumi dalam Al-Mishbah Al-Munir menjelaskan makna kata tersebut adalah tidak memberinya nasehat dan menampakkan kepada orang lain sesuatu yang buruk sebagai sesuatu yang bermanfaat. Pendapat serupa disebutkan oleh imam Ibnu Mandhur dalam Lisanul 'Arab. Sementara itu imam Al-Murtadha Az-Zubaidi dalam Tajul 'Arusy Syarh Jawahirul Qamus mengartikan kata tersebut dengan maknaghil, kedengkian dalam hati.
Secara istilah, imam Abdur Rauf Al-Munawi menjelaskan bahwa istilah ghisy berarti mencampurkan antara sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk. Dalam dunia jual beli, imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Az-Zawajir 'an Iqtirafil Kabair menjelaskan bahwa ghisy adalah pemilik barang mengetahui bahwa pada barangnya ada cacat atau kekurangan kemudian ia menutup-nutupi dan tidak menjelaskannya kepada calon pembeli. Padahal seandainya pembeli mengetahui cacat tersebut niscaya ia tidak akan rela membelinya dengan harga yang terlanjur ia bayarkan.
Seperti dijelaskan secara bahasa dan istilah oleh para ulama di atas, ghisy berarti tidak bersikap tulus, tidak bersikap jujur, cenderung memiliki "ganjalan" atau "kedengkian" dalam hati terhadap muslim lainnya. Jika ia memberi saran kepada saudaranya, maka saran tersebut tidak sepenuhnya baik, bahkan cenderung berisi hal-hal yang mestinya tidak dilakukan. Jika ia memberi kritikan, maka tidak ada ketulusan dalam kritik tersebut, lebih bertujuan untuk membongkar kesalahan dan menjatuhkan kehormatan orang yang ia kritik.
Di dalam hatinya ada "ganjalan", ketidak sukaan, dan kedengkian terhadap orang lain. Ia tidak benar-benar tulus menginginkan orang lain baik dan bahagia. Ia tidak mencintai untuk orang lain hal-hal yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Ia tidak membenci untuk orang lain hal-hal yang ia benci untuk dirinya sendiri. Inilah hakekat ghisy.
2. Ia bersihkan hatinya dari semua bentuk hasad (iri hati dan kedengkian) terhadap kaum muslimin.
Hasad adalah tidak suka melihat orang lain mendapatkan kenikmatan sehingga ia menginginkan nikmat itu lenyap dari orang lain tersebut dan beralih kepada dirinya sendiri. Demikian disebutkan oleh imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumid Dien dan imam Al-Jurjani dalam At-Ta'rifat.  Imam Al-Munawi mengatakan: "Hasad adalah menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang yang mendapatkan kenikmatan." Penjelasan yang serupa diuraikan oleh imam Al-Mawardi dalam Adab Ad-Dunya wa Ad-Din.
Hasad berarti tidak senang hatinya dan tidak kuat matanya melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah. Ia tidak senang jika orang lain senang. Ia menginginkan kesenangan dan kenikmatan tersebut untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Ia tidak bisa bahagia jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan kebahagian dari Allah. Ia bahkan berangan-angan kenikmatan tersebut hilang dari orang lain, dan beralih kepada dirinya.
Orang yang hasad adalah orang yang keimanan dan akhlaknya kurang baik. Keimanannya kepada takdir kurang benar, karena ia keberatan, tidak senang dan memendam sikap protes terhadap Allah yang telah mengaruniakan kenikmatan kepada orang lain. Padahal Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Akhlaknya kurang baik, karena jiwa persaudaraan dalam jiwanya lemah. Padahal seorang muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara. Jika saudaranya senang, maka ia ikut senang. Dan jika saudaranya susah, maka ia ikut susah.
Saudaraku seislam dan seiman
Sahabat Anshar ini memiliki samahatul qalb, kelapangan hati atau salamatul qalb, hati yang bersih dna sehat. Hatinya bersih dari segala bentuk ketidak tulusan dan kedengkian kepada sesama muslim. Tulus dan tidak mendengki kepada sesame muslim adalah amalan hati. Namun dampaknya sangat besar dalam pergaulan seorang muslim dengan kaum muslimin lainnya.
Banyak orang mampu melakukan shalat sunah, puasa sunah, sedekah sunah, atau bahkan haji "sunnah" berulang kali. Namun amat sedikit orang  yang mampu mensucikan jiwanya dari penyakit ganas yang merontokkan keimanan dan akhlak; ghisy dan hasad. Semoga kita bisa meneladani sahabat Anshar dalam hadits di attas yang dijamin surga oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber:arrahmah


Memuliakan Bulan Muharram, bagaimanakah ?



Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah. Bulan Muharram memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Al-Qur'an dan as-sunnah. Allah Ta'ala menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam setahun.
Muharram adalah bulan haram
Di dalam Al-Qur'an Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Di antara dua belas bulan tersebut terdapat empat bulan yang haram. Itulah dien yang lurus. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan (haram) tersebut." (QS. At-Taubah [9]: 36)
Dalam hadits shahih dijelaskan:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Sesungguhnya tahun telah kembali seperti kondisinya semula seperti pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan haram yang berturut-turut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijah dan Muharram. Satu bulan haram lainnya adalah Rajab, bulan bangsa Mudhar yaitu yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban." (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)
Mayoritas ulama tafsir menyatakan makna dari firman Allah "Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan  tersebut" adalah janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada empat bulan haram tersebut. Maksud dari menzalimi sendiri di sini adalah melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.
Bukan berarti di selain empat bulan haram tersebut seorang muslim boleh melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Tidak demikian maknanya. Namun maksudnya adalah haram melakukan kemungkaran dan kemaksiatan dalam bulan apapun. Hanya saja kemungkaran dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan haram akan lebih besarnya dosanya di sisi dan lebih pedih siksaannya di sisi Allah Ta'ala.
Hal itu seperti halnya keharaman mengucapkan kata-kata kotor dan melakukan kemaksiatan pada bulan apapun. Namun keharaman tersebut akan semakin kuat pada bulan haram, Dzulhijah, saat seorang muslim berada di tanah haram, Makkah, dalam rangka menunaikan ibadah haji. Seperti difirmankan oleh Allah Ta'ala:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
"Haji itu dikerjakan pada bulan-bulan yang telah diketahui (yaitu bulan haram Dzulhijah). Maka barangsiapa melaksanakan haji pada bulan tersebut, janganlah ia melakukan hal yang keji, janganlah melakukan kefasikan dan jangan pula berdebat kusir selama melaksanakan haji." (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Muharram adalah "bulan Allah"
Allah Ta'ala juga memuliakan bulan Muharram dengan menyebutnya sebagai "bulan Allah".
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib lima waktu adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)
Semua bulan dalam setahun yang berjumlah dua belas bulan adalah bulan Allah. Allah Ta'ala yang menciptakan dan mengaturnya. Namun demikian secara khusus Allah Ta'ala menyatakan bulan Muharram sebagai milik-Nya dan bulan-Nya. Hal ini merupakan sebuah bentuk pemuliaan dan pengagungan Allah terhadap bulan ini. Sama halnya Allah memuliakan Ka'bah dengan menyebutnya sebagai rumah Allah (Baitullah), meskipun semua masjid di muka bumi pada hakekatnya adalah milik Allah dan rumah-Nya.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Lathaiful Ma'arif, menulis: "Para ulama telah berbeda pendapat tentang bulan apakah yang paling mulia? Imam Hasan Al-Bashri dan lainnya mengatakan bulan yang paling utama adalah bulan Allah, Muharram. Pendapat ini dikuatkan oleh sekelompok ulama generasi belakangan.
Wahab bin Jarir meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid dari Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memulai tahun dengan bulan haram (Muharram) dan mengakhiri tahun tersebut juga dengan bulan haram (Dzulhijah). Maka di dalam setahun, setelah bulan Ramadhan tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Alllah dari bulan Muharram. Sampai-sampai pada zaman dahulu dinamakan bulan Muharram yang tuli karena besarnya keharaman (berbuat maksiat pada bulan tersebut)."
Imam An-Nasai meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghiffari radhiyallahu 'anhu berkata: "Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam: "Wahai Rasulullah, (memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa)? Bagian malam apakah yang paling baik? Dan bulan apakah yang paling utama?"
Maka beliau bersabda:  
«أَزْكَى الرِّقَابِ أَغْلَاهَا ثَمَنًا، وَخَيْرُ اللَّيْلِ جَوْفُهُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ شَهْرُ اللهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ»
"(Memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa) adalah (memerdekakan) budak yang paling mahal harganya. Bagian malam yang paling baik adalah pertengahan malam. Dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian namakan bulan Muharram." (HR. An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 4202)
Muharram: Bulan Allah dan amalan Allah
Semua amal shalih sangat dianjurkan untuk ditingkatkan di bulan Muharram, baik dari sisi kwantitas maupun kwalitas. Salah satunya adalah puasa sunnah. Dianjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini. Puasa bulan Muharram memiliki keistimewaan sendiri, sebab puasa adalah amal kebaikan milik Allah, dan bulan Muharram adalah bulan milik Allah.
Puasa adalah amal kebaikan yang telah diakui Allah sebagai "milik-Nya" dan Allah sendiri yang akan memberikan balasan pahalanya. Sebagaimana dijjelaskan dalam hadits shahih:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: "Puasa itu khusus milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."(HR. Bukhari no. 7492 dan Muslim no. 1151)
Saat amalan istimewa milik Allah dikerjakan pada bulan istimewa milik Allah, tidak heran apabila puasa sunnah di bulan Muharram merupakan puasa sunnah yang paling utama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih:  
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram." (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)
Mari kita muliakan bulan Muharram ini dengan meningkatkan kwalitas dan kwantitas amal-amal kebajikan kita. Semoga Allah memberikan bonus istimewa untuk itu, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya sendiri. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: arrahmah

Hakikat Puasa Tasu'a dan 'Asyura



Hari ini adalah Kamis tanggal 8 Muharram 1434 H. Besok adalah Jum'at tanggal 9 Muharram 1434 H. Lusa adalah Sabtu tanggal 10 Muharram 1434 H. Tiga hari ini adalah hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah.
Hari Kamis disunahkan berpuasa sebagai bagian dari puasa sunnah Senin dan Kamis. Adapun hari Jum'at, 9 Muharram, adalah hari disunahkan puasa Tasu'a. Sedangkan hari Sabtu, 10 Muharram, adalah hari disunahkan puasa 'Asyura.
Sejarah puasa 'Asyura
Hari 'Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir'aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum 'Asyura.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallalhu 'alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari 'Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: "Ada apa ini?"
Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini."
Nabi shallallalhu 'alaihi wa salam bersabda, "Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian." Maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa 'Asura."(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130)
Kaum musyrik Quraisy sendiri juga telah melaksanakan shaum 'Asyura pada zaman jahiliyah. Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka'bah (kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam juga telah melakukan puasa 'Asyura sejak sebelum diangkat menjadi nabi sampai saat beliau berhijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, wallahu a'lam, puasa 'Asyura diwarisi oleh kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimas salam.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ الله رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ»
Dari Aisyah radiyallahu 'anha berkata: "Mereka biasa melakukan puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram) sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut Ka'bah diberi kain penutup (kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Baarangsiapa ingin berpuasa 'Asyura, silahkan ia berpuasa. Dan barangsiapa ingin tidak berpuasa 'Asyura, silahkan ia tidak berpuasa." (HR. Bukhari no. 1592)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ»
Dari Aisyah radiyallahu 'anha berkata: "Kaum musyrik Quraisy mengerjakan puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram) sejak zaman jahiliyah. Demikian pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengerjakan puasa 'Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Kemudian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari 'Asyura. Maka barangsiapa ingin, ia boleh berpuasa 'Asyura. Dan barangsiapa ingin, ia boleh tidak berpuasa." (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125, dengan lafal Bukhari)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam pada waktu di Madinah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shaum 'Asyura.
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: " أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ "
Dari Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa salammemerintahkan seseorang dari suku Aslam: "Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari Asyura'." (HR. Bukhari no. 2007 dan Muslim no. 1824)
عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ، قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ: «مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ»، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
Dari Rubayyi' binti Mu'awwidz radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salammengirimkan seorang pemberi pengumuman pada pagi hari 'Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan "Barangsiapa siapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampai akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa."
Sejak saat itu kami selalu berpuasa 'Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa 'Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan kepadanya mainana itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka." (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Dengan turunnya kewajiban puasa Ramadhan, maka status hukum puasa 'Asyura berubah dari wajib menjadi "sekedar" sunah.
Sejarah puasa Tasu'a
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam melakukan puasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa 'Asyura, maka para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani."
Maka beliau bersabda, "Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah."
Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam telah wafat."(HR. Muslim no. 1134)
Keutamaan puasa Tasu'a dan 'Asyura
1.Wujud syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan orang-orang kafir, yaitu selamatnya Nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam bersama Bani Israil dari kejahatan Fir'aun dan bala tentaranya. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
2.Meneladani nabi Musa, Harun dan Muhammad 'alaihimus shalatu was salam, yang berpuasa pada hari 'Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
3.Meneladani para sahabat radhiyallahu 'anhum yang melakukan puasa 'Asyura, bahkan melatih anak-anak mereka untuk melakukan puasa 'Asyura. Hadits yang menyebutkan hal ini telah disebutkan di atas.
4.Menghapuskan dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya, selama kesyirikan dan dosa-dosa besar dijauhi.
Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu bahwasanya:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ»
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ditanya tentang puasa hari 'Asyura, maka beliau bersabda: "Ia dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu."(HR. Muslim no. 1162)
Tingkatan puasa Tasu'a dan 'Asyura
Para ulama menjelaskan ada tiga tingkatan terkait puasa Tasu'a dan 'Asyura:
1.   Puasa satu hari saja yaitu pada hari 'Asyura. Hadits-haditsnya telah disebutkan di atas.
2.   Puasa dua hari, yaitu hari Tasu'a dan hari 'Asyura. Hadits-haditsnya telah disebutkan di atas.
3.   Puasa tiga hari, yaitu sehari sebelum 'Asyura (yaitu hari Tasu'a), hari 'Asyura dan sehari setelahnya (tanggal 11 Muharram). Pendapat disunahkan puasa sehari setelah 'Asyura ini didasarkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas. Hanya saja ia bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam, melainkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dan sanadnya lemah.
Meski demikian ia bisa dibolehkan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan. Misalnya hadits,
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ: " صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَلَا أَنَامُ إِلَّا عَلَى وِتْرٍ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; "Kekasihkau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam) berwasiat kepadaku dengan tiga hal; puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir." (HR. Abu Daud no. 1432, Ahmad no. 7512, Abu Ya'la no. 2619, Abdur Razzaq no. 2849 dan Ibnu Khuzaimah no. 1222, hadits shahih)
Wallahu a'lam bish-shawab

sumber:arrahmah
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com