photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Puasa Para Wali


DALAM Alquran kata shiyam disebut delapan kali. Pada surat Al-Baqarah ayat 183, 187, dan 196 dua kali. Surat An-Nisa: 92, Al-Maidah: 89 dan 95 serta surat Al-Mujadalah: 41.
Kata shaum disebut satu kali yaitu di surat Maryam: 26. Kata shaimin disebut satu kali di surat Al-Ahzab: 35. Shaimat disebut satu kali dalam surat Al-Ahzab: 35. Tashumu disebut satu kali dalam Al-Baqarah: 184. Falyashumhu disebut satu kali di Al-Baqarah: 185.
Tiga belas kata shiyam atau shaum artinya sama, yaitu menahan makan, minum dan berhubungan seks di siang Ramadan. Hanya satu yang artinya berbeda yaitu kata shaum (QS Maryam: 26) yang artinya meninggalkan bicara.
Fakta dan kenyataan di dunia menunjukkan manusia lebih banyak shiyam. Yang menjalankan shaum hanya para wali yaitu tidak sekadar meninggalkan makan, minum dan berhubungan seks, tetapi juga meninggalkan bicara yang tidak ada artinya.
Dengan puasa, para wali berhasil mengislamkan warga Indonesia dari animisme dan dinamisme. Hal itu terjadi karena ketulusan dan kebersihan hati para wali dari ucapan yang kotor termasuk berdusta.
Luqman Hakim, ahli hikmah mengatakan, barang siapa yang bisa berpuasa dari dusta selama 40 hari, maka akan keluar dari mulutnya mutiara hikmah. Para wali di Indonesia, sebelum menyampaikan dakwah, berpuasa di tempat-tempat sepi atau lebih dikenal berkhalwat (semedi).
Sunan Kalijaga berkhalwat di pinggir kali, Sunan Muria di Gunung Muria, Sunan Bonang di Bonang, Sunan Gunungjati di gua Datul Kahfi di Cirebon, dan lain-lain. Maka layak, begitu para wali menyampaikan pesan-pesan dakwah langsung bisa diterima oleh umat.
Di Bagdad, Abu Yazid Al-Bustomi setelah berpuasa dengan model puasa para wali, suatu hari mendapat ilham untuk datang ke sebuah gereja. Dia masuk ke gereja dan bergabung dengan jemaat gereja.
Terjadilah peristiwa aneh. Pada saat Baba sang penginjil menyampaikan tausiah, tiba-tiba dia tidak bisa bicara. Mulutnya terkunci tidak keluar suara. Dia kemudian menghentikan ceramahnya. Setelah merenung sang Baba berkata, ‘’Di dalam gereja ini ada umat Muhammad. Saya bisa melihat dari sinar mukanya’’.
Mendengar itu, Abu Yazid buru-buru berdiri untuk keluar dari gereja. Tetapi sang Baba penginjil mencegahnya. ‘’Tuan, Anda jangan keluar. Kalau Anda bisa menjawab 19 pertanyaan saya, saya akan percaya dengan agama Anda dan mengikutinya’’.
Abu Yazid agak terkejut mendengar pernyataan sang Baba. Namun dia mempersilakannya menyampaikan 19 pertanyaan itu. Sang Baba kemudian menyampaikan satu persatu pertanyaan agar dijawab Abu Yazid.
Secara berututan dia bertanya siapakah dzat yang satu dan tidak ada duanya. Apa dua yang tidak ada tiganya, apa tiga yang tidak ada empatnya, apa empat yang tidak ada limanya, apa lima yang tidak ada keenamnya, apa enam yang tidak ada ketujuhnya.
Apa tujuh yang tidak ada kedelapannya, apa delapan yang tidak ada kesembilanya, apa sembilan yang tidak ada kesepuluhnya. Apa ke-10 yang tidak ada sebelasnya, apa 11 yang tidak ada keduabelasnya, apa 12 yang tidak ada ketigabelasnya, apa 13 tidak ada keempatbelasnya, apa yang Allah ciptakan namun Allah mengingkarinya, apa yang Allah ciptakan tapi dia mengutuknya, apa yang bernafas tanpa roh, apa kuburan yang berjalan membawa penghuni kuburnya, apa pohon-pohonan yang bercabang duabelas tiap cabang beranting 30 dan tiap ranting berbuah lima. Dan pertanyaan terakhir, apa kunci surga.
Abu Yazid dengan tegas menjawab ke-19 pertanyaan itu. Pertama, satu yang tidak ada keduanya adalah Allah swt. Dua yang tidak ada tiganya siang dan malam. Tiga yang tidak ada empatnya yaitu pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Khidir. Empat yang tidak ada limanya yaitu kitab samawi (Taurat, Zabur, Injil dan Alquran).
Lima yang tidak ada enamnya shalat wajib lima waktu. Enam yang tidak ada tujuhnya yaitu diciptakannya langit dan bumi (QS Qof: 38).
Sang Baba bertanya, ‘’Kenapa dalam ayat itu disebutkan Allah tidak merasa capai?’’. Abu Yazid menjawab, ‘’Karena orang Yahudi mengira bahwa hari ketujuh untuk istirahat Allah’’. Pertanyaan ketujuh, tujuh yang tidak ada delapannya ialah langit (QS Nuh:15). Pertanyaan kedelapan, delapan yang tidak ada sembilannya yaitu malaikat penjaga arsy (QS Al-Haqqoh: 117).
Sembilan yang tidak ada sepuluhnya yaitu mukjizat Nabi Musa (QS Al-Isra: 101). Sepuluh yang tidak ada sebelasnya yaitu amal kebaikan yang dilipatkan pahalanya 10 kali lipat. Sebelas yang tidak ada dua belasnya yaitu saudara-sudara Nabi Yusuf.
Dua belas yang tidak ada tiga belasnya yaitu pancuran air dari batu yang dipukul Nabi Musa. Tiga belas yang tidak ada empat belasnya yaitu sebelas saudara Nabi Yusuf ditambah bapak dan ibunya.
Allah menciptakannya tetapi menyebutnya sebagai munkar yaitu suara hewan khimar (QS Luqman:19) ‘’Sesungguhnya suara yang paling ingkar adalah suara khimar’’.
Jawaban dari pertanyaan Baba kelima belas yaitu tipu daya muslihat wanita (QS Yusuf: 28). Bernafas tanpa roh yaitu subuh (QS At-Taqwir: 18) wassubhi idza tanaffas.
Kuburan yang membawa penghuninya yaitu Ikan Hud yang menelan Nabi Yunus. Pohon yang bercabang 12 ialah tahun terdiri 12 bulan, tiap bulan 30 hari, tiap hari ada lima waktu shalat. Jawaban pertanyaan terakhir, kunci surga yaitu Laailaha Illallah Muhammadar Rasulullah.
Subhanallah, apa yang terjadi selanjutnya? Sang Baba dan seluruh penghuni gereja spontan mengucapkan kalimat syahadat dan menyatakan masuk Islam. Itu terjadi karena Abu Yazid Al-Bustomi setelah berpuasa dari berkata-kata kotor maka keluarlah mutiara hikmah dari mulutnya.
Dari mulut Abu Yazid yang bersih dan hati yang tulus masuk ke dalam telinga para penghuni gereja yang menembus dalam hati mereka. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Wallahu a’lam bishawab. (43)
— KH Masruri Mughni, Rois Syuriyah PWNU Jateng, pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah2 Benda, Sirampog, Brebes

download secara gratis: cara mengubah pdf ke word

download secara gratis: cara mengubah pdf ke word: pada malam ini saya akan memshare satu lagi software yang mungkin berguna untuk anda di postingan saya yang berjudul cara mengubah pdf ke w...

Thoriqoh Keteladanan Abah

Almaghfurlah KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni
Satu pagi di bulan Agustus 2011, ratusan santri sudah tampak memadati Masjid Pondok An Nur. Santri dari beragam kelompok usia dan madaris itu, menata diri membentuk shaf layaknya shaf shalat. Santri Putra di depan dan putri di belakang. Sembari menunggu kedatangan Abah Yai, para peserta pengajian tafsir ini terlihat membuka-buka kitab Jalalainnya, me-mutholaah pelajaran kemarin hari , sebagian lainnya memilih nderes membaca Al Qur’an.
Beberapa saat berlalu, lewat dari pukul setengah tujuh , para santri masih bertahan dan menunggu. Mereka sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya. Padahal mereka mafhum benar, Abah baru kondur dari tindakannya dini hari tadi selepas lawatan ke beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sepertinya, para santri ini yakin benar, meski baru pulang dari perjalanan jauh, Abah tetap akan ngasto pengajian.
Dan benar saja, sejurus kemudian Abah yang dinantipun rawuh, Bakda salam dan fatihah, Abah membacakan kembali lanjutan kajian tafsir dan menerangkan intisarinya dengan seksama. Tak ada kesan lelah setelah bepergian jauh. Pengajian bersama santri, seakan menjadi obat penawar lelah Abah Yai.
Selalu Ajarkan Keteladanan
Dilahirkan di desa Benda, 23 Juli 1943, Abah Yai Masruri adalah alumnus Pondok Pesantren Tasik Agung Rembang asuhan KH. Sayuthi dan KH. Bisri dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Selain nyantri di kedua pesantren tersebut, Abah juga aktif bertabarukan di berbagai pesantren tanah air, satu diantaranya adalah di Pondok Pesantren hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng Jombang Timur.
Abah yang memiliki nama lengkap Mochammad Masruri Abdul Mughni adalah putra pertama dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Mughni dan Hj. Maryam. Dari garis nasab, Abah adalah cucu dari KH. Cholil bin Mahalli, salah seorang muassis (pendiri) Pondok Pesantren Al Hikmah.
Sejak kecil, Abah sudah mendapatkan tarbiyyah langsung dari kedua orang tuanya juga kakeknya sendiri KH. Kholil bin Mahalli dan juga KH. Suhaemi bin Abdul Ghoni (putra kakak KH. Cholil)
Sejak muda, Abah dikenal telah memiliki jiwa kepemimpinan dan selalu dituakan oleh orang- orang disekitarnya. Di pesantrennya Tambak Beras dalam usia yang relatif muda, beliau telah didaulat oleh para masyakikh untuk menjadi qori’ ( membacakan kitab untuk santri).
Dalam kesehariannya, Abah adalah seorang murabbi (pendidik) yang alim, murah senyum, pembawaanya luwes, memiliki tanggung jawab tinggi, dekat dengan semua orang dan penuh dengan keteladanan. Bagi Abah Yai, transformasi ilmu tak hanya sebatas teoritikal belaka, tapi setiap ilmu mesti diajarkan lewat keteladanan nyata.Para santri saban hari menjadi saksi, bagaimana keteladanan sosok Abah dalam setiap sendi kehidupan Beliau. Abah selalu berupaya memberikan teladan pertama dalam setiap hal, besar ataupun kecil.
Abah adalah seorang yang tak pernah lelah berjuang untuk umat. Setiap detak waktu, Beliau gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Di tengah padatnya jadwal, sebagai Rais Syuriah NU Jawa Tengah, pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua MUI Brebes, dan ketua dewan pengawas Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT), Abah selalu mengedepankan keistiqomahan dalam mendidik para santrinya.
Setiap hari hingga menjelang tengah malam beragam berbagai fan kitab Beliau ajarkanmulai dari tafsir, fiqh, akhlak, ilmu Al Qur’an, faraid, hingga tasawwuf. Dalam setiap pengajiannya, tak pernah terbersit kesan capek dan lelah dari seorang Abah. Meski baru sepulang dari bepergian sekalipun, Abah selalu terlihat bersemangat dalam membawakan kitab yang diajarkannya.
Abah seakan ingin memberikan teladan langsung bagi para santrinya tentang arti dan makna hidup yang seberanya. Seperti yang sering Beliau utarakan di depan ribuan para santrinya ” Innal Hayata ’Aqidatun Wajihadun”. Makna hidup adalah aqidah dan perjuangan. Aqidah Islam yang benar dan mesti diperjuangkan sepanjang hayat dengan mengisi kehidupan untuk mencari ridha Allah Subhanu Wata’ala semata.
Dalam tataran sosial kemasyarakatan, Abah adalah seorang yang memiliki pembawaan luwes, hangat, dan mampu dekat dengan semua orang. Setiap tamu yang datang di ndalem, jika Abah tidak sedang bepergian pasti ditemui. Beliau sambut dengan ramah dan penuh kehangatan pukul berapapun juga. Abah selalu berusaha nglegakke tamunya. Abah pun tak segan untuk mengajak setiap tamuanya bersantap bersama di meja makan beliau, jika si tamu kebetulan datang di waktu santap.
Sebagai ayah bagi keluarga dan ribuan santrinya, kasih sayang Abah terhadap santri- santrinya tak pernah surut. Setiap santrinya, baik yang masih berada di Pesantren ataupun telah muqim seakan bisa selalu dekat dan merasakan kasih sayang Abah. Pada beberapa kesempatan lawatannya ke berbagai kota, dalam dan luar negri, Abah selalu menyediakan waktu untuk menjenguk para santrinya. Setahun sekali setiap tanggal 5 Syawal ribuan santrinya dapat berdialog langsung dengan Beliau di pertemuan alumni. Dalam acara itu, Abah dengan senang hati menerima “curhat” keluh kesah para santrinya yang telah berjuang di masyarakat.
Pun demikian, sejatinya kasih sayang Abah pada santrinya tak terbatas oleh ruang dan waktu. Jauh dari itu, Abah selalu menekankan setiap santrinya untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatkannya, agar menjadi pribadi yang shaleh dan selamat dunia akhirat. Seperti salah satu ndawuh Abah bagi setiap santrinya untuk menghafal dan mendawamkan pembacaan surat Al–Mulk (Tabarak). Sebagaimana keterangan dalam sebuah bahwa hadist bahwa siapa saja yang melanggengkan membaca surat ini, maka Al Mulk akan menjadi pembelanya dari azab kubur, menjadi syafa’at sehingga diampuni dosanya oleh Allah, dan dikeluarkan Allah SWT dari neraka sehingga dimasukkan kedalam surga. Dalam satu kesempatan di hadapan santrinya, Abah Yai pernah berkata bahwa surat menghafal surat Al Mulk adalah utang setiap santri pada Abah. Utang yang jika tidak dibayarkan (dengan menghafal) akan terus dipertanyakan oleh Abah bahkan hingga di akhirat nanti.
Penggagas Beasiswa Falak
Terhadap perkembangan keislaman nusantara, Abah Yai pun secara khusus menaruh perhatiannya. Melihat minimnya generasi muda Islam yang di bidang falak, tahun 2005 bertempat di Pondok Pesantren Al Hikmah, Abah Yai mengadakan pelatihan falak khusus untuk beberapa pesantren dan kepala kantor urusan agama (KUA). Pelatihan ini diadakan atas dasar keprihatinan Abah terhadap minimnya pengetahuan dan ketersediaan ahli falak di masyarakat Islam. Karena dianggap sukses dalam pelatihan itu, akhirnya Abah mencoba mengadakan pelatihan Falak kembali dengan sasaran pesantren dan Kiai se Jawa Tengah.
Pada waktu itu keinginnannya untuk memadukan antara ahli falak Indonesia dengan beberapa ahli falak dari luar, mulai menampakkan hasil. Dalam acara acara pelatihan ini hadir pula tokoh Kemenag, diantaranya Amin Haedari yang saat itu menjabat sebagai direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ( PD Pontren), Kakanwil Depag Jawa Tengah Habib Toha, Kepala Badan Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali, serta ahli Falak IAIN Walisongo Ahmad Izzuddin, dan masih beberapa tokoh lain.
Dari sinilah, kemudian beberapa tokoh ini akhirnya mengusulkan kepada Amin Haedari untuk membuka program beasiswa khusus ilmu Falak yang saat ini dikonsentrasikan di IAIN Walisongo Semarang.
Berpulang Ke Rahmatullah
Innaalillahi wainnaailahi roji’un. Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Berangkat bersama keluarga dan rombongan terbang (Kloter) 49 Embarkasi SOC (Solo) bersama 400-an jamaah lainnya untuk menunaikan ibadah haji, Abah Yai Mochammad Masruri Abdul Mughni dipanggil Allah SWT untuk berpulang kepada-Nya.
Setelah melaksanakan shalat Arba’in di Masjid Nabawi, kamis malam (17/11 ) Abah Yai merasakan kecapaian. Petugas pun kemudian membawa Abah ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah. Karena kondisinya terus menurun, akhirnya petugas melarikan ke Rumah Sakit Al-Anshor . Sabtu pagi, Kondisi Abah sempat membaik, bahkan selang ventilator yang terpasang dilepas oleh tim dokter.
Namun, Sabtu malam pukul 23.00 WSA (Waktu Saudi Arabia) kondisi Abah kembali menurun.. Di rumah sakit tersebutlah, di tanah suci Madinah Al Munawwarah, Romo KH. Moch Masruri Abdul Mughni dipanggil ke haribaan Allah Subhanuwata’ala Ahad pagi (20/11) pukul 00.15 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 04.15 WIB. Abah meninggal dalam usia 68 tahun.
Setelah dishalati di Masjid Nabawi selepas shalat shubuh, atas permintaan Abah sendiri jenazah Beliau disemayamkan di komplek pemakaman Baqi’ di dekat masjid Nabawi bersama istri, para sahabat Rasulullah dan para masyayikh.
Allahummaghfirlahu Wa’aafihi Wa’fu’anhu, Waljannata Ma’wahu. Ya Allah ampunilah dosa guruku, limpahilah Ia dengan kasih-Mu, muliakanlah Ia bersama para kekasih-Mu. Amin.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com