photo IMG-20150420-WA0014.jpg

 photo IMG_0077.jpg
 photo 20150419_105837.jpg
 photo 22.jpg
 photo IMG-20141201-WA0027.jpg
 photo 20150418_093253.jpg

Feel The Nature Through Al Qur’an

#SalamLestari!

Hallo bre,... selamat datang dan kembali nongol lagi di blog gue, kali ini gue mau cuap-cuap capciscus mengenai kegiatan mountaineering yang diadakan oleh para komunitas One Day One Juz atau yang biasa disebut ODOJ. Melanjutkan kegiatan adventure sebelumnya yaitu pendakian Gunung Semeru, kali ini ODOJ Adventure kembali melakukan pendakian Gunung Papandayan.
Kegiatan yang diadakan oleh ODOJ Adventure Bekasi ini mempunyai visi dan misi yang sama seperti pendakian sebelumnya yang digagas oleh ODOJ Area Jawa Timur yaitu tilawah Al Qur’an di puncak gunung.


‘Papandayan’ ya inilah adeventure  pertama mereka ODOJ Bekasi. Kegiatan bertajuk khataman Al Qu’ran di puncak Papandayan ini digagas oleh dewan pengurus area ODOJ Bekasi dengan tema Feel The Nature Through Al Qur’an, dengan peserta yang melibatkan kurang lebih sekitar 90 orang. Sebelumnya awal mula dari acara ini adalah untuk silaturrahmi untuk mempererat para ODOJers di berbagai daerah, yang sebelumnya hanya berkomunikasi via social media. Dengan memiliki hobi yang sama yaitu adventure maka tercetuslah ide sang ketua panitia yaitu Pak Kuntartono untuk membuat acara pendakian -padahal basic beliau sendiri adalah touring- dengan misi membumikan Al Qur’an dimanapun berada.


Pada rangkaian kegiatan ini antara lain mengkhatamkan Al Qur’an secara bersama-sama di puncak Papandayan tepatnya di Tegal Alun, Qiyamullail berjamaah, Games, dan beberapa kegiatan lainnya di Pondok Saladah. 
yang paling gila menurut gue disini adalah ketika pada sesi ta'ruf pada malam api unggun, dimana setiap kelompok menampilkan aksi 'gila' nya, aksi yang gak jelas, haha dari yel-yel nyanyi fals, sampai orasi yang berapi-api namun gak jelas apa yang dibicarakan di orasinya, haha sebut dia saja akh Santo (bukan nama sebenarnya), eh zid itu nama aslinya keleus.*Dzigh!
Okey skip, dari survey yang tanpa data valid para peserta sangat terkesan dengan kegiatan ini, termasuk gue juga, dimana keakraban & kehangatan sangat jelas terjalin disini, walaupun pada sebelumnya tidak pernah bertemu sama sekali, namun karena satu visi & misi semua pecah dalam kekeluargaan. *Tsah!


To be continued....!

Cuapan Bayongbong Cikuray

Ini adalah perjalan ngelayap bin kabur buat gue untuk yang kedua kalinya menuju 'kota diatas awan', begitudah kalo kata orang-orang nyebutnya mah, padahal sih sama aja, yang namanya diatas gunung ya ada awan, it's ok itu gak penting kita bahas, yang pening intinya gue mau cuap-cuap untuk trek gue ke Cikuray via Bayongbong.




Seperti biasa para tukang ngeluyur kayak gue weekend ke gunung adalah menjadi pilihan utama, ya walaupun sebenernya 'tugas kantor' msih bejibun, (anggap aja udah selesai lah..hehe)

22:00 WIB
Kurang lebih jam segituan lah kami beranjak dari terminal Kampung Rambutan, menuju terminal Guntur-Garut, kami memutuskan untuk masuk kedalam terminal mencari bus ketimbang menunggu di pintu keluar yang penumpangnya udeh kek pasar induk, bus yang kamu tumpangi dibanderol Rp. 52.000 ya sedikit lebih mahal sih dibanding hari biasa, tapi tak apalah yang penting bisa naik.

04:36 WIB
Pokoknya jelang subuh kita sudah sampai tujuan kami yaitu Garut, dari situ kami menyewa angkot sampai ke Masjid Al Ikhlas Bayongbong untuk melaksanakan sholat Subuh sembari menunggu agak siang untuk sarapan pagi dan melengkapi logistik, dan dari juga sini sudah bisa terlihat puncak Cikuray dengan gagahnya bercokol dibalik masjid.

Terminal Guntur - Garut,
Ngeksis, biarin muka kucel masih bau iler
05:20 WIB
Usai melaksanakan Sholat Subuh kami mencari sarapan sembari melengkapi logistik, dan rupanya menu sarapan pagi ini kurang bersahabat, sepanjang jalan dari masjid sampai pertigaan simpang jalan menuju papandayan kami tidak menemukan warung yang manjual nasi rames, ahhh sudahlah lontong dan gorengan menjadi alternative-nya.

Halaman Masjid Al Ikhlas,
Menikmati hangat mentari, biar kayak orang bule
08:00 WIB
Okeh setelah semua logistik dan perut sudah terpenuhi, kami berangkat melanjutkan perjalanna menuju desa dimana manjadi pintu masuk jalur Bayongbong (gue lupa nama desanya cuy..hehe ^_^ ), sepanjang perjalanan dari alun-alun Masjid Bayongbong menuju desa jalur pintu masuk Cikuray ternyata sudah disuguhi trek yang lumayan gila menurut gue, jalur yang sepanjang perjalanan nanjak terus dengan jalan yang terjal masih berupa bebatuan, pantas saja mobil angkot yang kami sewa tidak berani mengantarkan menuju desa tujuan kami, sayangnya gak ambil gambar, next dah gue upload videonya.

08:40 WIB
Kami tiba disebuah pabrik pemerahan susu kambing & sapi, dimana tempat inilah tujuan terakhir angkot yang kami sewa untuk mengantarkan menuju pintu masuk jalur pendakian. Mempersiapkan kembali sebelum pendakian, danadan lah, pake sepatu, gaiter, kacamata item, trekking pole, dan jangan lupa pake 'hembodi' biar cakepan dikit, hehe.

POS Awal Menuju Jalur,
Dandan dulu bisa kali sebelum naik  
Perjalan dimulai dari persawahan, yang masih bersahabat lah untuk treking-nya, menikmati aroma alam yang khas dengan pegunungan, perkebunan kol, tomat, cabai, kentang, sepertinya desa ini makmur. Sekitar 20 menitan berjalan jalur bebatuan yang menanjak -pun mulai terlihat, ahhh mungkin ini awal trek kami, dan memang benar, inilah awal menuju pos 1 untuk melakukan registrasi SIMAKSI, sambil mengurus registrasi kami istirahat sejenak menikmati hamparan kebun sayuran hijau khas alami.
Pos 1,
Pendaki Bijak Pasti Lapor SIMAKSI
Trek yang dilalui menuju perjalan POS 2, empuk-empuk gimana gitu dah kalo udah jalan disini, apalagi dengan kondisi tanah agak basah dengan siraman sedikit air, Glek!


Trek Menuju POS 2,
Pemanasan yang sudah panas
Sebenernya gak jauh dari POS 1 menuju POS 2 sekitar 10 menitan berjalan sudah mulai terlihat menuju jalur POS 2, namun sepanjang perjalanan akan sering berjalan dengan trek tanjakan dari POS 1, dan artinya akan lebih sering ngadem juga pastnya.   
Trek Menuju POS 2,
Ngadem sejenak 'Salad Savana'
 
12:00 WIB
Tepat jam 12-an tiba di Pos 2, beristirahat sejenak, melaksanakan Sholat Dzuhur sambil menunggu hujan reda, karena hujan yang lumayan deras membuat kami tertahan lebih lama di pos 2, setelah agak reda sebagian dari kami ada yang melanjutkan perjalanan dengan rain coat-nya karena menyusul yang sudah lebih dahulu berangkat, sementara yang sebagian lagi menunggu sampai hujan reda.

Pos 2,
Awal 'Pendakian Sebenarnya'
Mengawali dari pos 2 inilah kami disuguhi tanjakan yang kece badai untuk jadikan rujukan next ngelayap, jalur yang licin karena siraman air hujan, belasan tanjakan yang sering dijumpai hingga 50°, dari sinilah webbing kami jadi sering digunakan pada trek ini.

Trek via Bayongbong,
Kalian Pasti Akan Kangen Jalurnya
Kalo gue perhatiin sih, ini jalur gak ada bedanya dengan tanjakan seruni & bapa tere-nya gunung Ciremai, 11-12 lah bahkan kayaknya malah lebih sering dan lebih banyak di jalur Bayongbong, yang jelas pokoknnya kayak gitu dah.


Trek via Bayongbong,
Akan Terbiasa Memakai Webbing

Trek via Bayongbong,
Lupakan Jaur Sejenak
Dan perjuangan selama hampir 12 jam perjalanan itu terbayar, semilir angin pagi membangunkan gue, sorot sang fajar agak kemerah-merahan yang gemulai menyapa kami para tukang ngeluyur yang belum sadar bahwa dirumah dengan selimut tebalnya sebenernya lebih enak ketimbang naik gunung, haha.

Puncak Cikuray,
Masih sedikit malu kala sang fajar terbit
Dan dari sinilah harusnya kalian akan merasakan bahwa keangkuhan kalian semakin tak bisa kalian luapkan dan tak bisa kalian tandingi tatkala meihat besarnya bangunan ini menancap kokoh kebumi, dan kau  berdiri diatasnya dengan ungkapan syukur 
Puncak Cikuray,
Dan inilah pancaran sang surya itu
 

11:20 WIB
Menjelang Dzuhur kami beranjak dari puncak Cikuray untuk turun melewati jalur pemancar yang terbilang cukup mudah dibandingkan ketika berangkat melewati jalur Bayongbong yang 'super extrem'. Dan rupanya kami sedikit beruntung karena cuaca juga mendukung, siang yang cerah.


Puncak Cikuray,
Pose Sejenak Sebelum Perjalanan Pulang
Ahhhh rasanya perjalanan ini terlalu cepat buat gue, mendapatkan dengan instant saudara baru, semoga saja tetap terjalin, tanpa memikirkan akan perginya dengan instant. :)


Puncak Cikuray,
Modusnya sih naik gunung
Terimakasih banyak Garut, terimakasih banyak Cikuray, hatur nuhun Bayongbong, kalian banyak mengajarkan kami tentang jalur pendakianmu.

Beberapa Solusi Ketika Tesesat Menjelajah Alam

Menjelajah alam adalah suatu kegiatan yang sangat seru dan penuh manfaat.Berjalan melintasi lebatnya hutan belantara, menyusuri sungai, mendaki gunung, dan memanjat tebing adalah sebuah petualangan yang penuh tantangan dan memicu adrenalin. Memang sangat melelahkan untuk dikerjakan, namun apa yang kita dapatkan pada akhirnya akan sepadan dengan perjuangan yang kita lakukan. Di ujung petualangan nanti, kita akan mendapatkan kenikmatan tak ternilai berupa segarnya udara, asrinya pemandangan, dan suasana menakjubkan yang langka. Rasa puas dan bangga pun akan membuat hati terasa penuh.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan petualangan dalam sebuah penjelajahan alam.Berbagai persiapan dan trik perlu kita upayakan semaksimal mungkin demi kelancaran penjelajahan kita. Alam yang akan kita pilih untuk dijelajah pun tidak bisa sembarangan. Tiap obyek memiliki tantangan dan tingkat kesulitannya masing-masing.Di sini, kita harus bisa memilih obyek mana yang sesuai dengan kemampuan kita agar kita terhindar dari berbagai resiko dan masalah.

Namun kadangkala, masalah tetap datang walaupun kita sudah berusaha menghindarinya. Salah satu masalah yang biasa muncul pada kegiatan penjelajahan alam antara lain adalah tersesat. Wajar saja jika seorang petualang bisa tersesat di dalam hutan atau gunung karena di sana tidak ada papan penunjuk arah seperti di jalan raya di perkotaan. Belum lagi bentuk lingkungan yang cenderung monoton dan tak beraturan berupa pepohonan memang bisa sangat membingungkan.


Walaupun cenderung umum, tersesat adalah masalah yang cukup serius. Berbagai macam resiko seperti kedinginan, kehausan, kelaparan, dan trauma akan siap menyerang kita jika kita tidak segera kembali. Agar terhindar dari berbagai resiko mengerikan tersebut, ada baiknya kita mempelajari langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan jika kita tersesat nantinya. Mari kita simak penjelasan di bawah ini:

S.T.O.P
Ada sebuah panduan yang sudah berlaku secara internasional untuk orang-orang yang tersesat saat hiking, camping, atau trekking.Panduan tersebut dikenal dengan istilah S.T.O.P. yang merupakan singkatan dari Stay Calm, Think, Observe, dan Plan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin:

1. Stay Calm (Tetap Tenang)

Stay Calm berarti Tetap Tenang. Inilah hal pertama yang harus dilakukan saat kita menyadari bahwa kita sudah tersesat. Umumnya orang akan langsung panik jika menyadari bahwa ia telah tersesat. Kepanikan ini akan membuatnya semakin sulit untuk mencari jalan keluar. Jika terus dibiarkan, kepanikan bisa membuat kita mengambil sikap yang salah dan justru merugikan diri sendiri. Sebagai contoh, kepanikan akan membuat kita berjalan semakin tak tentu arah yang berakibat membuat kita tersesat semakin jauh atau menciptakan masalah lain yang lebih buruk lagi. Panik juga bisa membuat kita mudah ketakutan dan putus asa sehingga semangat kita untuk berusaha bertahan hisup akan menurun drastis. Maka dari itu, sebaiknya jangan membuat keputusan atau mengambil tindakanapapun sebelum kita berhasil menguasai emosi kita saat tersesat.


Segera hentikan langkah begitu menyadari bahwa kita telah tersesat.Letakkan semua barang bawaan agar badan terasa ringan.Carilah sebuah pohon yang rindang dan duduklah di bawah agar badan terasa rileks. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan. Lakukan berulang kali dalam tempo yang pelan sampai kita merasa tenang.Jika otak sudah terasa tenang, kita bisa memulai langkah selanjutnya.Jika badan dan pikiran sudah cukup tenang, mencari solusi akan terasa lebih mudah.

2. Think (Berpikir)
 
Langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan saat tersesat setelah kita berhasil menguasai diri adalah Think alias Berpikir.Coba ingat kembali rute mana saja yang sudah kita lewati dan bagaimana caranya kita bisa mencapai titik kita berada saat ini.Pikirkan dimana kita mulai salah langkah tadi.Ingat-ingat kembali apakah ada hal yang cukup unik untuk kita ingat yang bisa dijadikan patokan, misalnya pohon besar yang pernah kita lewati atau danau kecil tempat kita mampir minum tadi.
 
Jika kamu menjelajah alam secara berkelompok dan hanya kamu yang tersesat seorang diri, ingat-ingat kapan terakhir kali kamu berada bersama mereka.Apakah sudah cukup jauh atau belum.Pikirkan berapa lama kira-kira waktu yang mereka perlukan untuk menyadari bahwa kamu sudah tidak ada di tengah-tengah mereka lagi.Selain mengingat-ingat, kita juga perlu memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi mulai saat ini sampai selanjutnya. Adakah orang yang akan segera mencari kita di tengah belantara ini?
 

Pikirkan segala kemungkinan yang ada, dari yang terburuk sampai yang terbaik. Pastikan kita tetap tenang agar pikiran tetap jernih, walaupun saat kita sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jangan langsung menarik kesimpulan dan mengambil sikap sebelum kita berpikir cukup banyak dalam kondisi tenang.

3. Observe (Amati)

Observe atau Amati adalah langkah yang akan kita ambil setelah selesai mengingat dan berpikir. Amati yang dimaksud di sini adalah kita mengamati lingkungan sekitar kita.Sekilas pandang, yang kita lihat tentu hanyalah hamparan pepohonan lebat yang tidak beraturan. Sepintas, semuanya akan tampak sama saja. Tetapi, jika kita bisa bersikap tenang dan mengamati dengan lebih seksama, kita akan menyadari bahwa setiap satu pohon pasti berbeda dengan pohon lainnya.

Dari pengamatan tersebut, mungkin kita bisa mengingat kembali arah mana saja yang baru saja kita lewati. Perhatikan juga keadaan langit, apakah mendung atau cerah. Apakah hujan akan segera turun? Apakah ada binatang buas yang tinggal di sekitar tempat kita berada saat ini?Perhatikan sebanyak mungkin detail yang ada di sekitar kita, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kita jadikan petunjuk.


Selain keadaan lingkungan, amati juga keadaan diri kita sendiri. Misalnya, seberapa lelahnya kah badan kita?Seberapa banyak bekal makanan dan minuman yang masih tersisa? Kemudian amati lagi keadaan di sekitar kita, dapatkan kita mencari sumber makanan dan minuman yang cukup aman dikonsumsi? Adakah tempat yang cukup nyaman dan aman untuk kita beristirahat sementara?
 
4. Plan (Rancana)
 
Setelah cukup banyak berpikir dan mengamati, mungkin kita akan mendapat petunjuk tentang arah mana yang harus kita tuju untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Selanjutnya, kita hanya perlu melakukan Plan atau Rencana. Rencana yang perlu kita buat saat tersesat antara lain jalan dan arah mana yang akan kita tuju, berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan untuk sampai ke pos atau sampai bertemu kembali dengan rekan sekelompok.
 
Selain rute, kita juga perlu memastikan bekal makanan dan minuman kita cukup. Jika tidak cukup, kita harus mempunyai rencana dimana kita akan mendapatkan makanan dan minuman darurat jika kita terlanjur kehabisan sebelum sampai di pos. Tenaga juga harus dipastikan cukup kuat untuk berjalan sejauh itu. Jika sekiranya tidak kuat, rencanakan dimana kita akan berisitirahat nantinya.


Ketika menyusun rencana, pastikan pikiran kita berada dalam kondisi yang benar-benar tenang. Jangan terburu-buru untuk segera melaksanakan rencana tersebut.Ambillah cukup waktu untuk mereview rencana kita secara perlahan, siapa tahu ada hal yang terlewatkan. Bayangkan kendala apa saja yang mungkin timbul saat kita menjalankan rencana tersebut. Sempurnakanlah rencana kita dengan sebaik-baiknya agar masalah yang ada tidak bertambah parah.
 
Dari empat langkah yang ada dalam panduan S.T.O.P, yang paling sulit untuk dikerjakan adalah langkah terakhir ini (Plan/Rencanakan). Dengan informasi, perbekalan, dan keadaan yang sangat terbatas, seringkali kita ragu atas apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Salah langkah akan membuat kita semakin sulit untuk mendapatkan jalan keluar. Solusinya, adalah dengan Stay Put atau Tetap di Tempat.
 
STAY PUT ( Tetap di Tempat)
Stay Put atau Tetap di Tempat adalah langkah yang paling aman dan bijak untuk dilakukan saat tersesat ketika kita tidak merasa yakin dengan rencana kita. Stay Put bukan berarti pasrah dengan keadaan, tetapi kita hanya menunggu orang lain datang untuk menemukan kita. Ketika memutuskan untuk Tetap di Tempat pun, ada hal-hal yang harus kita waspadai baik-baik, antara lain:
 
1. Tempat
 
Sembari menunggu bantuan datang, diamlah di tempat yang sekiranya cukup mudah bagi kita untuk ditemukan, misalnya di tempat kita berada saat ini, di tepi sungai atau danau, atau di tempat terakhir kali kita masih bersama kelompok. Namun, pastikan bahwa tempat itu cukup aman dan nyaman untuk kita beristirahat sementara.Jika tempatnya kurang memadai, segeralah cari tempat lain yang lebih baik. Usahakan agar tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kita berada saat ini agar kita tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Tempat yang kita gunakan untuk beristirahat hendaknya berada cukup dekat dari sumber air seperti sungai atau danau. Tempat tersebut juga harus memiliki suhu udara yang nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga kita bisa bertahan cukup lama di sana tanpa menderita. Pastikan juga bahwa tempat tersebut cukup aman dari serangan binatang buas.
 
2. Dehidrasi dan Air Minum
 
Dehidrasi adalah ancaman yang cukup serius bagi orang yang tersesat di tengah hutan atau gunung.Maka jika kita sampai tersesat saat sedang asyik menjelajah alam, segera periksa seberapa banyak bekal minuman yang kita miliki.Perhitungkan kira-kira berapa lama kita sanggup bertahan hidup dengan sisa air yang ada tersebut.
 
Tanpa air minum, manusia hanya bertahan hidup selama 3 hari bahkan mungkin kurang. Jika beberapa jam tidak minum saja, tubuh akan beresiko terserang dehidrasi. Jika aktivitas kita cukup tinggi, maka kebutuhan air minum akan semakin bertambah. Dapat dikatakan juga, semakin banyak kita beraktivitas, kemungkinan dehidrasi akan semakin tinggi. Maka dari itu wajar jika kita tersesat dengan bekal air minum yang sangat terbatas, kita perlu segera mencari sumber air untuk membantu kita bertahan hidup.



Jika air bersih cukup sulit untuk ditemukan, maka air yang agak keruh pun bisa kita jadikan sebagai air minum darurat. Mungkin air ini akan membuat kita sakit perut. Tetapi, itu masih tetap lebih baik daripada tidak minum sama sekali. Agar resiko penyakitnya dapat dikurangi, kita bisa membuat api unggun dan merebus air tersebut terlebih dahulu. Atau jika bisa, buatlah peralatan suling air sederhana.
 
3. Kelaparan
 
Ancaman lain setelah dehidrasi bagi para petualang alam yang tersesat adalah kelaparan. Tanpa makanan, manusia maksimal dapat tetap hidup selama 3 minggu.Durasi ini memang jauh lebih panjang daripada jika tanpa minum.Namun, bukan berarti hal ini bisa kita sepelekan.Jika fisik badan tidak cukup kuat, bisa jadi kita hanya bertahan beberapa hari saja tanpa makan apa-apa.
Jika bekal makanan yang ada di ransel tidak cukup banyak, kita harus mengatur strategi agar terhindar dari kelaparan.Makanlah sedikit demi sedikit dengan tempo yang pelan agar perut lebih terasa kenyang walaupun belum banyak makan.Hindari makan lagi sebelum kita benar-benar merasa lapar.Minum air putih sebanyak mungkin untuk mengganjal perut sehingga makanan bisa lebih dihemat.


Demi bertahan hidup, kita juga perlu mencari bahan makanan lain yang ada di alam di sekitar kita sebagai jaga-jaga seandainya bekal makanan sudah terlanjur habis namun bantuan masih belum datang. Perhatikan tumbuhan dan pohon di sekeliling, apakah ada buah atau dedaunan yang sekiranya cukup aman untuk dikonsumsi.Jika ada sungai atau danau, mungkin kita bisa memancing beberapa ekor ikan setiap kali merasa lapar.Namun, berhati-hatilah dengan jenis ikan yang bisa beracun jika dimakan.
 
4. Usir Kesepian dengan Kesibukan
 
Sangatlah wajar jika berada seorang diri di tengah belantara alam liar akan membuat kita merasa kesepian. Semakin lama kita tersesat, rasa kesepian biasanya akan semakin meningkat.Kesepian akan membuat kita lebih mudah merasa lelah dan putus asa. Kesepian juga dapat menumbuhkan rasa takut dan paranoid. Akibatnya, kita akan semakin kekurangan semangat untuk terus berusaha bertahan hidup.
 
Jangan pasrah terhadap keadaan dengan memelihara rasa kesepian tersebut. Sebaliknya, kita justru harus berusaha keras menjauhkan diri dari perasaan tersebut. Cara paling efektif untuk mengusir kesepian adalah dengan menyibukkan diri.Jika kita sibuk, pikiran kita tidak akan melantur kemana-mana sehingga berbagai pikiran buruk akan jauh.


 
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyibukkan diri sembari menunggu bantuan datang. Antara lain, kita bisa berburu makanan, menjerang air, membuat api unggun, olahraga ringan, atau menyusun tempat yang nyaman untuk tidur. Jika merasa lelah dengan kesibukan, kita bisa tidur.Tidak masalah jika kita menghabiskan banyak waktu untuk tidur siang karena itu masih lebih baik daripada duduk diam sembari melamun atau memaksakan diri untuk terus beraktivitas.
  
Tersesat di tengah alam belantara adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Berbagai upaya tentu akan kita lakukan agar terhindar dari ancaman yang satu ini. Akan tetapi, sebagai seorang petualang, kita harus menyadari bahwa kemungkinan kita tersesat akan tetap ada sehingga kita juga harus mempersiapkan diri sejak sebelum mulai menjelajah alam. Persiapan tersebut bukan saja dari perbekalan, namun juga berupa persiapan mental yang kuat.Dengan mempelajari strategi di atas, mungkin ilmu ini bisa kita jadikan bekal sebagai antisipasi jika kita tersesat di tengah hutan suatu saat nanti.

 


Sumber : jalan2.com

"Papandayan's Blind Trekking"


Wow! Apa itu Papandayan Blind Trekking?
Papandayan Blind Trekking adalah kegiatan mendaki gunung bersama teman-teman tunanetra



Fency Community proudly present :

Pendakian Bersama Tunanetra & Relawan, Gunung Papandayan - Garut
30 April - 2 Mei 2015

IDR 300.000 (Relawan)
IDR 200.000 (Tunanetra)

Fasilitas :
- Simaksi + Asuransi
- T-shirt
- Transport PP
- Doorprize 
- Makan 1x

*Pendaftaran paling lambat tanggal 12 April 2015
*Technical Meeting: Minggu, 12 April 2015 - Monas (Kandang Rusa)
*Meeting Point: Monas (Parkir IRTI) jam 20:00 WIB

Transfer :
Bank BCA 4910315795
a/n Sri supri hartini

Contact Pendaftaran:
- 085692415164 (Hikmah)

Disini keluarga baru itu lahir



Entah apa yang terlintas dalam benakku waktu itu yang begitu 'nekat' memulai perjalanan ini, kenapa nekat.??? aku melakukan perjalanan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, bersama para pecinta Qur'an, bersama para murabbi & murabbiah, bersama para pejuang penegak dienNya, perjalanan yang memberi banyak pelajaran dalam hidupku dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidup, perjalanan penuh musahabah, perjalanan atas dasar ukhuwah islamiyah.

Sementara disisi lain...
aku, yang masih sendiri,...sendiri dalam keramaian, keramaian dalam keheningan, keheningan yang (mungkin) sunyi, *katanya. ahhh sudahlah kalian tak akan mengerti apa yang aku maksud.

Dalam benak aku berfikir, jangan-jangan aku berbaur dengan mereka hanya memusakan diriku saja, setelah kegiatan selesai maka selesai pula lah 'persaudaraan' itu.  aku menuruti perkataan ini, yang mungkin masih nafsu atau emosi yang berbicara, lalu kembali berfikir, apakah berkumpulnya dengan mereka bisa mengubahmu? yang notabene saat sudah terlalu jauh melangkah dalam kegelapan, kembali hati dan nafsu (emosi) berperang dalam fikiranku, kupalingkan diriku dengan melihat senyum satu persatu diantara mereka, pak Kun sebagai orang yang aku tua-kan berkata dengan bijak seakan-akan berhati-hati sekali ketika mau mengungkapkan petuah, dan ciri khas dengan senyumnya yang santun, lalu kupandangi senyum yang lain lagi kang erlan yang keluar apa adanya tatkala berbicara namun sepertiya disini aku melihat ada guratan 'beban' dalam hidupnya, ah mungkin masalah kerjaan gumamku, semuanya aku perhatikan satu persatu dalam ruangan VIP Class 'Bakoel Sangu' dengan segelas es jeruk. seteguk perlahan aku minum, seteguk pula rasa syukurku bertambah.


Pernah terlintas dalam benakku bahwasanya apa yang sudah kamu lalui dengan hal yang semacam ini maka akan dengan mudahnya juga melupakan hal yang sudah dilalui bersama. namun ternyata disini aku tidak menemukan hal semacam itu, apa yang sudah sering aku temui semacam ini sangat berbeda dengan hal yang sebelumnya. dan sampai sekarang aku masih terus belajar dari mereka yang benar-benar bejalan dijalanNya.

aku yang masih menikmati dalam 'kepura-puraan' belum tersadar bahwa merekalah yang membangunkanku selama ini,

ya mereka, dan inilah keluarga baruku...

Pembahasan kitab Annashohih Dinniyah

Majelis Ta'lim Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang


HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN berkata:

“Sayyidina Yahya bin Mahin, seorang riwahi Bukhari juga, guru dari Al-Imam Bukhari. Beliau menulis dengan tangan Beliau lebih dari Dua juta Haditsnya Nabi besar Muhammad SAW.

Hingga ketika beliau wafat, sayyidina Yahya bin Mahin itu beliau wafat pada musim haji.

Kebiasaan beliau dari negerinya kalau mau pergi haji nggak pergi ke lewat Mekah dulu tapi datang ke Madinah dulu ziarah ke makam Rasulullah SAW dan baru melaksanakan ibadah haji. Tiap tahun begitu.

Hingga suatu kali waktu beliau sampai ke Madinah untuk menlaksanakan ibadah haji beliau sakit hingga akhirnya meninggal dunia di kota Madinahnya Rasulullah SAW

Ketika terdengar wafat Beliau, itu keluarga Nabi Muhammad SAW, Bani Hasyim ingin membalas jasa dari Al-Imam Yahya bin Mahin yang menulis lebih dari Dua juta Hadistnya Nabi Muhammad SAW.

Hingga dikeluarkan oleh keluarganya Rasulullah Ranjang yang dahulu digunakan untuk memandikan Nabi Muhammad SAW, untuk dimandikan di tempat yang sama Sayyidina Yahya bin Mahin atas jasa beliau menulis hadist lebih dari Dua juta hadistnya Rasulullah SAW. 

Kunci Husnul Khotimah





Untuk bisa memperoleh husnul khotimah, ini memang utamanya adalah istiqomah, konsisten dalam melakukan kebaikan. Istiqomah yang kemarin sudah saya sampaikan, Kalau kita beristiqomah, syetan akan putus asa untuk menggoda.
Karena manusia terbagi dalam tiga kelompok, kelompok yang dibiarkan dia berlaku jelek dan jahat, kelompok yang selalu digoda, dan kelompok yang syetan itu berputus asa.
Siapa kelompok yang syetan itu berputus asa ? adalah kelompok-kelompok yang istiqomah. Sehingga orang orang yang istiqomah itu pulalah, yang nantinya, pada saat nyawanya dicabut, Malaikat akan menyampaikan berita gembira
أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا
Kamu ndak usah takut apa yang akan kamu hadapi nanti, baik di alam barzakh atau alam akhirat, kamu ndak usah sedih apa yang akan kamu tinggalkan,
Sebab apa ? kamu selama di dunia istiqomah. Kata malaikat-malaikat yang membisiki
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
Kami adalah pendamping kalian, kekasih kalian baik di dunia atau di akhirat.
Dihadapan kalian sudah tersedia, jerih payah kalian di dunia. Istiqomah kalian di dunia, Allah Swt telah mempersiapkan hidangan buat kalian, yaitu nikmatul qabri dan nikmatul akhirah. Telah tersedia hidangan dari Allah swt
Lalu kalau dia berpikir , bagaimana anak cucuku, dah anak cucu kalian itu malaikatlah yang akan nanti akan menjadi penggantinya, dan akan menjadi pendampinya, kata malaikat
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ
Kenapa harus takut, wong kalian mau menerima suguhan, bidadari sudah siap menerima kalian, tempat yang indah sudah disiapkan untuk kalian, sudah jangan takut takut. Ini malaikat nanti akan membisiki kepada orang orang yang istiqomah
Yakni    الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Orang-orang yang benar benar bartauhid, menggatakan rabbunallah, (pengeranku ora ono liyo kejobo gusti Allah), namun setelah rabbunallah, tsummas taqamu. dia konsukesn , tetap pada rabbunallah dimana saja dan kapan berada.



Keutamaan Puasa di Awal Dzulhijjah

Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.  Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.
Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]
Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”[3]
Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.
Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk melakukan amalan puasa tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

sumber: muslim.or.id

10 Malam Terakhir Ramadhan dan Keajaibannya


Ramadhan memang bulan istimewa. Bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban”. Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga ramadhan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial. Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya. Wajar kalau Rasulullah saw., para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa menjadikan ramadhan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala dengan semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah. Apalagi pada 10 malam terakhir, Rasulullah saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».
Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)
Keajaiban-keajaiban yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya, pertama; terjadinya lailatul qadr yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:
 « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)
Kedua; orang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. “Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)
Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:
“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)
Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, lailatul qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar  keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa lailatul qadr.
Keempat: Allah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadr itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.
Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah swt. karena berbagai ayat tersebut tentu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kemahahebatan dan keagungan-Nya. Dan bahwa Allah swt. sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya sehingga Dia sediakan satu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang utama yang bisa dijadikan kesempatan oleh hamba-hamba-Nya untuk menambah pundi-pundi pahala untuk bekal hidup kelak di akhirat.
Menggapai Keajaiban
Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:
  1. I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ   العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »
Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ.
Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji” (HR. An-Nasai)
  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي »
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)
  1. Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Meraih Cinta Allah
Segala amal nafilah atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah swt. dengan itu kita akan mendapatkan cinta-Nya. Cinta Allah kepada seorang hamba adalah anugrah yang tidak terhingga. Karena ia akan menjadi orang yang paling diperhatikan Allah. Ia pun akan senantiasa diliputi kasih dan sayang-Nya yang akan mendatangkan kepada kebahagiaan yang tiada bandingannya. Allah akan selalu membimbing setiap langkahnya sehingga ia tidak akan terpeleset ke jurang kenistaan. Seluruh tubuhnya akan terjaga, karena Allah akan mengendalikannya. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah swt. berfirman:

« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا ، وَإنْ سَأَلَني أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ »
Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia melangkah dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan memberi perlindungan kepadanya. (HR. Bukhori)
Jika kita sudah tahu kehebatan sepuluh malam terakhir dan keutamaan yang ada di dalamnya maka apalagi yang membuat kita tidak tergerak untuk  bersungguh-sungguh mendapatkannya? Masihkah kebiasaan berdesak-desakan di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan akan terus kita lakukan? Padahal ada kegiatan yang seharusnya diprioritaskan dari hanya sekedar mempersiapkan hari raya dengan pakaian yang serba baru dan makanan yang beraneka ragam. Sementara ladang pahala yang lewat di hadapan kita dibiarkan berlalu tanpa perhatian. Mungkin kesempatan ini hanya tinggal sekarang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu kembali dengan ramadhan? Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk meraih cinta-Nya. Amin.

sumber:eramuslim
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com